Investor Pasif dan Bogleheads

WHAT THEY SAID…

Jangan mencoba mencari jarum dalam jerami. Beli saja jeraminya

John Bogle

—–oOo—–

Investor, menurut Ben Graham, dapat dibagi ke dalam dua golongan : Investor Aktif dan Investor Pasif. Penggolongan ini sendiri tidak mempunyai artian/konotasi positif ataupun negatif, dalam hal ini “Pasif” bukanlah berarti jelek dan “Aktif” juga bukan berarti bagus.

Investor Pasif, dalam hal ini adalah tipe Investor yang dalam menjalankan investasinya mengutamakan keamanan modal pokok, serta (tidak kalah pentingnya) kebebasan dari segala “kerepotan” (dalam mengelola investasinya)

Investor Aktif, di lain pihak, adalah tipe Investor yang bersedia mencurahkan waktu dan pikiran untuk menseleksi instrumen investasi yang AMAN. Sebagai imbalan atas “keringat”-nya ini, seorang investor bisa mengharapkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Investor Pasif. (Perlu ditekankan di sini, bahwa untuk “tingkat keuntungan yang lebih tinggi” ini baru sekedar “bisa mengharapkan” dan bukan “dijamin”)

—–oOo—–

Jika kita perhatikan benar-benar kedua definisi di atas, ada suatu hal yang menarik, yaitu Graham tidak memakai kata “resiko” sekalipun. Kalaupun ada kata yg “mengarah” ke sana, itu hanya dalam kata “keamanan” (pada definisi Investor Pasif). Pada definisi Investor Aktif, kata yang terkait dengan “resiko” sama sekali tidak muncul (saya ada menulis kata AMAN, tetapi dalam definisi asli bahasa Inggrisnya, yang dipakai adalah kata SOUND. Kata “sound” sebenarnya kurang cocok untuk diterjemahkan sebagai “aman”, tetapi saya tidak terpikirkan kata yang lebih cocok). Isu yang paling jelas diperbandingkan oleh Graham dalam kedua definisi tersebut justru adalah “kebebasan dari segala kerepotan” dan “bersedia mencurahkan waktu dan pikiran”.

Setiap kali saya memperkenalkan kedua definisi di atas kepada orang yang saya temui, boleh dikatakan 95% orang langsung berkata “Saya bersedia mencurahkan waktu dan pikiran, sehingga saya ingin/akan memilih menjadi Investor Aktif“. Padahal Graham sendiri berpendapat bahwa hanya sebagian kecil orang yang “mampu” menjadi Investor Aktif. “Mampu” di sini bukanlah memfokuskan kepada tingkat intelegensia, tetapi lebih kepada kemauan untuk belajar dan bekerja keras. Sejarah dunia investasi justru penuh dengan orang orang “pintar” yang gagal dalam investasinya.

Kebanyakan orang cenderung “alergi” terhadap kata “Pasif” karena adanya salah persepsi bahwa investor pasif adalah seseorang yang malas/bodoh/dll. Kesalahan persepsi lainnya yang sering timbul adalah bahwa tipe Investor Pasif hanya akan menaruh uangnya di tabungan, deposito atau (paling “mentok”) obligasi negara. Dalam kenyataannya, seorang investor pasif bisa berinvestasi di berbagai instrumen investasi lainnya, termasuk juga saham.

—–oOo—–

Investasi dalam saham bagi seorang Investor pasif dilakukan dalam bentuk reksadana. Meskipun demikian, dalam kenyataannya, timbul lagi sebuah dilema baru bagi para investor pasif. Reksadana yang mana? Dengan begitu banyaknya reksadana yang ditawarkan, memilih reksadana tidak kalah sulitnya dengan memilih saham.

Jawaban atas dilema ini adalah dengan berinvestasi dalam Reksadana Index (Index Fund). Dengan berinvestasi dalam reksadana index, seorang investor pasif akan terhindar dari kerugian akibat salah memilih reksadana. Kita tidak lagi bergantung pada “kepiawaian” manajer Investasi (yang sulit untuk kita perkirakan). Dengan Reksadana Index, tidak perduli bisnis atau sektor apapun yang “booming”, kita akan selalu ikut “menikmati” booming itu.

Salah satu advokat utama “Index Investing” dan Reksadana Index adalah John C. Bogle. Bogle sendiri diakui oleh berbagai kalangan sebagai salah satu orang paling berpengaruh di dunia investasi. Bogle berpendapat bahwa berusaha mencoba untuk memilih reksadana (yg dikelola secara aktif) itu usaha yang sia-sia. Menurut Bogle, kombinasi dari fee yang rendah dan terhindarnya investor dari resiko “Manajer Investasi salah pilih saham” membuat kinerja Reksadana Index dalam jangka panjang akan mengalahkan mayoritas Reksadana biasa.

Pandangan-pandangan Bogle mengenai investasi, terutama mengenai reksadana index, banyak dipegang oleh orang-orang (di luar negeri, kalau di Indonesia Bogle ini sepertinya tidak/belum populer). Akibat banyaknya orang yang mengikuti “ajaran” Bogle ini, para “pendukung” reksadana Index kerap dipanggil dengan julukan Bogleheads.

—–oOo—–

Baru-baru ini, Warren Buffet mengadakan taruhan dengan pengelola sebuah Fund of Funds. Fund of Funds adalah suatu jenis reksadana dimana Manajer Investasinya berusaha untuk menseleksi reksadana mana yang akan memberikan hasil yang bagus, lalu menginvestasikan dana kelolaannya di reksadana hasil seleksi itu. Prinsip yang mendasari operasi Funds of Funds ini tentunya berseberangan dengan pandangan Bogle yang saya sebutkan di atas.

Lalu apa yang menjadi taruhan antara Buffet dengan pengelola salah satu Fund of Funds itu? Sebagai salah satu “pendukung” Index Investing dan Reksadana Index, Buffet bertaruh bahwa dalam jangka waktu 10 tahun, kinerja Reksadana Index akan mengalahkan 5 buah Reksadana yang dipilih oleh Fund of Funds itu. Nilai akhir total taruhannya adalah US$1.000.000,-.

Mekanisme taruhannya: Buffet dan pengelola Fund of Funds itu masing masing mengeluarkan dana US$340.000,-. Uang ini kemudian dibelikan obligasi Zero Coupon Bond, yang akan mature 10 tahun lagi dengan nilai maturity $1.000.000, yang lalu akan disumbangkan ke badan sosial pilihan sang pemenang taruhan.

Jika seorang investor top seperti Buffet begitu yakin pada “keampuhan” Reksadana Index, sehingga mau bertaruh US$1.000.000,-, tentunya kita layak untuk mulai mempertimbangkan instrumen yang satu ini.

—–oOo—–

PS: Reksadana Index yang “dipegang” oleh Buffet dalam taruhan ini adalah Vanguard 500 Index Fund yang mengacu kepada Index S&P 500. Reksadana ini dikelola oleh The Vanguard Group, salah satu perusahaan reksadana terbesar di dunia. Siapa pendiri The Vanguard Group ini? John C. Bogle.

11 Comments

Filed under Pemikiran tentang Investasi

11 responses to “Investor Pasif dan Bogleheads

  1. Nafry Marmata

    terimakasih buat anda yang repot.. repot menuliskan ini… dan sangat berguna.. Sosialisasi yang mumpuni mungkin bisa merubah paradima setiap orang untuk memulai investasi dan tentunya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka… Tetaplah menulis, dan sosialisasi yang berimbang…. thanks

  2. Reksadana Index memang reksadana yang relatif aman tapi bukan tanpa risiko.

  3. edison76

    salam kenal bro investor, thanks buat waktunya membaca blog dan juga memberikan comment.

    Setiap investasi pasti tentunya memiliki resiko, termasuk juga reksadana index. Bahkan membeli obligasi negara pun mengandung resiko.

    Di sini, yang saya katakan adalah bahwa dengan Reksadana index, seorang investor akan terhindar dari resiko bahwa Manajer Investasinya “salah memilih saham”. Resiko-resiko lainnya yang terkandung dalam investasi tetap tidak bisa dihilangkan.

    Reksadana sendiri tidak 100% sempurna. Sebagai contoh, dalam post “ETF dan ETN”, saya menuliskan adanya tidak bisa dihindarinya “tracking error” sehingga reksadana (&ETF) tidak bisa meniru 100% kinerja index (meskipun tracking error ini nilainya sangat kecil)

  4. toto_pwr

    Thanks atas info dan pencerahannya. Saya jadi tertarik untuk investasi di reksadana index. Apakah reksadana jenis index ini ada di Indonesia?
    Jika di Indonesia tidak ada, Hangseng ada? dan bisa kasih “petunjuk” untuk mendapatkannya? Thanks.

  5. edison76

    reksadana index untuk bursa saham Indonesia setahu saya baru ada satu. tapi acuannya ke Jakarta Islamic Index dan bukan LQ45. Kalau untuk ETF Index ada 1, kodenya R-LQ45X

    Untuk reksadana index di Hongkong, saya kurang tahu. Menurut saya, seharusnya sih ada. Nanti saya coba cari tahu.

    Untuk investasi di reksadana, tentunya melalui agen penjual reksadana itu.

  6. putrie_kmps

    berarti klo untuk jangka waktu 20 tahun lebih baik reksadana index ya. Tp di RD index yang ada di Indo ga bisa minimal subsc 100rban ya (low budget incvestor). Mau pake metode DCA nih

    Edison: lol, ini tikus yang hidup di lumbung padi malah bertanya kepada tikus yang di luar lumbung padi…. putrie kan kerja di ‘lumbung padi’…seharusnya malahan putrie yg berbagi info dong…

  7. Yogha

    brarti untuk prefer nya lebih ke ETF atau RD index bro?
    klo kasus om buffet kan di luar sana bro, klo di indonesia gmn? yg saya dengar ETF masih baru n kurang peminat, tktnya malah ga likuid ya klo seperti itu

    Edison: Kalau di luar negeri, memilih antara RD Index dan ETF, akan kembali kepada profil investasinya, terutama apakah investasinya rutin ataupun lump-sum, lalu berapa komisi broker jika seandainya memakai ETF.

    Sayangnya RD Index di Indonesia cuma 1 yaitu Danareksa Index Syariah yg berbasis JII, dan setahu saya terkena Load sewaktu beli.

    Masalah likuid (atau tidaknya) ETF Index Indonesia, setelah saya amati langsung, sepertinya tidak bermasalah. Faktor likuid/tidak ini pengaruhnya cuma akan terasa jika misalnya akibat tidak likuid, spread jual belinya besar. Tetapi di lapangan, spread jual beli seringkali cuma 1 rupiah. Jadi dalam hal ini, likuid/tidaknya ETF tersebut tidak berpengaruh.

    Faktor likuid/tidak ini mungkin juga akan berpengaruh ketika misalnya kita ingin menjual keseluruhan investasi kita tersebut. Misalnya saja kita punya 100 ribu LOT, dan ingin dijual semua dengan cepat (misalnya terkena musibah sehingga terpaksa harus mencairkan investasinya), memang akan mempunyai kendala. Tetapi mungkin hanya sedikit orang yg akan mengalami permasalahan ini.

    Lagipula bagi investor jangka panjang yg scope investasinya 10-20 tahun, seharusnya ini juga bukan masalah besar. Saya pikir, seharusnya 10 thn lagi ETF sudah lebih memasyarakat sehingga pangsa pasarnya besar sehingga waktu itu utk melepas 100 ribu LOT pun tidak sulit…

    • ekka

      Bro Edison,
      Salam kenal. Aku sudah lama jadi pembaca pasifnya JS dan lagi kepengen jadi investor pasif (he he gara-gara inflasi yang minta ampun deh … :))
      Ada istilah yang aku nggak ngerti mengenai Danareksa Index Syariah yaitu yang bro tulis terkena load sewaktu beli. Apa itu ya?
      FYI, backgroundku gak ada hubungannya dengan ekonomi …
      Trims

      • coba bantu bro edison yang masih sibuk (kaleee)…
        load sewaktu beli (front load) maksudnya kita kena Subscribtion Fee antara 1% s/d 3% tergantung nego, bro.

        salam,
        war_no

  8. machadi

    Bro,
    Mau tanya sedikit nih. Yang anda jelaskan kan RD index memakai strategi pasif dalam mengelola investasinya. Yang jadi pertanyaan saya:
    1. Dalam rentang berapa lama sebuah MI membeli setiap sahamnya? Karena ini kan berhubungan dengan biaya pembelian yang pada akhirnya berhubungan dng NAB juga tho?
    2. Jika RD ini merefleksikan index tertentu, bearti MI akan membeli semua saham yang ada diindex. Apakah biaya yang dikeluarkan ga besar ya? dibanding hanya membeli beberapa saham unggulan tapi dengan porsi yang besar.

    Thanks sebelumnya, soalnya saya masih bingung soal RD. Walaupun sudah punya beberapa koleksi RD dalam jumlah yg ga banyak.

  9. @machadi

    mekanisme pembelian RD sendiri akan tergantung kpd beberapa hal. Yang perlu diingat bahwa MI itu ‘dibatasi’ kebebasannya oleh bapepam.

    Misalnya RD saham, assetnya minimal 80% mesti dalam saham. Jadi jika misalnya saat MI sudah 90% dalam bentuk saham, jika misalnya ada investor baru yg masuk, belum tentu dia akan langsung menggunakan dana baru tersebut utk beli saham.

    Jika misalkan saja dia merasa saat itu saat itu situasi pasar tidak kondusif utk melakukan pembelian, dia tidak wajib utk melakukan pembelian saat itu juga.

    Sebaliknya jika misalnya saat itu assetnya ‘cuma’ 80% di saham, maka meskipun dia sedang pasar tidak kondusif utk melakukan pembelian, jika ada dana baru yg masuk, mau tidak mau dia harus membeli saham.

    RD index yg dikelola secara pasif, umumnya lebih jarang transaksi daripada RD yg dikelola secara aktif.

    Berbeda dari yg kerap ada di bayangan setiap orang, untuk ukuran transaksi seperti yg dilakukan oleh MI, justru membeli 1 saham dalam jumlah besar bisa menimbulkan biaya yg lebih besar dibandingkan dengan membeli 10 saham dalam jumlah kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s