Bernanke, Bank Indonesia dan BI Rate

Baru-baru ini, Ben Bernanke dalam satu pidatonya memberikan “sinyal” yang ditanggapi oleh kalangan pengamat ekonomi sebagai tanda The Fed (bank sentral Amerika) akan berhenti menurunkan tingkat suku bunga Fed Rate. Dalam pidatonya itu, Bernanke juga mengungkapkan bahwa tingkat inflasi USA saat ini berada di atas target yang ditentukan. Para pengamat ekonomi sepakat bahwa ini membuka kemungkinan untuk The Fed mulai menaikkan tingkat suku bunga untuk memerangi inflasi.

Apa dampak yang akan dirasakan oleh perekonomian Indonesia seandainya perkiraan para pengamat ekonomi ini benar?

Dalam 1 tahun terakhir, nilai tukar Dollar US melemah terhadap kebanyakan mata uang. Salah satu faktor utama penyebab melemahnya Dollar US ini adalah kebijakan The Fed yang secara agresif menurunkan suku bunga dari 5,25% hingga ke 2% dalam tempo yang relatif singkat. Akibatnya dalam 1 tahun terakhir (per hari ini) Dollar US melemah hingga kurang lebih 10% terhadap Yuan Cina dan dan 14% terhadap Euro dan juga Yen . Pelemahan Dollar US ini juga ini terjadi terhadap mata uang negara negara tetangga kita seperti Ringgit Malaysia, Peso Filipina, Baht Thailand dan Dollar Singapura.

Meskipun demikian, fenomena melemahnya Dollar US ini tidak terjadi terhadap Rupiah. Nilai tukar Dollar US terhadap Rupiah relatif tidak berubah selama 2 tahun terakhir.

—–oOo—–

Meskipun dilihat dari satu sisi, kondisi di atas bisa mendorong pertumbuhan ekspor kita (akibat barang kita menjadi “murah” di luar negeri), di lain sisi ini juga mempunyai dampak yang negatif, terutama dari segi inflasi. Dalam kondisi pasar minyak bumi saat ini, di mana harga minyak melonjak drastis, negara-negara lain yang mata uangnya menguat terhadap Dollar US mendapatkan sedikit “keringanan”. Ini karena minyak bumi diperdagangkan di pasar internasional dalam mata uang Dollar US, sedangkan daya beli uang mereka terhadap dollar US menguat. Jika harga minyak bumi (dalam Dollar US) naik 15% misalnya, tetapi mata uang mereka menguat terhadap Dollar US 10%, maka bagi masyarakat negara itu, boleh dikatakan harga minyak naik secara nyata hanya 5%.

“Keringanan” ini tentunya tidak dinikmati oleh masyarakat Indonesia yang mata uangnya tidak berubah terhadap Dollar US. Beban kenaikan harga minyak bumi ini terpaksa kita tanggung secara penuh. Kondisi ini tentunya berpengaruh besar terhadap perekonomian kita. Beban anggaran subsidi pemerintah menjadi membengkak yang berujung pada kenaikan BBM kemarin.

Dalam post ini sendiri, saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat dampak lain yang akan kita rasakan. Dampak yang ingin saya bicarakan ini adalah “impor” inflasi (Imported Inflation).

Pertama-tama, perlu kita sadari bahwa jika misalkan mata uang negara A menguat 10% terhadap Dollar US, dan mata uang Rupiah tidak bergerak terhadap dollar US, maka jika kita mengimpor barang dari negara A, harga barang impor tersebut bertambah mahal 10%. Ini baru sekedar mempertimbangkan efek dari perubahan kurs.

Bagaimana jika negara A itu juga mengalami inflasi sehingga di dalam negara A itu sendiri harga barang-barang juga naik jauh? Misalkan saja negara A mengalami inflasi 10%, maka harga barang-barang di negara itu bertambah mahal 10%. Jika kita melanjutkan ilustrasi di paragraf sebelum ini, maka barang yang kita impor dari negara A akan menjadi bertambah mahal sebesar 21%. Nilai ini didapat dari (110%x110%)-100%.

Ilustrasi di atas bukanlah sekedar suatu contoh, tetapi pada saat ini telah terjadi. Berbagai negara di dunia secara umum pada saat ini mengalami inflasi yang tinggi. Cina saat ini misalnya, mengalami inflasi yang tertinggi dalam 12 tahun. Kawasan Eropa juga mengalami permasalahan dengan inflasi. Dikombinasi dengan menguatnya mata uang mereka terhadap Dollar US, di saat Rupiah justru tidak berubah, maka kita merasakan efek kenaikan harga yang besar ketika kita mengimpor barang dari negara itu.

—–oOo—–

Kembali lagi ke Ben Bernanke…

Jika perkiraan para pengamat ekonomi benar terjadi (The Fed akan mulai menaikkan suku bunga), maka ada kemungkinan yang cukup besar bahwa Dollar Amerika akan menguat. Di sini saya menulis “kemungkinan“, karena banyak hal lain yang mempengaruhi nilai tukar uang. Meskipun demikian, secara umum  kenaikan suku bunga biasanya akan memperkuat mata uang negara itu.

Perlu kita ingat adalah di saat Dollar US melemah terhadap mata uang lain, nilai tukarnya terhadap Rupiah tidak berubah. Bagaimana jika seandainya Dollar US menguat? Tentunya kemungkinan besar Rupiah akan melemah terhadap Dollar US. Untuk menghindari ini, mau tidak mau Bank Indonesia kemungkinan besar akan terpaksa “menopang” mata uang Rupiah dengan cara “menyedot” Rupiah dari perekonomian. Jalan yang bisa ditempuh oleh BI dalam hal ini adalah dengan menaikkan tingkat suku bunga, merubah tingkat reserve requirement, melakukan operasi pasar terbuka, ataupun kombinasi dari ketiga alternatif ini.

Tentunya “menyedot” uang dari perekonomian akan menimbulkan efek samping. Uang akan menjadi “langka” dan “mahal”, akibatnya pertumbuhan ekonomi akan melambat. Tingkat pengangguran pun akan cenderung bertambah (tadi pagi saya lihat di berita, tingkat pengangguran Indonesia 9,1%, tertinggi di ASEAN).

Melihat kondisi BI ini, saya jadi teringat sebuah film komedi berjudul “Maju Kena Mundur Kena” (dibintangi Dono-Kasino-Indro). Judul film tersebut saya rasa amat cocok menggambarkan dilema yang dihadapi oleh Bank Indonesia : Menaikkan suku bunga “Kena”, tidak menaikkan suku bunga juga “Kena”.

—–oOo—–

Mungkin di sini sebagian pembaca ada yang bertanya, “seandainya apa yang ditulis di atas benar akan terjadi, apa dampaknya terhadap investasi saya?”.

Bagi para investor saham, mungkin ada baiknya meneliti apakah perusahaan yang sahamnya anda miliki mempunyai ketergantungan yang besar terhadap hutang? Jika suku bunga Indonesia terus dinaikkan, semakin besar hutang perusahaan itu, tentu semakin besar beban yang harus ditanggung akibat kenaikan suku bunga. Perusahaan yang dalam operasinya mempunyai ketergantungan besar terhadap impor juga sebaiknya dicermati, karena produk mereka kemungkinan besar akan menjadi relatif lebih “mahal”

Untuk para investor obligasi, tentunya lebih baik mempersiapkan diri untuk kenaikan suku bunga dengan menggeser portofolionya ke obligasi jangka pendek ataupun instrumen pasar uang sehingga ketika suku bunga dinaikkan, kita tidak perlu menunggu lama untuk menikmati suku bunga yang tinggi itu.

2 Comments

Filed under Pembahasan kondisi Ekonomi Makro

2 responses to “Bernanke, Bank Indonesia dan BI Rate

  1. tom

    Busyett.. Makin top markotop aja ni, temen satu ini.

    Two Thumbs Up!

  2. cobochan

    bro yg ini buat aku makin melek aza dan sedikit berbobot materinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s