Berkenalan dengan Reksadana

WHAT THEY SAID…

If we do not hang together, we will all hang separately

Benjamin Franklin

—–oOo—–

Saya teringat sewaktu SD dahulu uang jajan saya Rp 100. Di sekolah saya dulu, dengan jumlah uang itu, saya dihadapkan kepada dua pilihan jajanan : nasi uduk, yang nilai lebihnya adalah bisa membuat kenyang atau kerupuk bangka, yang nilai lebihnya adalah “enaaak” (biasa, anak kecil paling suka kerupuk).

Setiap hari saya selalu dipusingkan oleh “dilema” itu, sampai suatu hari saya menemukan solusinya. Saya bersama teman saya yang uang jajannya juga sebesar Rp 100 menggabungkan “kekuatan” lalu membeli nasi uduk DAN kerupuk. Nasi uduk dan kerupuk itu lalu kami bagi dua, sehingga masing-masing bisa menikmati kerupuk tetapi juga tetap lumayan kenyang.

Solusi cemerlang ini berjalan mulus hingga suatu hari kami berkelahi karena suatu hal yang sangat penting (“hal yang sangat penting” itu bernama Melly, anak baru dari Sukabumi). Setelah perkelahian itu, saya kembali harus menghadapi permasalahan memilih antara nasi uduk dan kerupuk bangka.

—–o0o—–

Reksadana, jika disederhanakan, tidaklah berbeda dari apa yang saya dan teman saya lakukan di atas (yang saya maksud di sini adalah menggabungkan “kekuatan” uang, bukan berkelahi memperebutkan Melly).

Misalkan saja saya ingin berinvestasi di saham Amerika. Jika saya mengambil jalan berinvestasi langsung di bursa saham, dan saya tertarik untuk invest di 30 perusahaan terbesar di amerika (Citibank, GE, dll), maka modal yang saya butuhkan sangat besar. Jika saya membeli 1 lot (100 lbr saham) saja utk masing-masing perusahaan itu, modal yang saya perlukan (per hari ini) adalah kira kira sebesar $150.000,- (sekitar Rp 1,4 Milyar).

Tentu saja jumlah yang saya sebutkan di atas sangat besar dan di atas kemampuan investor “rata-rata”. Untuk menjawab kebutuhan investasi para investor “rata-rata” inilah asal muasal lahirnya Mutual Fund, yang lalu dikenal di Indonesia sebagai Reksadana.

Prinsip dasarnya di sini adalah investor-investor dengan dana terbatas “mengumpulkan” uangnya untuk dikelola seorang Manajer Investasi. Manajer Investasi ini lalu mengenakan “biaya manajemen” sebagai imbalan utk kerjanya.

Meskipun pada awalnya reksadana itu ditujukan utk investor dengan dana terbatas, dalam perkembangannya, reksadana juga menjadi sarana investasi bagi orang-orang yang mungkin memiliki dana yang cukup besar, tetapi ingin bebas dari “kerepotan” mengurus portofolio investasinya.

—–o0o—–

Mutual Fund (Reksadana) sendiri biasanya diklasifikasikan berdasarkan instrumen investasinya. Reksadana yang berinvestasi di saham disebut sebagai Reksadana Saham (RDS); yang berinvestasi di instrumen hutang spt obligasi disebut sebagai Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT); yang berinvestasi di instrumen pasar uang disebut sebagai Reksadana Pasar Uang (RDPU) dan sebagainya.

Dengan begitu banyaknya jenis reksadana, reksadana seperti apa yang harus kita pilih? Ini tentunya harus dicocokkan dengan kebutuhan investasi kita, karena kebutuhan investasi setiap orang tidak sama. Untuk itu banyak hal yang harus kita pertimbangkan, seperti misalnya kapan kira-kira hasil investasi ini akan kita perlukan atau juga bagaimana toleransi kita terhadap resiko? Seseorang yang “alergi” resiko dan akan membutuhkan dana investasinya di tahun depan utk biaya menikah misanya, tentu saja tidak cocok untuk berinvestasi di Reksadana Saham.

Setelah menentukan jenis reksadana, dengan begitu banyaknya perusahaan yang menawarkan produk reksadana, bagaimana cara kita memilih reksadana yang akan kita percayakan dengan uang kita?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya akan mengutip suatu paragraf dari buku “Intelligent Investor” :

Kebanyakan orang memilih reksadana dengan pertama-tama melihat performa (prestasi) selama ini, lalu reputasi manajer investasinya, lalu tingkat resiko reksadana itu dan yang terakhir dilihat (itu pun jika ada dilihat), berbagai biaya/fee dan pengeluaran reksadana itu.

Seorang Intelligent Investor dalam memilih reksadana, juga akan berdasarkan hal-hal di atas, tetapi dengan urutan yang terbalik.

—–o0o—–

Bagi para calon investor di Reksadana Saham (RDS), dalam kesempatan ini saya ingin menyarankan untuk mempertimbangkan memilih Reksadana Index (RDI).

Dalam Reksadana Saham “biasa”, manajer investasi reksadana tersebut secara aktif memilih dan menentukan ke saham apa yang kira kira akan memberikan hasil yang baik, dan lalu menginvestasikan dana reksadana tersebut di saham-saham itu. Reksadana Index (RDI), di lain pihak, menginvestasikan dana yang terkumpul di seluruh saham yang tercatat di index suatu bursa.

Secara sekilas, kelihatannya metode yang dipakai oleh RDI terlalu sederhana dan bahkan berkesan “bodoh/malas”. Tetapi sebenarnya cara operasi RDI ini didasarkan pada suatu realita “lucu” di dunia investasi : mayoritas manajer investasi, dalam jangka panjang, gagal menyamai prestasi index bursa (kata “mayoritas” di sini adalah sebesar 75%-95%, tergantung penelitian mana yang anda baca).

Ya, anda tidak salah baca. Mayoritas reksadana, dengan begitu banyak orang pintar di belakangnya, bahkan gagal menyamai prestasi index bursa. Ini bukan gurauan. Fakta ini sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian, dan tidak ada seorangpun pakar investasi yang mempunyai integritas (baca : “jujur”) akan membantah fakta ini. Oleh karena itu, jika mayoritas manajer investasi gagal menyamai prestasi index bursa, mengapa kita tidak memilih utk investasi di Reksadana yang “menjiplak” index?

Mungkin ada di antara teman-teman yang lalu berpikir, jika dikatakan “mayoritas” manajer investasi gagal menyamai prestasi index bursa, berarti ada “minoritas” manajer investasi yang berhasil menyamai bahkan melebihi prestasi index bursa? Tentu saja ini benar, tetapi utk dapat memilih reksadana yang masuk dalam kelompok “minoritas” ini tidak kalah sulitnya dengan memilih dan menseleksi saham yang baik.

Benjamin Graham dan Warren Buffet dalam berbagai kesempatan selalu merekomendasikan Reksadana Index (secara lengkapnya “Low Cost, No Load Index Fund”) sebagai pilihan investasi terbaik untuk investor pada umumnya.

—–o0o—–

Sebagai tambahan di sini, ada baiknya saya menjelaskan arti dari “Low Cost” dan “No Load” di atas.

“Low Cost” di sini berarti bahwa reksadana itu mengenakan biaya/fee (terutama biaya tahunan/annual fee) yang sangat rendah. Salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap besarnya fee adalah apakah reksadana itu dikelola secara aktif atau pasif. Reksadana yang dikelola secara aktif, dimana manajer investasinya secara aktif menseleksi saham apa yang akan dibeli, boleh dikatakan selalu mengenakan biaya yang lebih tinggi dari reksadana yang dikelola secara pasif seperti Reksadana Index.

“No Load”
dalam pembahasan di atas, menggambarkan reksadana yang tidak mengenakan biaya pembelian ataupun penjualan sewaktu kita memasukkan ataupun mencairkan dana investasi kita. Sebagai perbandingan, ada reksadana yang bertipe “With Load”, baik berupa “Front Load” (biaya ketika kita memasukkan dana) ataupun “End Load” (biaya ketika kita mencairkan dana).

Ingatlah bahwa utk setiap jumlah uang yang anda bayar utk biaya-biaya diatas, itu berarti dana anda yang diinvestasikan berkurang sejumlah biaya itu. Semakin besar biaya yang anda bayar kepada manajer investasi anda, sudah pasti semakin kecil hasil yang bisa anda terima. Padahal belum tentu manajer investasi anda bisa memberikan hasil “lebih” yang sesuai dengan biaya “lebih” yang kita bayarkan.

Umumnya para “salesman” reksadana-reksadana yang mengenakan biaya tinggi atau juga mengenakan “Load” akan mengemukakan alasan bahwa mereka layak mengenakan fee tinggi karena kinerja reksadana mereka tinggi. Berbagai hasil penelitian justru membuktikan bahwa alasan ini hanya omong kosong. Sebagai contoh, kita bisa lihat dari data yang didapat dari lembaga riset Morningstar di bawah ini:

Efek Biaya Reksadana terhadap tingkat Return

Dari data tersebut kita bisa lihat bahwa Return/tingkat hasil yang diberikan oleh reksadana “Low Cost” justru mengalahkan reksadana yang membebani investornya dengan biaya yang tinggi.

16 Comments

Filed under Instrumen Investasi

16 responses to “Berkenalan dengan Reksadana

  1. tapi di kita kok RDI front cost nya lebih tinggi daripada RD biasa ya?

  2. Memang dalam prakteknya ‘tidak semua RDI itu sama‘🙂 Di negeri seberang juga seperti itu, ada RDI (Index Fund) ‘aneh’ yg costnya malah mahal. Tetapi juga ada yg seperti Vanguard 500 fund yg total feenya cuma 0,37%/thn dan tidak mengenakan Load.

    Sayangnya di Indonesia, pilihannya sangat minim. Setahu saya baru ada DINAR, dan itupun acuannya bukan IHSG atau LQ45 melainkan index JII (yg dibatasi oleh aturan religius) shg saya pribadi berpendapat diversifikasinya mungkin kurang ‘bagus’.

    Alternatifnya mungkin bisa memakai ETF R-LQ45X, tetapi konsekuensinya adalah terkena komisi broker & menanggung spread jual-beli (shg ibaratnya terkena front load dan end load). Dari segi fee ini, mungkin ada sebagian RD non-index yg akan lebih ‘murah’ dibandingkan dengan membeli ETF.

    Di lain sisi, dengan RD non-index, kita menanggung resiko MI-nya kurang ‘ampuh’ shg salah pilih saham, sedangkan dengan R-LQ45X, resiko ini tidak ada.🙂

    Ini ibaratnya memilih ‘the lesser of 2 evil’.

  3. tommy

    Bro Edi, di atas kan anda menyarankan u/ mptimbangkan memilih RDI. Tolong donk dijelaskan bgm caranya berinvestasi di RDI, ‘step by step’nya apa saja ? Kalau tidak salah, harus melalui broker ya spt kita kalau mau membeli saham ? Kalau ya, sudah ada gak yang ‘online trading’ ?😛 Atau mungkin ada link yg bisa bro Edi berikan kpd saya utk lbh jelas mengenai tatacara berinvest di RDI ? Maaf ya bro, banyak maunya nih…😛 *yg lagi penasaran sama RDI*🙂

  4. temmycw

    Bro edi, saya kalo ingin ikut RDI di indonesia dimana?? caranya bagaimana?? dan butuh uang berapa minimalnya??

  5. @temmycw dan tommy

    Saya jawab sekalian ya, soalnya mirip mirip pertanyaannya.

    Di Indonesia, sayangnya setahu saya RDI saham baru ada 1, yaitu Danareksa Index Syariah yg kerap dipanggil DINAR.

    Investnya melalui PT. Danareksa, ataupun melalui agen-agen penjual yg ditunjuk. Untuk info siapa saja agen penjualnya dan info detail lainnya (minimum invest dll) bisa coba diemail ke infocenter@danareksa.com

    Jangan lupa minta dikirimi prospektusnya.

    Mungkin perlu saya tambahkan bahwa utk teman-teman non-muslim, yg dalam investasinya tidak terikat oleh batasan prinsip syariah, mungkin perlu berpikir 2 kali utk ikut RDI Dinar ini.

    Ini karena RDI Dinar ini ‘dibatasi’ ruang lingkupnya sehingga ada beberapa saham perusahaan yg tidak bisa mereka beli, krn produknya bertentangan dengan aturan syariah. Padahal beberapa industri tersebut mempunyai ‘karakter’ yg unik dan agak ‘kebal’ resesi.

    Oleh sebab itu, saya berpendapat bahwa RDI Dinar diversifikasinya kurang ‘luas’. Tentunya masalah ‘diversifikasi’ ini tidak relevan untuk teman-teman muslim yg ingin investasi dengan memperhatikan aturan syariah (krn memang sudah diatur agama)

    Untuk di Indonesia, saya sendiri lebih condong untuk menyarankan melakukan index investing melalui ETF, karena diversifikasinya saya rasa lebih bagus, meskipun nilai minusnya adalah menanggung komisi broker serta spread antara jual dan beli

  6. ata

    1. Apakah mungkin kita membeli reksadana dgn nilai NAB di bawah NAB Awal ( Rp. 1000 ).
    Ataukah kita harus membeli senilai Rp. 1000 meskipun nilai aktual hari ini di bawah Rp. 1000.

    2. Apakah Langkah bagus membeli reksadana yang nilai NAB nya di bawah NAB Awal ( Rp. 1000 ).

    Contoh utk kedua pertanyaan saya adalah reksadana Reksa Dana Mandiri Investa Atraktif (MITRA-SYARIAH)

    thanks be4

    Edison: NAB RD bisa dibawah NAB awal. Pengecualiannya adalah RD pasar uang, krn NABnya selalu dipatok di 1000, yg berubah hanya unit penyertaannya saja.

    Harga beli RD tentunya sesuai NAB, krn tidak ada orang yg mau membeli RD yg NABnya misalnya cuma 700 dengan harga 1000.

  7. NewCo

    bahas dong tentang reksadana lagi..

    saya belon pernah invest disini
    tapi tertarik juga..

    1. bedanya Unit Link(UL) ama unit Penyertaan(UP) apa?
    2. hasil “bunga” berasal dari kenaikan nilai UP aja ya? atau ada dari yg laennya?
    3. ada nggak MI yang gampang kita tarik dan tambah NAB-nya? (maklum cuman karyawan, waktunya sedikit)
    4. fee dari agen penjual mana yang paling kecil?

    apa lagi yah… itu dulu deh

    • Unit Link itu adalah produk asuransi, dimana produk asuransi tersebut digabungkan dengan investasi….
      Unit Penyertaan (UP) itu adalah istilah dalam reksadana. Sederhananya, jika sebuah reksadana ibaratnya suatu perusahaan, maka UP itu adalah ‘saham’ di reksadana tersebut. Jumlah UP yang kita miliki, menyatakan besarnya ‘bagian’ dari asset reksadana tersebut yang menjadi milik kita.

      Selain kenaikan dari UP, beberapa reksadana juga membagikan dividen kepada investornya…

      Mudah/tidaknya menjual ataupun menambah investasi kita di suatu MI boleh dikatakan relatif tidak berbeda jauh… Jika misalkan ada suatu reksadana yg anda minati, tentunya akan lebih ‘mudah’ jika misalkan ada agen penjualnya yg berlokasi di dekat anda…tetapi bahkan tidak ada pun, dengan jaringan perbankan yg sekarang ada, relatif tidak sulit (dan tidak memakan banyak waktu) utk berinvestasi di suatu reksadana.

      Catatan dari saya, jangan membeli suatu reksadana hanya karena sekedar ‘mudah belinya’…. Seingat saya, dulu saya pernah menulis tentang cara memilih reksadana…tetapi sudah lupa judulnya (sudah lamaa tulisnya)… mungkin bisa dicari melalui TAG “reksadana” di blog ini…

      Soal Fee dari agen penjual, itu agak sulit utk dijawab, karena di Indonesia terkadang bisa berubah… Tahun lalu misalnya, Bank Mandiri promosi dan hanya mengenakan biaya 0,5% utk biaya pembelian.. tetapi di awal tahun ini, promosi tersebut berakhir dan feenya kembali naik ke 2%…

    • san

      Cuma mau share waktu baru kenal reksadana.

      Jangan cuma diliat penjelasan kenaikan NAB, apalagi kata bung Edison ada pembagian deviden. Investasi direksadana juga bisa loss, makanya sebaiknya pahami juga karakter investor, seberapa jauh dia mampu menerima “berita loss” atas investasinya selain apa aja yang bakal bikin kita loss. Banyak rekan2 yang napsu pengen main reksadana… pas loss baru sedikit, ketakutan akhirnya cut loss, kapok dan merugi tentunya.

      Soal fee….. kayaknya kita juga perlu mempertimbangkan biaya-biaya yang belum tercantum diprospektus. Misalnya RD DINAR beli pake e-banking bank mandiri, akan ada biaya transfer per transaksi dari mandiri maupun sebaliknya. Memang besarannya mungkin kecil, tapi kalo diakumulasi….??? Selain itu fee ini jelas akan hilang sementara return belum tentukan? So.. bukankah sebaiknya diminimisasi “uang hilang” tersebut?

      Beli sukuk kemarin juga sama… rate katanya 12% dengan pajak 15%, biaya kustodian 0.0…% (tergantung penjualnya) tapi ada juga minimum bea kustodian yang ditanggung (lagi, tergantung penjual) sehingga mengurangi return yang kita peroleh. Buat lengkapnya bisa diliat di blog ini juga, kok!

      Sejak nyemplung ke investasi 6th lalu…ga kepikiran ini itunya karena pegangan pada katanya, katanya, katanya…
      So.. to JS, thanks… simply just because your exist.

      • Thanks kepada JS=JokoSusilo, san?🙂 hahaha…. (sampai sekarang masih bingung bagaimana cara mengatasi rancu singkatan JS)….

      • san

        Huaaahhh….??? Thanks to JS=Joko Susilo, bung Ed?😦 Over my dead body!

        Iya yah… jadi rancu gitu! Gara-gara si Joko ta u’ u’. Merugikan saja!😀

  8. NewCo

    soal loss apa kagak.. seh sebenernya gw udah siap…

    tapi melihat beberapa artikel di blog ini, klo loss-nya malah hilang tak berbekas.. ya keder juga..

    la dapetnya aja nggak seberapa..
    eh malah dibawa kabur…

    gw pikir2 lagi deh.. mending deposito ama ORI
    emang mending dananya buat usaha😀

    • san

      Loss hilang kaga berbekas maksudnya gimana? Kalo fee n biaya transfer iya ilang.. tapi kalo maksudnya loss karena nilai reksadana turun… kan loss nya masih dikertas? Selama ga dicairin yah ga ilang dunk? Kalo nilai reksadana kita turun, bisa di top up buat ga jatuh-jatuh amat. Ada banyak strateginya, bro!

      Kalo main di ORI n depo ga salah sih…. tapi ga liat inflasi n pajak? Sama aja abis dunk returnnya? Susah emang yach? Yuk bingung sama-sama! Hehehe…😀

      • NewCo

        maksudnya ntu yg kasus century..

        soalnya gw baru baca2 prospektus-nya Krisna..
        nggak ada jaminan, jadi umpamanya nilainya jadi 0, yah kita mo gimana lagi…

  9. daren

    Loss hilang kaga berbekas maksudnya gimana? Kalo fee n biaya transfer iya ilang.. tapi kalo maksudnya loss karena nilai reksadana turun… kan loss nya masih dikertas? Selama ga dicairin yah ga ilang dunk? Kalo nilai reksadana kita turun, bisa di top up buat ga jatuh-jatuh amat. Ada banyak strateginya, bro..

    Jd selama gak djual, NAB qta masi bs naek lg yah kalo pasar saham membaik lagi..?

    Top up itu ngaruhnya gmana bos?

    Strategi laen ap lg yg bisa dpakai kalo NAB qta lg kritis kyak bgitu..?

  10. Reblogged this on devinilasari and commented:
    Tulisan ini berhasil membuat saya mulai action membeli reksadana😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s