Kisah Seputar Bobroknya Manajemen Operasional Bank

Kemarin pagi istri saya bercerita tentang sebuah Surat Pembaca yang dilihatnya di harian Kompas beberapa waktu yang lalu. Setelah mendengar ceritanya, saya lalu teringat pengalaman pribadi saya beberapa tahun yang hampir ‘sejenis‘. Akhirnya artikel ini pun saya tulis karena saya merasa pengalaman pribadi saya dan juga cerita di surat pembaca tersebut bisa menjadi bahan ‘pelajaran’ bagi teman-teman pembaca.

Pertama-tama, mari kita lihat pengalaman pengalaman pribadi saya terlebih dahulu.

—–oOo—–

Teman-teman pembaca yang rajin mengikuti blog ini, mungkin ingat bahwa saya selalu menekankan pentingnya untuk mempunyai dana darurat yang harus ditempatkan dalam bentuk yang sangat likuid, yaitu tabungan dan deposito (bisa juga obligasi jangka pendek). Dalam kasus saya, sebagian dari dana darurat yang saya miliki, saya tempatkan di tabungan di Bank Mandiri. Karena memang dana darurat itu tidak boleh ‘disentuh‘ kecuali jika ada keperluan darurat, maka tabungan tersebut memang tidak aktif alias jarang ada transaksi. Rekeningnya pun  jarang sekali saya periksa (setahun mungkin cuma 1-2 kali).

Seperti saya katakan di awal artikel, kejadian ini terjadi beberapa tahun lalu. Suatu hari, saya meminta seorang anak buah saya membawa buku tabungan rekening tersebut untuk dicetak. Seusai dicetak, ketika memeriksa buku tabungan tersebut, saya lalu menemukan keanehan. Ternyata di rekening saya yang seharusnya tidak aktif tersebut, malah timbul beberapa transaksi keluar masuk, dan saldo akhirnya jauh berkurang dari yang seharusnya.

Saya pun langsung berangkat ke cabang Mandiri yang bersangkutan untuk meminta penjelasan. Setelah diusut, ternyata salah satu karyawati bagian Kasir merupakan biang keladinya. Karena ia tahu bahwa rekening saya tersebut tidak aktif, maka ia pun lalu menarik dana saya dan digunakan untuk keperluan pribadinya. Sepertinya dalam kasus saya tersebut, manajemen operasional bank tersebut tidak baik, sehingga bisa terjadi penarikan dana nasabah (saya) tanpa otorisasi.

—–oOo—–

Ironisnya, kisah horor yang menimpa saya ini tidak berakhir di sana.

Meskipun ini sudah jelas merupakan kasus kesalahan internal Bank, oleh pihak Bank Mandiri, kasus ini justru dilempar kepada saya dan karyawati Bank tersebut. Bank Mandiri pada awalnya ingin ‘cuci tangan‘ dan meminta saya untuk meminta pertanggung-jawaban dari karyawati tersebut. Singkat kata, saya diminta untuk menagih sendiri uang saya yang hilang itu dari yang bersangkutan.

Tentunya saya menolak mentah-mentah urusan konyol itu, karena berbagai alasan:

Alasan pertama dan paling utama adalah bahwa karena saya ‘menitipkan‘ (menabung) uang saya kepada Bank Mandiri dan bukan kepada karyawati tersebut. Produk tabungan tersebut adalah produk Bank Mandiri dan bukan ‘Bank Karyawati’.Jika Bank sampai kehilangan uang saya, tentunya Bank yang harus bertanggung jawab kepada saya.

Alasan kedua, adalah karena uang yang hilang jumlahnya jauh lebih besar daripada gaji karyawati tersebut sehingga akan membutuhkan waktu yang sangat lama bagi karyawati tersebut untuk mengembalikan dana saya.

Saya pun dengan keras meminta pertanggung-jawaban dari Bank. Permintaan saya hanyalah bahwa uang saya dikembalikan utuh dengan memperhitungkan juga  selisih bunga yang hilang selama dana saya disalahgunakan. Saya tidak tertarik untuk menuntut secara hukum karyawati yang bersangkutan, karena itu seharusnya menjadi keputusan Bank  apakah ingin memperkarakan karyawati tersebut atau tidak.

Di belakang cerita ini sendiri, ada sebuah kisah yang agak ‘lucu‘. Karena ia sepertinya tidak menemukan jalan keluar untuk mempertanggung-jawabkan dana tersebut, si karyawati yang bersangkutan malah menelpon ayah saya, karena ayah saya merupakan nasabah lama di bank tersebut. Di kontak telpon itu, ia mengutarakan niatnya untuk meminjam uang dari ayah saya dengan jaminan rumah. Jika dikabulkan, uang pinjaman tersebut akan dipakai untuk mengembalikan dana ke saya.

Ketika ayah saya menceritakan hal ini, saya langsung melarang ayah saya untuk mengabulkan permintaannya tersebut. Ini karena jika dikabulkan, Bank Mandiri benar-benar bisa ‘cuci tangan‘ dan kasus ini malah benar akan menjadi kasus pribadi antara keluarga saya dengan karyawati tersebut.

Kekisruhan ini berlangsung selama beberapa bulan, sebelum akhirnya saya bisa menerima kembali dana di tabungan saya tersebut. Saya pribadi tidak tahu (dan juga tidak tertarik untuk tahu) bagaimana Bank Mandiri menyelesaikan masalah tersebut. Sampai kini, saya masih menyimpan buku tabungan tersebut sebagai ‘kenang-kenangan‘.

—–oOo—–

Lain kisah saya, lain lagi kisah yang dibaca oleh istri saya di surat pembaca (Redaksi Yth) di harian Kompas 12 Februari 2008.

Dalam surat pembaca tersebut, saudara Irving Hutagalung menuliskan pengalaman ‘mimpi buruknya‘ dengan bank Danamon. Pada bulan November 2008, saudara Irving tersebut menerima kiriman rekening koran dari Bank Danamon, padahal ia tidak memiliki rekening apapun di Bank Tersebut.

Merasa aneh, saudara Irving lalu menghubungi Call Center Bank Danamon. Dari sana ia ‘dioper‘ ke Bank Danamon cabang Radio Dalam. Setelah mengecek langsung ke cabang tersebut, ternyata rekening tersebut dibuka atas instruksi dari bagian Kartu Kredit di Bank Danamon Pecenongan, Jakarta. Saudara Irving dan staf Danamon Radio Dalam pun bersama-sama menuju ke cabang Pecenongan tersebut.

Sesampainya di Danamon cabang Pecenongan, ternyata ditemukan orang yang bertanggung jawab atas pembukaan rekening tersebut (berinisal A?) dari bagian Sales. Yang bersangkutan (A?) membuka rekening kartu kredit dan Kredit Tanpa Agunan (KTA) menggunakan data pribadi saudara Irving, dan lalu menggunakannya untuk keperluan pribadinya. (Ini lazimnya dikenal sebagai kasus Identity Theft).

Mirip dengan yang terjadi di kasus saya, Saudara Irving, dalam surat pembaca tersebut bercerita bahwa pada awalnya pihak Bank Danamon melempar masalah ini kepada pelaku (saudara A), dan saudara Irving diarahkan untuk meminta pertanggung-jawaban dari yang bersangkutan. Saudara Irving menolak karena ini merupakan permasalahan internal Bank Danamon. Kesan yang saya dapatkan dari surat pembaca itu, (dan juga mengingat pengalaman pribadi saya di atas) bukan tidak mungkin malah saudara Irving yang diminta menagih uang kepada saudara A.

Sayangnya di surat pembaca tersebut, tidak jelas bagaimana akhir dari kasus ini.

PS: Kebetulan saya berhasil menemukan nama Irving Hutagalung di internet (mudah-mudahan tidak salah orang). Saya telah mencoba mengkontak saudara Irving tersebut untuk meminta detil kisahnya. Tetapi sayangnya sampai sekarang belum ada respon dari yang bersangkutan.

—–oOo—–

Sebagian pembaca blog mungkin juga telah mendengar tentang kisah 2 kali bobolnya Safety Box (Kotak Aman) di BII cabang Thamrin. Dua orang penyewa safety box di bank tersebut mengklaim telah kehilangan barang berharganya yang dititipkan di sana. Kasus ini sendiri belum jelas bagaimana akhirnya, dan kemungkinan memang akan sulit diusut. Ini karena memang dalam menyewakan safety box, Bank tidak bisa mengetahui apa saja yang dimasukkan oleh si penyewa ke dalam safety box. Akibatnya kasus ini akan menjadi kasus ‘Ucapan saya VS Ucapan Kamu‘. Meskipun demikian, mengingat kasus yang sama terjadi sampai 2 kali di cabang yang sama, tentunya tidak aneh jika sebagian dari kita mempertanyakan apakah ini  kasus ini bukan terjadi karena kekacauan manajemen operasional bank.

Jadi kira-kira pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah-kisah di atas?

Kisah-kisah yang kita lihat hari ini, memang sarat dengan hal-hal yang di luar kendali kita. Tetapi tentunya ini bukan berarti kita lalu tinggal diam saja. Saya pribadi melihat ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan:

  • Tetaplah rajin memeriksa rekening tabungan anda meskipun tabungan tersebut tidak aktif. Dalam kasus pengalaman saya, jika seandainya saya rajin memeriksa rekening tabungan tersebut (buku selalu rutin diprint setiap bulan), maka mungkin si kasir bank tersebut tidak akan berani mengotak-ngatik dana di tabungan saya karena akan cepat ketahuan.
  • Jagalah data pribadi anda baik-baik. Hindari memberikan data pribadi dan copy KTP kita kepada orang lain, kecuali memang sangat diperlukan. Seperti kita tahu, kerap kali kita ditawarkan kartu kredit dengan iming-iming ‘Cuma perlu KTP saja pak‘. Kadang-kala mereka pun menawarkan souvenir kecil seperti boneka kecil ataupun pen, sehingga tidak sedikit di antara kita yang berpikir ‘lumayan, cuma dengan modal KTP bisa dapat hadiah gratis‘. Data dan copy KTP yang kita berikan itu, terkadang tidak ‘dijaga’ dengan baik dan rentan untuk dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
  • Jika anda menyewa safety box (kotak aman), ada baiknya kita membuat sebuah catatan yang berisi daftar-daftar barang yang kita masukkan ke sana. Perbaharui catatan tersebut setiap kali kita memasukkan ataupun mengeluarkan barang di safety box. Selain itu periksalah isi safetybox tersebut secara rutin. Ini memang tidak bisa mencegah ‘kasus aneh pembobolan safety box’ seperti yang kita baca tersebut. Tetapi minimal dengan cara ini, kita bisa menginventarisasi barang kita sehingga jika ada yang barang yang hilang dari safetybox tersebut, kita bisa menyadarinya dengan lebih cepat. Ini juga untuk mencegah kita ‘lupa‘ dan mengira barang kita lenyap dari safety box, meskipun sebenarnya barang tersebut memang tidak kita masukkan ke sana.

…..

Apakah teman-teman punya kisah-kisah serupa  tentang kacaunya manajemen operasional bank  yang dialami langsung oleh diri sendiri, keluarga ataupun temannya? Mungkin teman-teman pembaca blog bisa berbagi cerita tersebut di bagian komentar artikel ini.

About these ads

46 Comments

Filed under Saya suka cerita Ekonomi

46 responses to “Kisah Seputar Bobroknya Manajemen Operasional Bank

  1. adit

    Wah, kebetulan saya di bank syari’ah yang berdiri di tahun 1992…Terjadi juga gak ya?
    Saya ada pengalaman, suatu hari istri dan saya menghubungi call centre bank syariah 1992 tersebut. Untuk mengecek saldo rekening, sekitar Juni 2008 kmrn.
    Apa yang terjadi? Pada saat kami menghubungi call centre, dan diterima seorang customer service, ditengah-tengah pembicaraan telpon kami, terdengar suara beberapa petugas call centre sedang bergurau (mungkin 2-3 orang wanita), di belakang CS yg melayani. Hal ini jelas sangat mengganggu privasi dan kenyamanan kami. Dan sangat mungkin, pembicaraan kami akan didengar oleh petugas call centre lain. Seharusnya call centre harus bersih dari suara-suara bising karyawan, dan ini menunjukkan profesionalitas dan kredibilitas bank tersebut.
    Pernah juga saat kami mengajukan pinjaman untuk pembelian rumah, kami menghubungi bank tersebut, yaitu kantor pusat, dan 2 kantor cabang. Dan kami mendapat 3 versi penjelasan berbeda, 1 penjelasan bisa menerima pinjaman kami dan 2 penjelasan menolak peminjaman kami.
    Akhirnya kami batalkan.

  2. kenapa ya hal ini bisa terjadi? padahal kunci sukses dari bank adalah kepercayaan.

  3. antialias

    waduh terima kasih banyak atas peringatannya Pak Edison .. kebetulan Bapak saya ada beberapa rekening dormant di beberapa Bank karena dulunya berpikir supaya tidak kena ongkos untuk Kliring …

    kalau sudah direkap semua transaksinya apakah bisa diulur lagi detil dari tiap transaksi itu?

    berarti untuk sementara lebih aman di deposito ya pak? karena tidak akan ada transaksi keluar masuk? apalagi yang bisa Roll over beserta bunganya?

  4. Maududi

    Salam kenal Bung Edison,

    Maaf penasaran saja, dalam kasus Anda, bagaimana bisa kasir melakukan penarikan, apakah dg pemalsuan tanda tangan, atau otorisasi lain atau bagaimana? Maaf bukan berniat mengungkit2.. hanya ingin mengambil pelajaran saja dari kasus Bung Edison.

    Salam,
    Dudi

    • Tidak ada pemalsuan tanda tangan. Jika tanda-tangan saya dipalsukan, pasti saya akan dikasih lihat tanda tangan palsu tersebut utk ‘dicross-check’.

      Saya juga tidak ada ‘menitipkan’ form-form yg sudah ditandatangan…

      Dugaan saya, (ini cuma dugaan), sepertinya ada kelemahan dalam sistem ataupun prosedur kerja mereka, sehingga memungkinkan kasir tersebut menarik uang tanpa otorisasi supervisornya.. Ini karena oknum yg terlibat hanya si kasir dan tidak sampai menyeret atasannya… (akhirnya yg diberhentikan hanya si kasir)

      • henripoer

        kalau kejadiannya seperti itu dan kenyataannya memang benar dilakukan sikasir(telah diakuinya) berarti dugaan bro edison ada benarnya kalau managemen & sistemnya bank tsb masih lemah. kenapa? pertama, karena setahu saya untuk pengambilan di teller(bukan di atm) tentunya harus memasukkan no rekg. tab yg 13 digit itu, terus dilanjutkan dengan menggesekkan kartu ATM. nah karena menimpa bro edison nampaknya bukan asal random aja ambil rekg yang tidur bukankah 13 digit itu lumayan susah untuk mengingatnya trus koq sampe mau pinjam uang ke bapak bro edison yg juga nasabah bank tsb. wah wah wah sepertinya suatu kebetulan yang apes2 untung nih…
        kedua, kesalahan manajemen bank menempatkan orang kreatif pada titik yang rawan pencurian.
        wah saya jadi prihatin juga nih mengingat saya juga nasabah bank itu, mudah2an sekarang dan kedepannya udah ada perbaikan yang lebih bagus … kalau tidak….. wah terus mau percaya kemana lagi (dua contoh bank yg berbeda)

        Tentang kasus Identity Theft ini sangat mengkhawatirkan juga nih ….. walah kalau sudah begini mau sembunyi dimana kita, dibawah meja……hehehe

        salam,
        henri

      • 2easy4bee

        kalo menurut saya, pendebitan/penarikan rek seperti yg bro edison alami memang berkaitan erat dengan prosedur (SOP) & sistem di bank tersebut.

        Mengenai terpilihnya rek bro edison oleh karyawati tersebut ada beberapa kemungkinan, yang pasti dia sengaja memilih rekening tidak aktif (mutasi debit & kredit) dgn cara :
        1. tidak sengaja mendapatkan rekening tidak aktif (kebetulan a/n bro Edison)
        2. Sengaja dengan menggunakan fasilitas search by name (tergantung SOP). utk beberapa bank memberikan otoritas penuh kepada staffnya, sebagian bank laennya hanya memberikan otoritas tsb pada staff Level tertentu (SPV/AM)

        Utk SOP & prosedurnya sendiri menurut saya ada kelemahan. karena harusnya utk rekening yang tidak aktif selama beberapa bulan (bisa 6/12 bulan, tergantung SOP bank tsb) harus-nya status rek tsb berubah menjadi tidak aktif (tdk bisa terjadi pendebitan baik melalui ATM & internetbanking) Sedangkan utk pendebitan di teller dimungkinkan dengan approval otoritas tertentu (SPV/AM). sepertinya bank tersebut tidak melakukan hal2 seperti itu (rekening menjadi tdk aktif/dormant ataupun prosedur otoritas). sehingga seorang teller bisa dengan mudah membobol rekening nasabah yang tidak aktif.

        Mudah2an bank tersebut belajar dari kejadian ini, bahwa sistem/SOP-nya masih menyisahkan ceLah yang dapat membuat orang tergoda utk melakukan kejahatan……

        …INGAT !!! Kejahatan terjadi bukan hanya karna ada niat dari si pelaku tapi juga karna adanya kesempatan….

        WASPADALAH….WASPADALAH !!!!

  5. san

    Iya bung Edison… Ko bisa sih petugas bank punya otoritas gitu? Apa dulunya anda pernah titip form-form yang dilengkapi tanda tangan gitu? Jadi takut nih karena banyak titip form redemption euy!

    Eh.. harian Kompas yang dimaksud terbitan yang kapan yah? Jadi pengen liat beritanya..!

    Kalo pengalaman pribadi sih, kayaknya ga punya. Tapi ada pengalaman temen. Dia ga punya kartu kredit, tapi ada bank yang nagih tagihan kartu kredit. Ternyata setelah diselidik kasusnya begini. Si A menjual rumahnya kepada si B. Kemudian si B menjualnya kembali pada temanku itu. Si A ternyata masih memiliki KTP dan KK dengan alamat rumah yang kini ditempati temanku itu. Beberapa kali pihak bank menelepon temanku dan berkali-kali juga dijelasin bahwa si A tak lagi tinggal disitu. Untungnya urusannya bisa selesai walau harus bawa B sebagai saksi sekaligus pelaku transaksi jual beli rumah.

  6. Saya juga punya pengalaman aneh dengan Bank BNI. Saya membuka rekening BNI di tempat saya berkuliah dulu di Jatinangor. saya menggunakan rekening ini untuk transaksi pembayaran Oriflame dari teman-teman saya di luar kota. pada suatu hari saya heran karena ada penarikan dana yang tidak saya lakukan yang menyebabkan saya tidak bisa membayar produk Oriflame teman-teman saya yang sudah dipesan. Jumlahnya lebih dari Rp1.500.000,-

    Ketika saya tanyakan ke BNI di Bandung. katanya itu penarikan melalui SMS BANKING padahal jelas-jelas saya tidak pernah melakukan registrasi sms banking. Untuk lebih jelasnya kata petugas bank agar saya menghubungi cabang dimana saya membuka rekening. pada saat saya datang ke cabang saya membuka rekening diterima oleh kepala cabang BNI Jatinangor.Bukan memberi solusi tapi terus menyalahkan saya, katanya apakah saya pernah memberikan atm saya pada orang lain. katanya karena ini ada pernah kejadian bahwa ada seorang ibu yang melaporkan hal ini dan ternyata anaknya yang mengambil uangnya melalui atm dengan cara mengambil atm-nya pada saat ibunya tidur siang. Ia malah menakut-nakuti saya jika saya lapor polisi malah kemungkinan diusut sampai pada orang-orang yang saya sayangi.

    Saya tidak pernah memberikan atm itu pada siapa-siapa kecuali pada asisten saya di Oriflame yang saya kenal dengan baik. Ketika saya lacak bahwa registrasi SMS Banking itu dilakukan di BIP(salah satu mal di Bandung)ternyata tidak ada kamera keamanan untuk mengawasi atm tersebut sehingga saya tidak punya bukti untuk melacak siapa yang sebenernya melakukan registrasi SMS Banking tersebut. Sehingga saya bingung, tidak ada kejelasan dari pihak bank untuk kasus saya. Sehingga pernah saya bermimpi buruk karena kasus tersebut. yang ada saya pasrah saja.

    Saran saya adalah seperti Bro Edison sering-seringlah memprint buku rekening anda. Jika saja saya waktu itu mencek buku rekening saya pasti kerugian saya tidak sebesar itu karena kejadiannya beberapa kali transaksi. teman saya transfer yang kemudian di transfer pelaku ke rekeningnya. Besoknya ditransfer lagi oleh teman yang berbeda kemudian ditransfer lagi oleh pelaku. Jika saya melihat keanehan ini dari sebelumnya tentu saya akan membekukan rekening saya secepatnya.

    Tampaknya hal ini bukan kejadian ke saya saja namun setau saya banyak juga dari rekening BNI yang tabungan mahasiswa-nya disana yang kebobolan. Berarti ini bukan masalah saya saja namun dari pihak manajemen BNI cabang yang bersangkutan yang bermasalah karena saya menduga ada orang dalam yang mengetahui data-data nasabah mahasiswa yang mengakali untuk kepentingannya sendiri. Panjang ya. Jadi CURHAT karena kesal

    • konobe

      itulah BNI… kakak saya pernah cerita, BNI termasuk salah satu Bank yang sistemnya parah. Sering kejadian salah transfer. Temannya ada yang tiba2 terima transfer ntah darimana. Ada juga yang kejadiannya kebalikannya (uangnya ilang). Tapi itu dulu banget, ga tau kalau sekarang ya… mungkin sudah berubah.

      btw, menurut saya sendiri, salah satu tindakan preventif lain adalah mengaktifkan menu e-banking / m-banking / sms-banking. Jadi ga perlu bolak-balik print transaksi tiap bulan :D

    • 2easy4bee

      @ Felicia Wiwih

      kejadiannya seperti apa ?? apakah pendebitan tersebut berupa transfer ke rekening pihak laen ?? jika memang seperti itu menurut saya kejadian tsb kecil kemungkinannya dilakukan oleh staff bank, kecuali jika sistem sms banking bank tsb masih bersifat manual. bersifat manual dalam arti instruksi sms diterima oleh sistem bank, namun diproses secara manual oleh staffnya, tapi jika sistemnya dah otomatis kecil kemungkinan penyelewengan dilakukan oleh staff.

      Nah…kalo mang bisa dipastikan sistemnya (biasanya pihak bank ga akan kasih tau, jadi kemungkinannya harus tanya ma teman ato relasi yg kerja di bank tsb, itu juga kalo dia mo bantu….code of conduct) kita bisa coba telusuri lagi, apa feli pernah daftar sms banking ?? saya tdk familiar dgn sistem bank tsb tapi logikanya sms banking tsb harusnya terdaftar atas 1 no HP…mungkin bisa ditelusuri dari no ini (cek di phonebook feli. ato ditelusuri pendebitan tsb ditujukan kemana ?? pihak bank tsb berkewajiban memberi tahu, karna itu rek feli yang didebit, selanjutnya minta blokir rek tsb, bisa melalui call centre bank bersangkutan. biasanya (tergantung SOP) bank mao terima pemblokiran dengan surat pernyataan feli, 1 x 24 setelah pemblokiran feli tidak kirim surat pernyataan rek akan diunblock. setelah itu usut tuntas dengan polisi….

      Tapi memang prosesnya akan menjadi sangat panjang….tapi kan kalo ketemu ada kepuasan tersendiri..

      saLam

  7. Rocky

    Wakakakak, bank itu emang sebenarnya parasit, maling berkedok yang high-tech. Makanya saya sedang ngomporin ayah saya untuk menarik semua uangnya dari bank dan memindahkannya dalam bentuk emas. Sayangnya sampai saat ini belum berhasil.

  8. lah..kok jadi serem gini yah..soalnya dengan kenaikan dollar gini saya bermaksud mencairkan dollar untuk di tabung di bank nasional.kalo saya bisa pulangnya setahun sekali, lah kapan bisa ngeprint berkalanya?

    • @Felicia
      Saya tadinya pikir apa yang menimpa saya tersebut sudah sangat mengesalkan…tapi minimal uang saya kembali…. ternyata saya masih harus mengaku ‘kalah’ dari Felicia (uangnya tidak kembali, malah kena ‘ancam’)….

      skornya jadinya: Edison 0 – Felicia 1 :)

      (mudah-mudahan saya tidak pernah menang dalam ‘pertandingan’ seperti ini…)

      @boyin
      hahaha, padahal saya tidak bermaksud menakut-nakuti loh…. dilematis juga ya…

      Sebenarnya saya tadinya berpikir bahwa apa yg menimpa saya itu termasuk ‘unik’…. tapi akibat sharing dari teman-teman di sini, jadinya baru sadar bahwa saya bukan ‘korban’ satu-satunya…

      Mungkin jika suatu tabungan jarang ada transaksi, lebih baik ditempatkan dalam deposito saja? Kalau saya pikir, sepertinya celah utk ‘mencuri’ deposito lebih kecil dibandingkan dengan tabungan….

      • @Bro Edison baru pertama ini,saya menang tp malah sedih:’( saya sudah ikhlas kok thd kasus kehilangan uang tsb.yg pasti saya yakini anda akan menuai apa yg anda tabur.jd utk pelaku jgn harap dia bisa lolos bgitu saja.Tuhan itu maha melihat. Tapi dgn melihat tulisan bro Edison kali ini,saya jd keinget lg kejadian tsb&mau sharing jgn sampe ada yg mengalami kejadian spt saya lg. Kalo masalah rekening aktif/ga,nah kalo rekeningku aktif jg kena apalagi ga aktif.satu2nya solusi adl dgn sering2 cek rekening anda.apalagi dg kecanggihan teknologi skr,bagus jg tuh pake internet banking jd bs cek kpn aja bahkan dr rumah sendiri.

  9. jadi takut juga,kalo begitu saya mau pindah ke deposito saja biar aman. dan sering sering ngecek tabungan.tak terbayangkan ada kejadian model begini sebelumnya. terima kasih informasinya bro nikken.

  10. ruli2009

    Halo mas mau tanya sedikit nih, saya dapat email spam dari anggota tianshi isinya bla … bla … bla… intinya disuruh ke link ini dah http://www.unicircle.net , nah mohon penjelasan dari situs tersebut apa sih maksudnya, terus kategoriin bisnis ini menurut pribadi mas, trims dan mohon dibantu?

    • san

      Setelah dibuka, link ini kayaknya cuma metode Tianshi aja. Cara konvensional door to door jadi rada modern imel to imel. Sama seperti yang lain.. tentunya yang wah, yang heboh, yang rurrrr biasa lah yang dimuat. ga da tempat buat losers.

      Kalo saya pribadi punya pemikiran… sesuatu yang fantastis diperoleh dengan cara mudah??…. Imposible! Bisa aja jadi possible tapi tentunya ada kambing hitam yang harus dibeli. So… mbak.. sebelum beli teliti dulu yah…?? piss ah…!!

  11. NewCo

    sekarang-kan zaman outsource…
    bener nggak teller pun dari outsource??
    kata temen gw ada juga…

    parah deh klo bener.

  12. valensi

    @Newco, bener itu, saya pernah baca iklan ada agency cari teller,cust service utk bank (=outsource). payah memang, karena akibatnya orang front desk nggak terlalu paham aturan di bank itu. saya pernah buka tabungan, dibilang kartu atm dan pin akan dikirim ke rumah dlm waktu 2 minggu. saya nanya sms banking, dibilang no hp bisa didaftarin saat itu sama dia. Nggak taunya, kartu atm dan pin musti diambil (pantas ditunggu2 sampe 3 minggu gak nyampe); kalau mau punya fasilitas sms banking ternyata nomor hp musti daftar di atm (=pake kartu atm).kadang malah lebih update website bank daripada nanya ke cs. orang di call centre bank juga gitu. mungkin karena outsource nggak semua paham. pernah nanya gimana bayar internet lewat sms banking, dibilang ganti aja angka 0 di ‘city code’ (kode telp) dgn angka ’1′. jadi misalnya 021 diganti 121. tapi kayaknya fasilitas ini cuma berlaku utk jakarta, di luar jkt nggak bisa…kalo orang call centre itu paham ‘aturan’ mestinya sdh dikasi tau kan (‘…tapi ini cuma utk jakarta’)? pernah juga datang ke bank (kantor cabang) krn ada masalah penipuan. cust service kc itu malah tanya ke bagian legal..setau saya bag legal (apalagi kc)ngurusi kredit bukan utk ditanya hal2 yang sifatnya penipuan nasabah. kenapa nggak diarahkan ke kantor pusat mereka? Kalo ke bank apalagi ngomong sama pegawai front desk kayaknya malah musti siap2 cari second resource utk konfirmasi ulang. gara2 ‘outsourcing’.

    • konobe

      wah, komentarnya berapi-api, haha… (iseng mode :D )

      fenomena outsourcing ini lumayan menarik. Karena ada pembelaan bahwa walaupun ‘outsourcing’, mereka tetap dapat pelatihan. Dan ga jamin juga kalo mereka ga outsource pengetahuannya akan lebih menyeluruh dibanding yang outsource.

      dunno deh.. ^^

      • NewCo

        soalnya klo outsource kan belon tentu dia jadi pegawai bank tersebut..

        jadi klo teller outsource bisa aja rasa tanggung jawabnya thd banknya jadi berkurang..

      • 2easy4bee

        wahh, pada mengecilkan pihak “outsource” neh…

        mengenai pengetahuan staff2 outsource yang sebagian dianggap minim itu karna masa kerja mereka yg relatif baru (mungkin sebagian orang akan menganggap itu hanyalah aLasan) tapi bekerja itukan bisa karna terbiasa. Turnover staff outsource sangat tinggi (semua kan pengen jadi staff permanent)

        kalo bertindak jahat itu kembali pada masing2 individu, tapi memang utk outsource godaan melakukan itu kemungkinan (maap bukan maksud saya menjudge, hanya opini) tinggi. Ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal seperti rasa tanggung jawab & rasa memiliki yg kurang, merasa kecewa ato memang tergoda berbuat jahat dengan pikiran “toh gw ga seLamanya disini !!”

        Yang pasti semua staff ditraining (outsource & permanent)

        saLam

    • Salam kenal untuk pembaca setia blog janganserakah. Termasuk yg outsourcing itu bank syariah yg buka sejak tahun 1992 itu. yg lebih “unik” lagi di bank tsb, salah seorang teller pria nya rada “kemayu”. lucu juga ya, bank syariah tapi teller nya “kemayu”. menurut saya ini juga termasuk bentuk “kecil” dari ketidakberesan menggunakan sistem outsourcing. lebih heran lagi, ternyata teller tsb bertahan cukup lama :) ngga tahu kalo sekarang.

  13. valensi

    @Konobe & Newco, setau saya outsourcing itu utk ‘menghemat’: bank kan nggak perlu sediakan jenjang karir utk mereka (statusnya kan bukan pegawai bank tapi pegawai agency). jelas mereka musti dilatih tapi karena nggak bisa promosi di bank, apa ybs ini akan perform seperti pegawai bank yang bukan outsource? kalo pegawai tetap bank, kerja bagus, kondite bagus, bisa diusulkan naek pangkat. kalo pegawai outsource? kerja bagus, kondite bagus (yg menilai agency), ya gitu aja pangkatnya (paling kontrak diperpanjang). dia kerja bagus, kawan2nya kerja nggak bagus, si bank kesel sama agency, diputus kontrak antara bank-agency. ya selesailah karir ‘pegawai outsource yang brilliant’ ini (di bank itu tentunya).

    @Felicia, kalo registrasi sms banking di atm, musti punya kartu atm dan pin atm; mungkin kartu digandakan? (macam kriminalitas kartu kredit..?)

    • NewCo

      nah itu maksud gw..

    • konobe

      hhmm.. iya ya.. bisa begitu juga..

      mudah2an ga semua tenaga outsource seperti itu :D

    • Iya kayaknya bgitu,smacam organized crime gitu ya.abis aku lacak pembukaan rekening pelaku di Jakarta Barat pas ditelusurin alamat ybs.ga ada alamat tsb.alias alamatnya ga bener.trus ditelusurin uangnya yg udh ditransfer
      Ke rekening tsb,langsung ditransfer lagi ke no.rekening di Kalimantan(aku ga bs telusuri ke kalimantan).registrasi sms banking tsb di BIP(Salah satu mal terbesar diBandung)aku td-nya sgt berharap ada kamera keamanan atm disana.pas aku ke TKP(atm diBIP)aku jd lemes.tnyata waktu itu kucek ga ada kamera keamanannya.bgm aku bs tau pelaku yg telah melakukan registrasi sms banking tsb.pdh BNI kan bank besar&
      Atm-nya ada di mal besar.masa di Atm-nya ga ada kamera keamanannya ya?itu salah satu hal yg kusesali dlm kasus tsb&Membuatku kecewa thd BNI yg tdk melindungi nasabahnya.please dong kamera keamanan tuh brp duit sih?tp penting bgt!

  14. geisha

    saya jg perna mengalami hal yg “menakutkan” ini tp berhub ama reksadana (mandiri investa pasar uang beli di comm bank jaman2 beberapa taun lalu)

    saat itu sperti sodara san diatas, saya jg menitipkan form2 redeem spy cepat dan saya ga isa lalu lalang ke bank nya … sebetulnya cara ini suda saya terapkan di bank ini sejak jau sebelumnya, cuman uda beberapa kali ganti personal banker yg handel saya (di comm bank dulu setiap agent yg handel customer disebut personal banker, jadi kerasa kaya konglomerat aja ada punya personal banker hehehehe)

    kejadiannya itu pas saat di mandiri ada kasus (lupa kasusnya) dan terjadi rush besar2 an pada produk reksa itu, sehingga nab nya turun drastis, pas beberapa hari sejak saat itu (sesungguhnya saya jg ga tau kejadian turunnya nab itu sampai di beri tau oleh agent comm bank itu dan cek2 di internet) saya dapat rekening bulanan yg dikirim kerumah (waktu itu rasanya blom ada e banking utk reksa dana di comm bank)
    saya sangat kaget karena disono ditulis di reedeem smua … tp di lembar yg lain (yg jg di sertakan), di rek bank comm bank (tabungan utk menerima reedeem) ga ada dana yg masuk sama sekali … wuiw .. saya sangat deg2 an :(

    kebetulan pas saya baca report itu jum at malam or apa gitu, yang pasti besok2 nya selama 2 or 3 hari itu tgl merah, saya lgsg berusaha kontak no hp si agent … yg tidak ada yg trima, yg ga aktif dll, sampe 1 hari sebelum tgl masuk kerja saya baru berhasil menghubungi si agent, dan si agent baru kasih tau kalo dia menarik smua dana saya dengan form reedem yg saya titipkan karena terjadi rush di reksadana yg saya beli utk mencegah kerugian yg lebih dalam, terus katanya mungkin besok or lusa dana nya sudah masuk ke rekening saya di comm bank, terus terang saya sudah sangat lega, sudah ga kepikir utk nanya lain2, dan pas hari kerja saya liat beneran sudah masuk, sejak saat itu sudah ga perna main reksa dana lagi sampe beberapa bulan yg lalu main lagi karena ada kemudahan lewat ebanking, dan ada cabang comm bank baru deket tempat kerja saya (bisa suruh kurir kirimkan form reedem ke comm bank)

    maap tulisannya belepotan smua >.<”

    • Kalau saya tidak salah tangkap ceritanya… berarti agentnya melakukan redeem tanpa perintah dan juga tanpa konfirmasi dulu dong? :)

      Sebenarnya secara prosedural, main ‘titip-titip’ itu berbahaya…. :)

      • san

        Hm.. dititipin itu maksudnya kan biar memudahkan. Satu sekuritas malah cukup titip satu lembar trus kalo mo redemp tinggal telepon, sms atau email, mudah. Namun tiap bulan aku pribadi selalu cek sih UP yang tersisa, baik via online maupun laporan akunnya.

        Waktu kasus PNM Puas itu, terjadi juga redeem besar-besaran di sekuritas RDPU ku. Agentku sempet watir juga n tawarin redeem plus penjelasan gitu deh. Dia tanya mo tahan apa redeem juga. Selama ini cukup puas disana, walau dititipin n diorder via phonepun, dia selalu minta confirm tertulis via email. Dulu di commbank juga pernah ditawarin agentnya buat titip form, tapi ga yakin ah! selain waktu itu reksadana commbank lum online juga kepikiran kalo agentnya pindah atau diganti, lalu formku gimana?

        Just my litttle share

  15. sereno

    Terima kasih atas informasinya yg sangat bermanfaat, agar kita selalu waspada :)

  16. valensi

    Saya pernah baca di surat pembaca Kompas (lupa tanggalnya, tapi baru2 aja), nasabah BRI kartu atmnya dipake di Moskow. kalo nggak salah ceritanya gini: kartu atm atas nama istri, suami bekerja sbg pelaut. suatu hari saldo tabungan berkurang belasan juta dan ada kasus salah transfer (mustinya Rp500rb ‘diketik’ sama BRI Rp5jt). si suami komplain terutama mengenai raibnya uang belasan juta itu:kok bisa diambil di atm di Moskow, padahal pada tanggal transaksi si suami tidak di Moskow (kayaknya BRI mencurigai suami yang pelaut) tapi di Abu Dhabi. Surat pembaca itu ditanggapi BRI di kompas juga, kira2 gini: setelah diselidiki, transaksi di atm Moskow itu transaksi sukses dan selisih uang transfer akan dikembalikan tapi ditolak pemilik tabungan.
    Apa yang sebenarnya terjadi mungkin cuma suami istri ini aja yang tau (misal:apakah kartu atm pernah dibawa suami ke luar negeri lalu ‘dikopi’ oleh penjahat tanpa setau pemilik, dst). menurut saya, bank mustinya kasi tau nasabah waktu buka tabungan, ‘bawa kartu atm musti diperlakukan kayak bawa cash (=hati2)’.
    sebagai perbandingan, di australia, kalo bank kasi fasilitas kartu atm/debet card, nasabah dikasi buklet ‘terms and conditions’ (dibaca apa enggak itu urusan lain), tiap kali ada kasus pembobolan, modus operandi disampaikan sbg warning ke nasabah. konon ada bank yang punya fasilitas pemantauan pola transaksi nasabah. kalo ada yang nggak biasa, software bank ini langsung kasi warning ke pegawai bank, yang kemudian akan ngeblokir kartu. jadi misalnya nggak pernah ada penarikan di luar negeri, tiba2 terjadi, kartu akan di blok. memang repotnya kalo si nasabah sendiri yang tarik. bisa repot dia telpon2 bank…tapi daripada kecolongan… Setau saya di Inggris, blanja pake kartu atm (walau pake logo visa/master) musti key in pin.
    Di sini, setau saya bank kasi kartu atm kayak kasi permen, paling ditanya nama yang mau tercetak di atm nama yang gimana. modus operandi pembobolan atm (termasuk kartu kredit) nggak diinformasikan ke nasabah (mungkin takut nasabah pada out, ya) sehingga nasabah dapat info ya dari forum begini dan gosip2. Nasabah nggak dikasi tau kartu atm bisa dipake blanja tanpa pin (saya pernah baca di surat pembaca Kompas, kejadian begitu)
    Big lesson: Hati2 punya kartu atm dan/atau kartu kredit. kalao bank punya fasilitas kartu atm ‘tambahan’ (semacam secondary card:fasilitas sama, tapi nilai transaksi terbatas) baekan dipakai, karena yang dibawa2 nggak semua isi tabungan kita. TAPI…saya pernah mau bikin kartu seperti itu, bukannya dapat ‘tentram’ malah ‘kesel’. Critanya datang ke bank, ngomong ke cs, si mbak cs malah terbingung2, dan tanya ‘tau produk kayak gitu dari mana? kayaknya bank kami nggak ada fasilitas semacam itu’. saya bilang, saya tau dari website bank. dia balik tanya ‘ oya? tunggu….di internet…yang mana..’ (monitornya dibalik ke arah saya)…Akhirnya malah saya yang nunjukin ‘klik sini, klik sana, nah itu lo…’ Si Mbak cs ini mbaca, lalu teriak panggil temennya…’kamu tau nggak yang kayak gini…’ (wah saya rasanya pengen pergi aja..useless…tapi hari itu saya sopan…he-he-he..saya tunggu sampe mbak2 cs itu bilang, ‘maaf kita kayaknya nggak ada produk ‘secondary card’ yang dimaksud’… he-he-he). Bisa ditebak, mbak2 itu pegawai outsource, nggak paham bener mengenai produk bank mungkin karena trainingnya nggak sampe produk itu (?)
    Pengalaman pak Edison dan Hutagalung mungkin nggak akan terjadi kalao pegawai bank pegawai tetap, karena pegawai tetap akan mikir konsekuensi tindakan thd karir. (tentu saja pegawai tetap bank bisa juga lakukan tindak kriminal;tapi caranya biasanya lebih canggih, butuh kolaborasi dengan kolega, tradeoff antara konsekuensi ketauan dengan jmlh duit yang bisa dicuri, dst).
    Bukannya anti pegawai outsource, sebetulnya iba..yang salah bukan pegawai outsource tapi konsep outsource yang diterapkan pukul rata (asal bisa irit duit).

    • 2easy4bee

      bicara soal outsource emang dilema. dipihak bank ingin meminimalkan biaya, sementara pegawai outsource butuh kepastian dan keberlanjutan karir/pekerjaannya….konsekuensi-nya turnover tinggi. miris memang kalo membicarakan hal yg satu ini.

      btw…utk kartu ATM harusnya lebih save kalo utk pemakaian di ATM, setau saya semua trx di ATM akan dianggap valid (ga bisa diclaim dispute) jadi kalo emang reportnya dipakai dimesin ATM maka bank tidak pernah “menanggapi” kasus ini karna dianggap secure dgn validasi PIN. sejauh ini saya belom pernah tahu ada kasus penarikan ATM “dimenangkan” nasabah. berbeda dengan kartu kredit, pemakaian dimerchant bisa kita sanggah. kalo ini saya sering denger dan memang beberapa kasus nasabah dimenangkan.

      mengenai sistem yang membaca pola transaksi nasabah, sejauh yang saya ketahui baru sebatas untuk kartu kredit. Sistem itu memang ada (di Indonesia juga diterapkan). Sistem akan menolak trx yg dianggap tdk normal dengan parameter2 tertentu. saat trx terjadi mesin gesek akan menolak trx tsb (dgn respond code tertentu). ketika parameter tsb dilampau saat trx terjadi sistem akan alert dan pihak bank akan menghubungi nasabah. Saya tidak tahu apakah dibank2 tertentu sistem ini sudah diterapkan di sistem perbankan (kartu ATM)

      saLam

  17. NewCo

    kayaknya pemerintah sudah melakukan himbauan untuk mengurangi tenaga outsource di bank

  18. Kazma

    saya juga pernah mengalami hal yang “aneh” dengan buku tabungan saya. Sewaktu menabung bulan berikutnya ternyata ditabungan saya ada print dana masuk belasan juta dan hanya parkir beberapa hari, setelah itu keluar dengan nilai yang sama. Ketika saya memandang lama buku tabungan saya, kasir bank tersebut hanya berkomentar “tranksaksi yang itu jangan dilihat anggap saja tidak ada “. walaupun agak heran dengan yang terjadi, waktu itu saya senang2 saja karena dapat “uang parkir” ratusan ribu, yaitu dari bunga tabungannya.

  19. David

    MENGGUGAT PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
    Statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat. Dan nekatnya hakim bejat ini menyesatkan masyarakat konsumen Indonesia ini tentu berdasarkan asumsi bahwa masyarakat akan “trimo” terhadap putusan tersebut.
    Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan saja. Masyarakat konsumen yang sangat dirugikan mestinya mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” untuk menelanjangi kebusukan peradilan ini.
    Siapa yang akan mulai??

    David
    HP. (0274)9345675

  20. Ed

    Friends, kalo punya masalah dengan bank dan ternyata pengaduan langsung menemui jalan buntu, bisa ajukan mediasi perbankan melalui BI.

    Dasar hukumnya kuat kok, dan semua bank harus patuh pada peraturan BI ini.
    Link berikut adalah panduan resmi dari BI : http://bit.ly/MedPerb

    Intinya, laporkan dulu ke bank ybs dan minta nomor registrasi pengaduan.
    Kalo ngga ada iktikad baik dr bank (spt kasus Felicia), ajukan surat tertulis ke BI dengan tembusan ke bank ybs (jangan lupa pakai pos tercatat ya)

    Kalo perlu, tulis ke surat pembaca koran nasional, soalnya cara ini biasanya langsung bikin bank tsb lebih perhatian ke kasus Anda. :)
    Hehehe.

  21. Ikut kasih cerita nih :

    Beberapa tahun yg lalu saya pernah menyalurkan sumbangan yg diadakan oleh salah satu tv swasta di tanah air.
    kebetulan salah satu rek bank yg dipakai adalah Bank Mandiri. pada waktu ke bank kebetulan waktu itu listrik sedang mati sehingga transaksi di pending (mungkin jg karena kantor gk punya genset….aneh ya..?)
    Kemudian kasir menawarkan utk menitipkan uang itu kepadanya dan saya diberi salinan bukti transfer.
    Dua bulan kemudian iseng2 saya mencek ke daftar donatur di tv swasta tsb, dan ternyata nama dan transfer saya tidak tercantum di sana.

    Waktu itu saya percaya dg kompetensi Bank Mandiri.

  22. wah I’am nge fan’s banget sama website ini tapi postnya panjang banget sih sempai males nge bacanya. yaaa ringkasin dikit dong ceritanya

  23. ven

    Dear friends,

    Saya juga korban, dari salah satu bank Internasional sangat terkemuka di luar negeri, yang cabangnya banyak di Indonesia. (Saya tidak bisa menyebut nama banknya, karena sekarang pelaporannya sedang diproses)

    Saya tidak tahu pasti, tapi dugaan saya ada konspirasi dengan pegawai Bank… karena kesalahannya sangat fatal.

    Intinya, satu-satunya kakak yang saya miliki memalsukan tanda tangan saya untuk menarik semua rekening kami (joint account) pemberian orang tua yang sudah meninggal, untuk membayar hutang direkening pribadinya, di bank yang sama.

    Joint account tersebut ada 2:

    Yang pertama tertulis A and/OR B, yang artinya, saya tidak bisa menggugat, ketika membaca surat instruksi kakak saya (tanpa menyertakan saya) kepada Bank, agar menarik semua uang tersebut ke rekening pribadinya.

    Yang kedua tertulis A and B, yang artinya, semua instruksi harus dilakukan berdua, bukankah begitu Pak Edison???

    Anehnya, untuk joint account kedua, pegawai bank, menerima begitu saja secarik kertas intruksi, made in kakak saya, tanpa reconfirm kepada saya (bahkan tidak ada saksi/legalisir notaris disurat tersebut, pure handmade).

    Kalau begini… berarti saya juga bisa dong ke Bank Mandiri, dan membuat surat instruksi agar uang di tabungan Pak Edison, ditransfer ke rekening saya??? (maaf Pak, ini hanya permisalan).

    Keanehan lain, saya yang ditipu habis-habisan oleh kakak karena tidak memiliki document sama sekali (semua dokument di curi kakak saya dari kamar orang tua kami), berusaha meminta bukti dokument baru dari bank tersebut, tetapi selalu ditolak dan tidak diakui.

    Padahal saya sangat membutuhkan pengakuan dari Bank tersebut, karena pengacara kakak saya menantang saya, melalui surat resmi (yang masih saya simpan), bahwa account tersebut hanyalah fiktif/rekayasa saya (saya mungkin pernah bodoh tetapi saya tidak gila), bahkan dengan arogannya, mereka menantang saya, bahwa jika saya bisa membuktikannya, dengan senang hati mereka akan membaginya dengan saya.

    Ironis, saya sudah membawa segebok passport saya, orang tua saya dan berbagai macam kartu tanda pengenal kami (karena pada awalnya itu adalah tabungan orang tua kami, yang dialihkan namanya kepada kami, sejak mereka meninggal), tetapi tetap ditolak dan tidak diakui.

    Coba bayangkan dari tahun 2005-2010, saya mondar mandir Indonesia-….. didampingi 3 lawyers asing bergantian… tetapi hasilnya nihil.
    Akhirnya (Saudara Ed benar), setelah mendapat informasi dari kepolisian negara tersebut, saya melapor ke lembaga… (sejenis BI di Indonesia), dan akhirnya hari ini (hanya dalam tempo 1 bulan), saya bisa mendapat pengakuan dan bukti-bukti dokument bahwa benar saya memiliki joint account di Bank tersebut, beserta secarik kertas dengan tanda tangan palsu tersebut, bahwa saya setuju mentransfer semua uang kami ke rekening pribadi kakak saya.

    Saat ini saya sedang berusaha meminta pertanggung jawaban Bank itu melalui lembaga sejenis BI tersebut, kok bisa Bank sebesar itu, begitu mudahnya dibobol kakak saya.

    Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua… bahwa percaya itu boleh… tetapi jangan percaya buta, bahkan kepada saudara kita sendiri.

    Dan satu lagi, jika ada masalah dengan Bank (dipermainkan Bank), dan anda yakin 100% anda benar… cepat hubungi BI (jika anda di Indonesia) atau cari informasi yang akurat… Bank apa yang sejenis BI di negara asing tersebut (jika anda berusuran dengan Bank asing di negara asing).

    Jika anda juga punya masukan buat saya… untuk mencari jalan keluar terbaik, saya juga sangat berterima kasih.

    Regards,
    Ven

  24. Lukman

    Saya nasabah BCA, pada tahun 2009 saya mengambil kredit pemilikan rumah di bca cab Malang, dengan Suku Bunga 12 %/tahun.
    dengan perjanjian suku bunga mengikat 1 tahun dan tahun berikutnya akan mengikuti suku bunga pasar.
    saat ini thn 2010 terjadi penurunan Suku bunga, menjadi 9 %, saat sayklarifikasikan ke BCa kenapa tdk terjadi penurunan cicilan,
    menurut pihak Bca Malang, sdri Indi. bahwa suku bunga hanya berlaku u nasabah baru, sedangkan nasabah lama yah mengikuti bunga ketentuan BCA
    WAH WAH WAH INI MAG RENTENIRR KALEE.
    saat ini saya berencana mengajukan hal ini ke kepolisian dg gugatan penipuan

  25. zi

    kisah say ga kalah lucu nya tp biarlah,,,, rejeki allah yg ngatur,, mereka yg rakus sy yakin akan mendapatkan balasan yg setimpal,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s