Asuransi Jiwa : Bukan Untuk Setiap Orang

WHAT THEY SAID…

Perusahaan asuransi bisa memberitahukan kepada anda dengan sangat akurat BERAPA banyak orang yang akan meninggal besok hari. Yang tidak mereka ketahui hanyalah SIAPA

Anonymous

—–oOo—–

Ketika menulis post ini, saya sedikit tersenyum membayangkan reaksi yang akan timbul jika post ini dibaca oleh agen asuransi jiwa. Saya terpikir untuk menulis tentang topik asuransi jiwa setelah topik ini muncul dalam dalam percakapan saya dengan seorang teman dari thread “Jangan Serakah” di forum Kaskus, sebut saja namanya L. Dalam percakapan itu, L mempertanyakan apakah setiap orang wajib memiliki asuransi jiwa, terutama orang yang sudah mapan sekali?

Isu mengenai apakah setiap orang wajib memiliki asuransi jiwa boleh dikatakan sebagai isu yang agak “kontroversial”. Sebagian Financial Planner/Perencana Keuangan (dan hampir semua agen penjual asuransi jiwa) akan mengatakan bahwa setiap orang wajib memiliki asuransi jiwa. Di lain sisi, ada beberapa Financial Planner lainnya yang berpendapat bahwa asuransi jiwa bukanlah sesuatu yang wajib dimiliki oleh SEMUA orang. Berdasarkan pada judul post ini, para pembaca blog ini mungkin sudah bisa memperkirakan saya memihak pada “kubu” yang mana.

—–oOo—–

Setiap kali kita membeli produk apapun, kita harus selalu mempertimbangkan apa manfaat yang diberikan oleh produk itu, dan apakah kita benar-benar membutuhkan manfaat yang diberikan oleh produk itu. Sebagai ilustrasi, kita lihat mobil misalnya. Meskipun setiap orang membutuhkan alat transportasi, tentunya tidak berarti bahwa setiap orang harus membeli mobil (bahkan jika mereka mampu membelinya). Dengan mempertimbangkan biaya kepemilikan mobil (biaya servis berkala, STNK, BBM, dll), seorang ibu rumah tangga yang aktifitas sehari-harinya tidak membutuhkan dia untuk berpergian jauh, mungkin akan lebih cocok (dari sudut ekonomi) dengan alat transportasi lainnya (ojek, taksi, dan lain-lain).

Demikian juga halnya jika kita ingin membeli asuransi jiwa. Satu hal yang harus kita ingat yaitu bahwa manfaat utama asuransi jiwa adalah untuk memberikan perlindungan kepada “dependen” (orang-orang yang bergantung kepada kita) jika kita meninggal. Jika kita tidak membutuhkan manfaat yang ditawarkan oleh asuransi jiwa, tentunya kita harus berpikir dua kali sebelum kita membeli asuransi jiwa itu.

Lalu siapa saja “orang-orang” yang tidak membutuhkan manfaat asuransi jiwa? Jika kita lihat kembali manfaat utama dari asuransi jiwa, jawaban termudah yang terpikirkan adalah “orang-orang yang tidak memiliki dependen”.

Contoh pertama untuk “golongan” ini adalah anak-anak. Suatu “fenomena” yang kita sering lihat di kehidupan sehari-hari, banyak orang yang membeli asuransi jiwa untuk seluruh anggota keluarganya, termasuk atas nama anak-anaknya yang masih kecil. Jika kita lihat berdasarkan manfaat utama asuransi jiwa, membeli asuransi jiwa atas nama anak-anak kita yang masih kecil sebenarnya agak “aneh”, mengingat anak-anak kita itu tidak memiliki dependen. Akan lebih baik jika premi yang kita bayarkan atas nama anak-anak kita, kita pakai untuk menambah nilai pertanggungan asuransi atas nama kita. Jika nilai pertanggungan asuransi kita sudah cukup, maka alternatif lainnya yang bisa kita pertimbangkan adalah menginvestasikan uang itu.

Orang dewasa lajang/single tanpa tanggungan juga termasuk kategori orang-orang yang perlu berpikir dua kali sebelum membeli asuransi jiwa. Sebagai contoh, misalnya kita belum menikah, dan orang tua kita sudah wafat ataupun orang tua kita sudah mempunyai perencanaan keuangan yang baik (sehingga tidak bergantung kepada kita), maka tentunya manfaat dari membeli asuransi jiwa menjadi perlu dipertanyakan.

—–oOo—–

Jika kita telaah lebih dalam, sebenarnya bahkan tidak setiap orang yang sudah berkeluarga wajib memiliki asuransi jiwa. Sebagai contoh, bayangkan sebuah pasangan baru yang belum memiliki anak, dan orang-tua keduanya tidak bergantung kepada mereka. Keduanya masing masing mempunyai income yang mencukupi dan telah memiliki rumah sendiri (telah lunas KPRnya), dan tidak memiliki hutang/cicilan lainnya. Dalam hal ini asuransi jiwa bukanlah sesuatu yang “wajib” dimiliki oleh pasangan itu. Meskipun dalam kasus ini asuransi jiwa bukan suatu ide yang buruk, pasangan itu juga bisa mempertimbangkan untuk menggunakan uang itu untuk diinvestasikan.

Sebagai contoh terakhir orang-orang yang mungkin tidak terlalu membutuhkan asuransi jiwa adalah orang-orang yang menjadi subjek pembicaraan antara saya dan L. Orang-orang yang mapan dan telah merencanakan keuangannya dengan sangat baik, misalnya saja memiliki portofolio investasi yang baik dan mencukupi (untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masa depan tanggungannya) boleh dikatakan tidak “wajib” untuk memiliki asuransi jiwa.

—–oOo—–

Mungkin ada baiknya saya ingatkan sekali bahwa yang saya bicarakan dalam post ini adalah asuransi jiwa dan bukan asuransi kesehatan. Dalam prakteknya, produk yang kerap kita temui di Indonesia adalah produk gabungan antara asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Untuk produk semacam ini, premi yang kita bayarkan sebenarnya adalah premi gabungan untuk kedua resiko itu, yaitu resiko untuk meninggal dan resiko untuk sakit. Tentu saja premi ini akan “lebih mahal” daripada jika kita hanya meminta pertanggungan resiko sakit (tidak ada yang “gratis” di dunia ini, termasuk juga di dunia asuransi).

Meskipun demikian, terlepas dari wajib atau tidaknya kita memiliki asuransi jiwa, asuransi jiwa tetaplah merupakan suatu produk finansial yang baik dan boleh menjadi pertimbangan setiap orang.

67 Comments

Filed under Perencanaan Keuangan

67 responses to “Asuransi Jiwa : Bukan Untuk Setiap Orang

  1. toto_lutu

    Bro..kok tulisannya italic semua?

    Asuransi jiwa..iya sih..saya setuju, tidak semua orang butuh produk ini.
    Kebanyakan orang (termasuk agen asuransi dan profesional financial planner) menganggap orang single/lajang tidak membutuhkan asuransi jiwa. Padahal sebenarnya kebutuhan akan produk ini bukan (hanya) dilihat dari status pernikahan seseorang, tapi dari tingkat ketergantungan orang lain kepadanya secara finansial.

    Segala keputusan finansial termasuk membeli produk asuransi jiwa adalah hak setiap orang. Termasuk yg mengatakan “gue beli sih biar nantinya gak ngerepotin orang lain kalo terjadi apa-apa sama gue” meskipun secara finansial tidak ada yg bergantung kepadanya.

  2. Risyadmum

    Menurut saya semua yang berstatus suami wajib memiliki asuransi jiwa untuk diwariskan kepada istri dan anaknya, tetapi para istri tidak wajib.
    Formula asuransi untuk seorang istri: perbesar porsi asuransi kesehatan dan perkecil porsi asuransi jiwa,he..he..he…

  3. edison76

    Saya baru sadar kalau tulisannya italic semua…hahaha ini asli dari theme-nya sudah seperti ini…

    Dalam hal ini memang pembahasannya saya batasi kepada Wajib/Tidak wajib saja🙂 Posting ini sendiri saya buat karena banyak (tidak semua ya?) agen penjual asuransi yang agak “membabi buta” dalam menjual produknya…. Padahal dalam hal ini, sebenarnya mungkin ada produk lain yang lebih cocok untuk seseorang, sehingga boleh dikatakan premi asuransi jiwanya agak “mubazir”.

  4. Agen asuransi membabi buta…? wah serem juga ya…🙂

    Asuransi sepertinya makin pintar dengan memformulasikan rumusnya sehingga keluar berbagai produk, misalnya saja asuransi pendidikan. Kalau tidak salah induknya asuransi jiwa juga ya..? dan ternyata asuransi pendidikan itu tidak pernah mencukupi biaya sekolah saat jatuh tempo, kecuali dependennya meniggal dunia.

    Kalau bicara asuransi jiwa, sebaiknya berapa porsi yang ideal untuk biaya pertanggungan dibandingkan dengan biaya hidup bulanan kita. Kalau biaya pertanggungan cukup 30 juta saja..kayanya cuma bisa hidup untuk beberapa bulan saja ( 6 bulan mungkin) sambil menunggu aliran pendapatan bulanan kembali normal..

    Salam,

  5. edison76

    untuk menentukan besarnya nilai pertanggungan asuransi jiwa, ada beberapa cara yg kerap dipakai.

    Ada yg berdasarkan “kebutuhan dana masa depan”. Misalnya saja sekarang anak kita masih kecil, lalu kita perkirakan bahwa utk biaya sekolah sampai kuliah di masa depan, perlu 500 juta, lalu utk biaya nikah anak 100 juta, dst. Kebutuhan dana masa depan ini lalu dijumlahkan, dan nilainya itulah yang kita jadikan nilai pertanggungan asuransi jiwa kita.

    Ada juga yg berdasarkan income kita saat ini. Misalnya saja kita incomenya Rp 120 jt per tahun. Dari sini ada variasi, ada yang menggunakan kelipatan X tahun, misalnya membeli pertanggungan sebesar 10 tahun pendapatan normal.

    Ada juga yang berpendapat bahwa nilai pertanggungan harus cukup besar sehingga kalau uangnya didepositokan, bunganya harus sebesar pendapatan perbulan kita. (tapi ini beban preminya akan tinggi sekali)

  6. umumnya sih yang butuh asuransi jiwa itu bukan nasabahnya, tapi agennya. ngerti kan apa yang dimaksud?🙂

    di perusahaan P atau C misalnya, agen dan agencynya dapat komisi total 205% dari setoran premi tahunan. jadi jika nasabah bayar premi Rp 1 juta/bulan, maka agen dan agencynya akan makan uang nasabah sebesar Rp 1 juta * 12 * 205% = Rp 24,6 juta. menggiurkan kan?🙂

    • nunung

      saya paham jika pak priyadi berkata “…yang perlu asuransi itu adalah agennya, karena agen dapat duitnya…”, tetapi aku lebih paham lagi karena aku adalah orang yang pernah menerima manfaatnya taktala bapakku wafat, beliau meninggalkan uang pertanggungan yang cukup untuk ibuku dan anak2nya. Shg biaya kuliahku dan adikku bisa terbiayai. Pada akhirnya, stlh bekerja aku yang pertama kali aku beli adalah asuransi jiwa, krn saya telah memahami betapa pentingnya “ninggali sesuatu” kepada keluarga jk kita menerima halangan/musibah. Dan, saya juga paham bahwa bekerja itu pasti mengharapkan penghasilan, demikian juga agen asuransi. Sepertinya, nasabah bukan membayari agen, tetapi perusahaannyalah yang telah membayari agen karena agen berhasil melakukan sesuatu/menjual kpd nasabah (karena uang telah disetorkan ke perusahaan). Ya…itu mungkin yang saya pahami secara simple yang telah menerima faedahnya, lain mungkin kalo pak Priyadi memahaminya dengan prasangka/asumsi2 minor. Yang pasti asuransi ada manfaatnya dan berguna. Sekali lagi terima kasih.

  7. edison76

    waduh, pak priyadi sampai ikutan kasih comment di sini… dan commentnya pun tetap khas ‘nyentil’ ala pak priyadi… hahaha.. Makasih ya pak sudah mampir.

  8. tula

    mas .. maap topic lama mau di angkat😀 maklum baca nya jg masi sampe sini .. (dari web abis mulai ramba blog na edison hehehehe)

    apa ada ya asuransi kesehatan aja gitu ? soalnya selama ini di tawarin berbagai agen asuransi selalu gabungan, walaupun bisa diakalin asuransi jiwa nya pertanggungannya di kecil ken banget, dan para asuransi company rasana uda berusaha melepas asuransi yg murni .. mulai lari ke unit link smua, karena aman di mereka jg (premi cenderung selalu terbayar secara jangka panjang secara otomatis dari unit link nya)

  9. l4nt1ng

    @priyadi

    205% dari mana? saya kurang nangkep, thxs

  10. @tula

    memang repot carinya🙂 Apalagi setelah unit-link meledak di pasaran (spt yg bro tulis), perusahaan-perusahaan asuransi lebih mengkonsentrasikan jualannya ke produk unit linked.

    Meskipun demikian, saya pernah kenal satu orang asuransi, dia dulu posisinya sudah top (tapi sekarang sudah freelance). Dia cerita kalau beli asuransi utk keperluan sendiri, bisa sampai dapat diskon ini dan itu (karena buang benefit yang dia nggak mau), karena memang dia sudah tahu persis seluk beluk dunia asuransi (dia ada kasih saya lihat buktinya) … Tapi sepertinya harus punya akses ya agar bisa seperti itu

    Kalau di Indonesia, produk asuransinya umumnya sudah dibundle. Kalau di luar negeri, kita bisa cari yang ‘pretelan’, lalu kita nambah apa aja resiko yg ingin kita cover…Saking bisa dipreteli, makanya kalau tidak salah Jennifer Lopez bisa asuransi khusus utk bokongnya saja

  11. Wah memang selalu agen asuransi dipandang sebelah mata, kebeneran nih saya juga agen asuransi.

    Menurut saya apa yang dikatakan teman2 adalah benar, kadang bukan salah2 amat agennya, tapi karena mereka kurang paham produk knowledge, yang diajarkan cuma 1 produk. Mungkin bahkan produk tradisional tidak ada di perusahaannya. Dan memang yang sering saya juga terheran2 karena, banyak agen asuransi yang baru training, cuma ditemenin leadernya 2 x abis gitu dilepasin, dan harus menuhin target. Saya juga gk abis pikir, kenapa kok bisa begitu?… (padahal saya juga tau alasannya….). Nah bagaimana agen ini mau kasi solusi untuk produk yang diperlukan nasabah???? wong dia taunya cuma 1 produk, apalagi dijualnya 1 bundle, bener sih, menurut saya juga kadang banyak rider yang enggak perlu ditempel disitu. yang susahnya juga, banyak diantara mereka enggak mau nambah ilmu, enggak mau tau kondisi diluar tentang “pandangan masyarakat tentang agen asuransi”.

    Sebenernya dengan adanya Financial Planner juga situs2 seperti ini, merupakan suatu ancaman bagi mereka (agen asuransi) yang tidak mau tau kondisi diluar dan tidak mau membekali dirinya dengan ilmu tambahan.

    Sekarang ini saya baru memulai melalukan sosialisasi kepada teman dilingkungan perusahaan saya tentang ini dan sharing sedikit tentang bagaimana produk yang cocok buat klien. Dan itu juga bukan tanpa tantangan…. krn dengan sedikit ilmu yg saya dapat dari Financial Planner (oh ya saya sedang mengikuti kelas CFP), kalo produk itu dibuat memang sesuai kebutuhan klien, dan sesuai dengan tujuan klien, preminya jadi kecil2, gimana katanya kejar targetnya kalo begini… (hahahahaha..) memang tidak mudah untuk merubah habit seseorang.

    Bro Edison76 , mau tanya nih, temennya agen asuransi yang sekarang jadi freelance, alasannya dia apa?

    Eh saya nyambung kesini dari portalreksadana.

    Mudah-mudaha komentar saya ini tidak menyinggung siapapun, tapi semoga dapat sedikit membuka mata buat rekan-rekan agen asuransi, bahwa didunia luar kondisi nasabah sudah jauh lebih pandai. Bila kita masih mau bertahan di industri ini, menurut saya kita harus mau belajar lebih banyak tentang segala yang berhubungan dengan industri kita, dan harus mau berkorban sedikit materi untuk menambah ilmu..(bukan nasihat, tapi himbauan.

    rdlshell@yahoo.com

    Edison: Saya sendiri lebih cenderung untuk menyalahkan ‘sistem’nya daripada ‘orangnya’. Sistem yg ada di lapangan memang mendorong timbulnya praktek yang tidak sehat seperti yg sis tulis. Ibaratnya tentara yang belum dilatih dengan benar, dilepas ke medan perang, akibatnya disiplin kurang dan timbul korban sipil yg tidak perlu🙂

    Idealnya, perusahaan asuransi seharusnya membekali para agennya dengan pengetahuan yang lebih mendalam agar bisa memberikan informasi dan juga saran yang lebih tepat kepada customer. Tentunya para agen juga tidak bisa pasif dan harus secara proaktif selalu berusaha menambah ilmunya.

    Kalau ini dilakukan, seharusnya akan ada ‘perbaikan’ kondisi di lapangan, tidak seperti sekarang di mana semua customer ‘disetir’ ke arah produk tertentu, meskipun belum tentu produknya cocok.

    PS: Teman saya yg agen asuransi itu sekarang memilih utk jadi freelance krn dia ada bisnis baru yg lebih ‘basah’🙂 jadi broker BBM…

  12. Ya ya ya… memang sistem, mungkin karena sekarang asuransi menganut sistem Agency. Lebih tepatnya adalah Agencynya yang harus banyak membekali, karena perusahaan dan Agency terpisah. Satu lagi, kebanyakan orang asuransi malas belajar, kalo disediakan fasilitas training untuk menambah ilmu, gratis, jarang peminatnya.

    Tentunya tidak mudah untuk merubah ini, karena sayapun mendapat tantangan yg lumayan untuk mensosialisasikannya yg suka melihat fakta akan senang, yang tidak suka melihat fakta menjadi arogan. Apalagi berhubungan dengan akan terjadinya sementara pengurangan penghasilan. loh kok jadi curhat…

    Boleh minta pendapat? menurut bro Edison, dengan situasi seperti yang sudah saya tuliskan, kira2 beberapa tahun kedepan, bagaimana untuk industri Asuransi? boleh pendapat dan himbauan buat rekan-rekan saya di Asuransi, karena biasanya kalo orang lain yang memberi himbauan, lebih didengar. (seperti anak yang dinasehati ibunya, biasanya numpang lewat, tapi kalo dengan nasihat dari ibu temennya, walo nasihatnya sama, baru tersadarkan). Saya yakin bro Edison mau kasi pendapat & himbauan, karena pasti sangat berbobot… : – ))


    Edison:
    Saya terlewatkan comment yg ini.. Tapi saya senang bahwa ternyata ada juga agen asuransi seperti sis Rina. Semoga pola pikirnya bisa ‘menular’ kepada agen asuransi lainnya sehingga ada perbaikan kondisi di lapangan. Saya dukung perjuangannya sis, jangan menyerah meskipun banyak rintangan🙂

  13. mo_cab™

    ngomong2 ttg agen asuransi yg tidak tahu produk yg dijualnya, saya jadi ingat sorg teman yg menawarkan UL. Swaktu saya tanya adakah dia jual asuransi tradisional, dia bilang tidak ada.
    Tapi, dengan agen yg lain (perusahaan yg sama), dia bilang punya (waktu ini aku tanya as. kesehatannya stlh kudesak-desak).

    walopun stlh itu, ktnya dia mau datang untuk prospek, ternyata dibatalkan sepihak he he…

    Kyknya emng kebanayakan agen lebih tertarik menjual UL.

  14. Wah kalo itu bukan dia suka jualan UL, kayaknya agen itu gk ngerti atau takut jual ass kesehatan, soalnya jauh lebih ruwet dari UL..

  15. Tukul

    yang dimaksud Pak Priyadi dgn asuransi P pasti PRUDENTIAL…he he he
    mmg, gencar sekali mereka manarik nasabah asuransinya

  16. benny

    agen Prudential gencar karena jumlah agennya, saat ini agen Prudential ada jumlah agen lebih dari 60 ribu orang, jadi wajar jika agennya banyak yg salah dalam menjual UL dilapangan

  17. poltak

    priyadi seorang fatalis. tampak jelas apriori dia karena kurang paham. sayang sekali bangsa Indonesia dibodohi oleh orang macam priyadi.

    gak ada yang salah dengan asuransi. sama saja dengan produk keuangan lain. memang ada yang tidak membutuhkan, ada yang membutuhkan. masalahnya banyak di antara kita yg kurang paham. dan parahnya yg kurang paham meracuni mereka yg kurang paham. jadilah bangsa ini gak melek asuransi juga. bandingkan saja jumlah penduduk, pendapatan per kapita, dan jumlah nasabah asuransi dengan yg ada di negara serupa.

    rani sebagai seorang financial planner memikul tugas berat untuk membuat masyarakat kita paham asuransi. dan terutama terhindar dari celotehan seorang fatalis macam priyadi.

  18. Muhammad Hatta

    Numpang lewat…:)

    wah menarik juga ya tentang asuransi..padahal saya baru berpikir apa pentingnya ya Asuransi itu? itu berangkat dari penjelasan – penjelasan yang sering saya dengar dari temen – temen Agent. Banyak sekali yang hanya “menawarkan” kepentingan – kepentingan serta kebutuhan – kebutuhan, tapi jarang yang menyampaikan informasi betapa pentingnya ber”asuransi”.

    terima kasih telah menambah wacana saya tentang asuransi dari komentar – komentar teman – teman semua.kalau boleh saya simpulkan dari sekian banyak komentar,
    pertama adalah apa kebutuhan kita dalam memiliki asuransi ?
    kedua adalah untuk siapa nantinya manfaat asuransi tersebut diberikan ?
    ketiga adalah apakah merupakan asuransi dapat menjadi penunjang keuangan kita pada masa yang akan datang atau tidak ?
    keempat adalah kita memiliki asuransi dari perusahaan yang baik atau tidak ?
    kelima adalah renungkan kembali semuanya sebelum menyesal kemudian..

    Pesan :
    Jangan terburu – buru dalam memiliki asuransi, akan tetapi juga jangan menyesal seandainya kita butuh asuransi..eh malah Perusahaan Asuransi yang tidak bisa menerima kita sebagai nasabahnya karena suatu dan lain hal..:)

    Keputusan dikembalikan ke Anda teman..:)

    regards,
    MH

  19. Asuransi Jiwa, bagi saya yang pada awalnya tidak percaya sama sekali dengan asuransi Jiwa, sangatlah rugi sekali. Dengan berkembangnya jaman modern ini, setiap orang wajib dan seharusnya memiliki, bila perlu baik masih bujang, belum menikah, atau pun sudah berkeluarga. Namun kita perlu jeli dalam membeli, apa yang kita butuhkan sebenarnya, apalagi jika keadaan ekonomi yang kurang mendukung. Tetap di ada-adakan/ di utamakan beli asuransi. Jangan kecewa di kemudian hari bila tidak mempunyai asuransi jiwa. Tuhan yang menentukan tapi manusia harus Berusaha…….

  20. Kurniawan

    Pak Edi,

    Kalau untuk dana pensiun, mana yang lebih baik asuransi atau investasi ?

    • putra faster

      sudah jelas berasuransi pa, karena disamping untuk dana pensiun, perlindungan jiwa dan kesehatan juga bisa dicover, kalau menabung utk dana pensiun di tempat berinvestasi selain asuransi,apakah ada yang menjamin keamanan aset,kesehatan, bahkan bisa2 saja semua aset dan harta habis dirampok penyakit kritis yang kita tidak tahu kapan akan menghampiri kita, trims🙂

  21. Kalau dikatakan utk ‘dana’ pensiun, tentunya Investasi.🙂

    Ini karena asuransi tidak memberikan penghasilan (dana), malahan merupakan ‘pengeluaran’.

    Kalau pertanyaannya diubah menjadi untuk ‘persiapan‘ pensiun, maka memiliki kedua-duanya adalah hal yang ideal. Tetapi rekomendasi saya, sebisa mungkin investasi dan asuransi jgn dicampur (dgn kata lain, sebisa mungkin hindari produk unit-linked).

  22. Kurniawan

    Kalo boleh tahu, apa alasannya Pak Edi ? apakah karena hasil dari unit-linked kecil atau resikonya yang besar ?

    saya di tawari ‘inflation-linked Bond Fund’ dari HSBC brunei, kata marketingnya bagus untuk antisipasi inflasi dan cukup aman, bagaimana menurut opini Pak Edi.
    ini brosur online nya.
    http://www.hsbc.com.bn/1/PA_1_1_S5/content/brunei_51/images/inflation.pdf

    Terus terang saya bukan high risk taker.

  23. san

    wah sekarang bung edi merangkap jadi FP selain jadi dosen investasi online ya??😀

  24. @Kurniawan

    unit linked itu ‘mahal’. Dengan membeli asuransi dan berinvestasi secara terpisah, kita lebih bisa mengontrol biaya dan harga yg kita bayar…

    @san

    Jadi FP tanpa sertifikasi, bisa-bisa ditangkap saya🙂

  25. toto_lutu

    @Kurniawan

    Yg ditawarkan itu bukan unit-linked seperti yg dimaksud di sini (produk asuransi yg dikaitkan dengan investasi). Itu produk pengelolaan investasi (fund) yg mirip seperti bond (obligasi) tapi sedikit berbeda dari obligasi biasa karena ada faktor inflasi yg dapat mempengaruhi total imbal hasilnya.

    “an inflation-linked bond has its principal indexed to inflation. As the principal rises with inflation, the subsequent coupon payments are adjusted to reflect this change.”

  26. Kurniawan

    @toto_lulu,

    Jadi imbal hasilnya lebih baik dari bond fund biasa dan resikonya relatif aman seperti bond biasa , benar bgt ya ???

  27. toto_lutu

    @Kurniawan

    Seperti katanya sih begitu..tapi saya gak ngerti cara kerjanya.
    Kalau soal aman atau tidak, perlu dilihat lagi jeroannya.
    Gimana bro Ed?

  28. @kurniawan

    Baru sampai rumah, mandi dan baca prospektusnya…

    Jika saya dalam posisi Kurniawan, saya mungkin tidak terlalu tertarik dengan produk tersebut. Alasannya 2 :

    1. Feenya termasuk tinggi untuk ‘selera’ saya. 1,5% utk manajemen fee. Belum lagi melihat dari dokumen tersebut, sepertinya akan ada Sales Fee (5,25%?)

    2. sekitar 2/3 dari portofolionya ditempatkan dalam obligasi Amerika Latin, yang notabene resikonya relatif tinggi… Apalagi Kurniawan sudah mengatakan tidak terlalu tahan resiko🙂

  29. w.hendro.w.s

    asuransi itu penting sekali…….asuransi melindungi ekonomi jika kep kel ,sang pencari nafkah “tidak ada atau tidak mampu” lagi.

    jgn hanya melihat dari sisi jelek terus apalagi kurang paham,lihat sisi manfaatnya

    silakan hub saya telp atau sms yg belum punya prudential di xxxxxx@yahoo.co.id atau telp (021) 9114 xxxx atau 0819 xxxxxxxx ) dg senang hati saya akan menjelaskan dan tidak ada paksaan utk membeli,kec menginginkannya.

  30. Huuuuuu serunya kalo sudah bicara asuransi & investasi… kebeneran nih sy berkecimpung di industri asuransi udah 10th, dan sebagai agen. Kayaknya si bareng ma Bro Edison di inagurasi Nov lalu.

    Sebagai agen asuransi memang harus banyak yg diperbaiki budaya penjualan asuransi dari hard selling ke soft selling, dari product driven menjadi customer driven.

    Harus diakui bahwa investasi di UL & di reksadana hasilnya jauh berbeda. Mari kita sadari bahwa investasi memang sebaiknya dipisahkan dari asuransi. Saya menggunakan UL untuk manfaat asuransi. Bila dibandingkan dengan produk termlife atau wholelife untuk manfaat asuransi masih tetap lebih baik UL atau wholelife. Terutama untuk agen asuransi seperti saya, kekhawatiran nasabah tidak tepat membayar premi setelah 2 th tidak terlalu berlebihan, krn bila telat membayar 4 atau 5 bulan dan terjadi klaim, masih bisa dibayarkan klaimnya, sedangkan bila menggunakan termlife, pasti klaim tidak bisa dibayar. Tentu ada harga yang dibayar, lebih mahal sedikit dibanding dg produk termlife.

    Mengapa UL selalu dikatakan mahal oleh Financial Planner? karena kebanyakan agen asuransi menjualnya kurang tepat. Misalnya : untuk usia 30 tahun, dengan uang pertanggungan 500 juta, premi 20 juta. Padahal seharusnya dengan 5 juta pun UP 500 juta bisa didapat, sehingga 15 jt menjadi idle. Maka dari itu Financial Planner selalu membandingkan dg termlife.

    Untuk rekan-rekan sejawat, jangan khawatir dengan memisahkan investasi dari asuransi. Asuransi yang bisa dijual itu banyak sekali, asal kita paham produknya… (loh kok malah kasi wejangan heheh…). Dan jangan khawatir…karena menurut Financial Planner pun asuransi sangat penting dalam kesuksesan pencapaian perencanaan keuangan.

    Duh maaf bro Edi…. kok panjang yah nulisnya.

    • Sebenarnya artikel ini berbicara bukan mengenai spesifik produk Unit-linked, tetapi lebih ke hal yg ‘kontroversi’, yaitu apakah setiap orang perlu asuransi jiwa. Hanya saja akhirnya dalam bagian komentar jd menyinggung ke masalah produk unit-linked.

      Asuransi itu sendiri memang adalah suatu produk finansial yg baik, tetapi tentunya tidak setiap asuransi itu sama. Ini sama seperti halnya reksadana, meskipun sama-sama namanya reksadana, tidak setiap jenis reksadana itu baik.

      Saya sendiri melihat memang tidak banyak agen asuransi yg spt sis Rina DL, yg mengerti perlunya perubahan dari praktek di lapangan sekarang, harus menjadi lebih customer driven, dan bukan product driven (apalagi agent’s benefit driven🙂 ).

      Btw, kenapa ya agen asuransi unit-linked banyak yg ‘keras’ dan ‘defensif’ reaksinya, spt saudara hendro ini…

      oh ya, maaf ya mas hendro, bagian promosinya saya hapus, krn saya tidak kebagian komisinya… hahaha just kidding. Promosinya saya hapus karena saya sendiri tidak menyukai produk unit-linked, sehingga kurang pas rasanya kalau ada yg malah cari klien di blog ini…

  31. Ups… sorry, jadi melebar. Setelah saya baca ulang dari tulisan awal saya punya beberapa pendapat :

    1. ASURANSI KESEHATAN DI UL, Saya setuju dengan pendapat bro Edi. Allhamdullilah, sampai sekarang saya enggak pernah jual yg namanya kesehatan jadi satu dengan UL. Selain mahal, manfaatnya enggak maximal, tapi tujuan utama saya agar tidak terjadi salah pengertian dari klien (ini sering terjadi). Saya selalu sarankan ambil askes murni, tapi memang klien juga blum tentu mau, katanya uangnya hilang (hehehe ditelan bumi). Pokoknya dia bilang maunya seperti yang punya temennya yang ambil diperusahaan lain itu.Akhirnya kliennya pikir saya sok tau & tidak mau mengikuti kemauannya.
    2. ASURANSI UNTUK ANAK-ANAK, saya setuju tidak digunakan, apalagi dikatakan untuk dana pendidikan. Bagaimana bisa? yang punya nilai ekonomis ortunya. Tapi ada satu hal yang mungkin sekarang perlu saya rubah, berdasarkan pengalaman ada salah satu klien dari agen saya yang anaknya usia 2 th meninggal karena mangenitis (radang atau virus di otak), perlu dipikirkan asuransi penyakit kritis untuk anak-anak.
    3. LAJANG, minimal dia punya asuransi Personal Accident, dengan Rp. 100.000,- /tahun, UP bisa 100 juta, dan tidak di jual di perusahaan asuransi jiwa, tapi di general. Bila diperlukan asuransi penyakit kritis, bisa ambil asuransi penyakit kritis yang berdiri sendiri dan dijual biasanya bareng dengan kartu kredit, biayanya cukup murah.
    4. tambahan IBU RUMAH tangga hanya perlu asuransi untuk penyakit kritis.
    5. PASANGAN BERKELUARGA, menurut saya wajib mempunyai asurasi jiwa. Pertimbangannya bukan karena cicilan, tetapi lebih karena diperlukan biaya apabila tiba-tiba wafat. Meninggal jaman sekarang perlu uangnya banyak.Minimal bisa menutupi biaya pemakaman dan paketnya.

    Satu pendapat bro Edi yang sepertinya sulit ditemui dilapangan adalah seseorang mempunyai uang pertanggungan yang cukup. 1 diantara 1000 nasabah yang sudah punya UP cukup. Mengapa begitu? bagaimana mau punya uang pertanggungan cukup, kalo ambil asuransinya aja asal, dan tidak tahu cara mengetahui berapa UP yang diperlukan.

    Saya punya misi dan impian, 5 tahun ke depan image agen asuransi akan bergeser menjadi konsultan asuransi. Tentunya bukan pekerjaan mudah, dari 150 orang yang sudah mengikuti pelatihan menjadi perencana asuransi, masih saja bertanya bila mau prospek ” dikasi produknya apa yah? UP berapa yah? Ortunya sudah punya, anaknya aja yang ditawarin”… masih juga berfikir, “agent’s benefit driven” heheh pinjem istilahnya bro Edi. Maaf rekan-rekan sejawat, bila kita masih masih melakukan cara prospek yang lama, beberapa tahun kemudian kita akan menuai badai, seperti ditahun 2008.

    Banyak-banyak membaca buku dan mengikut training-training tambahan atau seminar, jangan sayang mengeluarkan investasi ilmu, bila kita memang komitmen pada industri asuransi, kepada klien, dan kepada diri sendiri.

    Bro Edi, tolong di edit yah…biar halus kebacanya, saya baru belajar nulis nih.

  32. Bbrp hari yl datang seorang agen asuransi “R” ke rumah kami. (Kebetulan, dia sudah keukeuh pengen memprospek kami).

    Pada dasarnya produk yang dia jual cukup lengkap mulai pendidikan, kes, jiwa baik UL maupun tradisional.

    Pada saat presentasi mengenai asuransi pendidikan, program yang dia pakai menggunakan input berapa premi yang harus dibayarkan setiap bulan, sehingga nanti keluar berapa uang yang bisa diklaim per-termnya.

    Yang lucu, waktu saya balik bertanya, bagaimana kalau saya memerlukan uang sekian saat anak saya nanti kuliah, berapa premi yang harus saya bayar setiap bulan, teman agen kami sangat kebingungan dan sampai menelepon managernya :)…
    Jadi saya pikir konsepnya kok terbalik, gitu. Seharusnya waktu kita nge-plan, kita harus tahu dulu tujuan kita (berapa jumlah uang yang kita perlukan) saat nanti…

  33. nah itu sudah mulai dengan cicilan investasi di reksadana…tinggal dipantau aja kan…. tp pada waktu membuat cicilan investasi, sudah tahu kebutuhan dana pendidikan dimasa yang akan datang?

  34. fahmi

    Tertarik banget nih ngikutin diskusi asuransi

    Saya pingin tahu lebih jauh tentang produk asuransi jiwa syariah yang sekarang cukup marak terbit, gimana pandangan Bos Edi atau Mba Rina?

    Terus kalo semisal instrument asuransi digabung dengan investasi apa memang secara keseluruhan lebih menguntungkan?

    • Kalau mengenai Asuransi Syariah, nanti biar Konobe yang menjawab🙂, karena itu topik favorit dia…

      Saya sendiri lebih menganjurkan utk memisahkan antara asuransi dan investasi, karena akan lebih mudah untuk mengontrol biaya dan juga mentrack hasil dari investasi. Untuk melakukan rebalancing portofolio juga akan lebih mudah.

      Tidak benar jika produk unit-linked (investasi+asuransi) itu lebih ‘menguntungkan’🙂

    • konobe

      ^^ tiba-tiba didaulat untuk jawab, jadi malu…😛

      Mengenai asuransi syariah. Kalau melihat dari aspek syariah jelas akan berbeda karena dihalalkan oleh MUI dalam Fatwanya. Bahkan sistem dasar risiko yang dianut pun berbeda. Asuransi biasa menganut sistem risk transfer sedangkan yang syariah menganut risk sharing.

      Tapi kalau kita cuma membandingkan dari sudut pandang keluarnya uang ya sama saja. Kita tetap mengeluarkan premi dan mendapat pertanggungan sesuai dengan premi yang dibayarkan. Besarnya nilai premi juga relatif bersaing. Fasilitas yang ditawarkan pun begitu.

      Memang ada beberapa hal unik yang bisa kita temui di asuransi syariah dan menguntungkan dari sudut pandang ekonomi /konsumen karena perbedaan akad tersebut. Antara lain:
      1. Adanya opsi pengembalian premi jika ada sisa dari total premi dikurangi total klaim. Namun tidak semua asuransi syariah menganut opsi ini.
      2. Adanya perbedaan akad –> Jumlah dan persentase biaya yang dikeluarkan akan terlihat lebih transparan.
      3. Pembatasan pertanggungan untuk hal yang sesuai syariah (ini masih perdebatan). Misal: kalau meninggal di bar dan lagi mabuk-mabukan, atau meninggal di tempat prostitusi, klaimnya diganti ga?

      Yang saya tahu, beberapa nasabah yang bukan muslim justru mengambil syariah karena merasa asuransi syariah lebih transparan dan hasil investasi (via asuransi) nya sempat lebih tinggi dari yang biasa. CMIIW🙂

      • konobe

        mau nambahin kekurangan asuransi syariah:
        – karena asuransi syariah ini cukup baru, dana cadangan risiko nya juga masih kecil hingga ada beberapa asuransi syariah yang preminya lebih tinggi dibanding asuransi biasa
        – ada beberapa produk yang susah sekali ditemukan dalam asuransi syariah terutama produk yang sifatnya murni. Entah kenapa asuransi syariah saat ini sepertinya banyak yang fokus pada produk campuran investasi.

      • mau comment sedikit tentang kenapa asuransi syariah produknya asuransi plus investasi, mungkin saja karena produk tradisional semuanya ditentukan dari awal sehingga blum pas untuk syariah.

    • Oit…baru liat ada tulisan ditujukan kepada saya. Tentang asuransi syariah sudah dijawab oleh Konobe.

      Tentang asuransi digabung dengan investasi, menurut saya tergantung dari pengetahuan orang itu sendiri. Misalnya Mas Fahmi sudah mengetahui tentang jenis investasi yang lebih bagus dari instrumen investasi di asuransi misalnya reksadana, lebih baik memisahkan asuransi dari investasi. Tetapi bagi yang belum mengetahui tentang reksadana, sebagai sarana belajar boleh saja berinvestasi di asuransi. Setelah mengerti Reksadana atau investasi yang lebih baik, investasi yang sudah ada diasuransi lebih baik dipindah ke Reksadana. Sejujurnya hasil investasi di reksadana jauh lebih baik dari produk investasi di asuransi, tetapi jangan lupa pada waktu krisis tahun lalu, ketika reksadana minus 50%, produk investasi di asuransi mengalami minus 30%, oleh karena itu menurut saya investasi di asuransi sarana untuk belajar berinvestasi di reksadana. Kalau langsung mau reksadana itu lebih bagus.

      Pengalaman saya kepada klien2 saya yang saya anjurkan untuk memilih investasi di reksadana, malah sampai sekarang blum ambil reksadana, dan mereka umumnya kurang berminat untuk belajar. Sehingga akhirnya masih tetap kepada produk bank. Atau yang lebih parah lagi, setelah klien sampai di Bank untuk membeli reksadana, klien telpon saya tanya beli reksadananya apa? (pegawai bank jarang yang cukup paham reksadana).

      Begitulah menurut pendapat saya.

      • san

        setuju ma bu Rina… emang kalo urusan investasi… kayaknya mending belajar sendiri daripada ngandelin agen-agen penjual yang kadang cuma liat komisi tapi ga tau apa yang didagangin…. *bete*

      • ga semua bgitu kok San. jangan salah bu Rina ini agen asuransi teladan. aku dpt komisi ga ya. he..he..🙂 (harap mode on)

  35. Menurutku ini link yang bagus untuk membuat perhitungan apakah lebih baik investasi+ asuransi disatukan (unit link) atau dipisah http://priyadi.net/archives/2007/10/18/hitung-hitung-asuransi-unit-link-vs-terpisah/

    • eh baru baca, tnyata tulisanku yg jd sumber ‘pertengkaran’ ya antara bu Rina & Arya. jadi ga enak. aku juga mohon maaf untuk smuanya ya.

  36. Thanks Felicia…. dalam melihat perbandingan harus juga berhati-hati , jangan langsung menjadi pengangan. Menurut saya lihat juga background dari orang tersebut. Sekarang ini saya melihat banyak orang “sok tau” menulis tentang satu tema yang sebenarnya tidak dikuasainya. Yang akhirnya menjadi bahan tertawaan bagi orang yang cukup paham.

    Panduan dari saya bagi pembaca blog JS ini lebih baik pisahkan investasi dari asuransi, karena menurut saya pembaca JS sedikitnya mengerti instrumen investasi non produk bank. Setuju gk bro Edi?

    • arya

      Bu, tolong dijelaskan secara teratur, bagian mana yang menurut ibu sebaiknya diperbaiki. Atau menurut ibu tulisannya salah, dan yang benar adalah “demikian..demikian..”.
      Jadi kami bisa paham juga bu.
      Kalo dari tanggapan ibu yg menulis “sok tau” dan “bahan tertawaan..”, menurut saya ibu harus instrospeksi diri. Karena justru dengan menulis seperti itu, ibu keliatan kurang adil.
      Saya juga bisa mengatakan siapa saja termasuk ibu “sok tahu”, namun saya harus bertanggung jawab dibagian mana saya men-judge ibu “sok tahu”.
      Silahkan dipaparkan bu, dibagian mana orang yg ibu katakan dengan lancar “sok tahu” itu kurang tepat pendapatnya. Kami tunggu penjelasannya.

      Soal background, rasanya kurang adil bu. Bahkan siapa saja yg tidak berilmu pun boleh mengemukakan pendapat. Tanpa ada seorang pun yg menuding nya “sok tahu”.
      Sekali lagi kalau ada salah, silahkan tunjukkan yg benar. Kalau pendapat ibu mengenai background diterapkan, lalu bagaimana dengan pernyataan ibu bahwa banyak agen asuransi tidak menguasai bidangnya ? berarti mereka “sok tahu” juga ?

      Intinya saya merasa tulisan di link itu adalah akibat timbulnya hal yg kurang jelas yg diterima kami sebagai orang awam mengenai hal tertentu oleh sebagian agen asuransi (sesuai pendapat ibu juga kan ?) .

      • Eitttttttt…… maaf bro Arya, tulisan saya ternyata membuat anda tersinggung. Maaf sekali lagi, sebenarnya saya tidak bermaksud menyinggung siapun. soal tulisan diatas mohon maaf karena terlajur ditulis (itu adalah pendapat saya pribadi yang tidak perlu diungkapkan disini).

        Kalau tentang sebagian agen asuransi kurang menguasai bidangnya, itu juga diakui oleh agen-agen asuransi. Saya pun demikian, begitu banyaknya produk asuransi ditempat saya menjadi agen dan saya tidak menguasai seluruhnya. Untuk produk yang tidak saya kuasi, saya akan memberikan kepada rekan atau divisi yang menguasainya.

      • arya

        Baik bu, berarti hanya opini pribadi saja. Karena yg saya lihat ibu pun mengeluarkan pendapat yg kurang lebih sama : mengambil unit link maka hasil investasi yg diperoleh lebih kecil dibanding mengambil terpisah reksadana.
        Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
        Yg membuat saya mengerutkan kening dan merasa kurang “fair” adalah melabeli seseorang bu.
        Seperti yg kita tahu, seorang warren buffet saja bisa salah dalam bidang yg mungkin sangat dipahaminya yaitu masalah investasi.
        Toh, pada akhirnya Pak Priyadi juga punya asuransi bukan ?
        Bukankah artinya beliau bisa jadi calon konsumen Ibu ?

  37. bagus juga komen-komennya,
    masih tetap dengan kepala dingin dan hati bersih.
    kalo inget koment di “SCAM” pengin ketawa sendiri…
    lho koq malah ngelantur…
    btw, ternyata saya sekarang tambah 1 ilmu lagi tentang asuransi, alhamdulillah saya masih berpikir “interogatif” tentang asuransi, jadi saya harus bertanya beberapa hal seperti di post ini kepada diri saya sendiri.
    jadi, asuransi itu dibeberapa keperluan penting, dan memisahkan asuransi dengan investasi juga wajib. siiip…

  38. @ bro Aria….. wah wah wah….ternyata bro menghubungkan tulisan saya dengan Priyadi toh! heheheh maaf banget bro…saya klarifikasi sekarang bahwa maksudnya bukan Priyadi….. kalaupun saya punya pendapat pribadi, bukan Priyadi orangnya. Saya juga sudah liat di blognya Priyadi kira2 setengah tahun yang lalu. Perbandingan beliau cukup fair, walau hanya dibandingkan dengan satu produk unitlink. Saya setuju dengan beliau. Jadi perlu dicatat….yang saya maksud dengan tulisan saya orangnya tidak ada si blog Bro Edison.

    Mengenai agen asuransi yang banyak tidak menguasai bidangnya itu sih rasanya bener abizzzzzzzzzz (kalo anak saya gayanya gitu tuh…pake abizzzzzzzzzzzzz), karena sayapun yang sudah cukup lama di industri itu sekarang sedang ambil sekolahnya lagi khusus asuransi (LUF). Dan semakin benar, bahwa banyak hal yang baru disitu.

    oh ya ini tulisan bro ini maksudnya apa yah? “Yg membuat saya mengerutkan kening dan merasa kurang “fair” adalah melabeli seseorang bu” (copy paste dari tulisan bro Arya).

    • arya

      Pertama-tama terima kasih atas klarifikasinya dan saya minta maaf apabila ada kata2 yg salah.
      Link dari felicia saya klik kemudian saya membaca tulisan ibu, saya kira ibu masih berkomentar seputar isi link tersebut karena tulisan ibu diawali dengan “thanks felicia….”.
      Saya pribadi suka dengan diskusi yg baik, jadi maaf bu, ketika saya kira ibu mengkomentari isi link tersebut tanpa menyebutkan bagian yg salah, timbul pertanyaan dr diri saya.

      Klarifikasi saya tentang tulisan saya yg ibu tanyakan (sekali lagi, ini saya tulis ketika saya kira ibu mengkomentari isi link yg diberikan felicia) : Silahkan ibu sebut seseorang “sok tahu” dalam arti beliau salah isi pendapatnya, namun berikan juga keterangan tentang apa yg menurut ibu benar.
      Ternyata bukan penulis link itu (pak priyadi) yg ibu maksud, jadi tulisan saya pun tidak relevan lagi. Oleh karenanya saya minta maaf.

      Intinya saya bingung, pendapat ibu sama atau tidak dengan pak priyadi (karena kok sama, tapi saya pikir ibu bilang beliau sok tahu). Sekali lagi ternyata sama, kalau begitu bagi saya jelas. Terima kasih dan mohon maaf kalau ada kata2 yg salah.

      Ngomong2 saya begitu peduli karena kalau saya tidak salah ingat, Ibu pernah dipuji sebagai salah satu pemberi komentar yg baik oleh Pak Edison. Jadi kurang lebihnya pendapat ibu pun saya jadikan tambahan pengetahuan.

      • Piye toh??????? ….. ilmu menulis saya masih dalam taraf belajar, makanya jadi salah menangkap. Bro Arya sepertinya sangat peduli dengan Priyadi??? setelah saya lihat2 malah saya buka blog priyadi setahun lalu. Supaya lebih jelas maksud saya seperti ini: bila kita sedang mencari perbandingan, maka kita akan melakukan browsing, dan tentunya banyak hal yang akan kita temui. Nah disinilah kita harus cukup selektif dalam melihat perbandingan itu. Sudah segitu aja ah, khawatir salah persepsi lagi.

        Rasa-rasanya gk pernah tuh Edison memberikan pujian kepada komentar saya, bener gk bro Edison?

        Walau belum lebaran, mari kita saling memaafkan, dan menunggu ditraktir bro Edi yang berulang tahun dan merayakan Waisak.

      • arya

        Saya sangat berterima kasih atas ilmu yg disharing rekan-rekan semua di sini.
        Terutama dari Pak Edison.
        kesimpulannya saya sangat peduli dan hormat dengan Pak Edison =D
        Blogrolls pertama di JS ini adalah priyadi’s place (walau sekarang keliatannya beliau sedang hobi plurk).
        Jadi jika Pak Edison sampai menempatkan seperti itu sebagai salah satu sumber ilmu, saya sangat peduli dan hormat dengan Pak Priyadi =D
        Jika saya lihat komentar Bu Rina tanggal 6 Agustus 2008 jam 7.56 am beserta tanggapan Pak Edison (saya anggap ini pujian), saya sangat peduli dan hormat dengan Bu Rina =D
        Demikian bu.

  39. toto_lutu

    yg jelas..
    sebelum membandingkan dengan berbagai metoda dan alat ukur – yg gak jarang malah jadi kelihatan lebih ribet – (singkatnya sih ‘kritis’), lihatlah dengan benar terlebih dahulu..

    you can’t think about it correctly when you can’t see it correctly..

  40. @ Arya…. peace aaaaah (anaku suka bilang gitu), oke terima kasih yah, jangan dianggap ini perselisihan. Perbedaan pendapat kan biasa, hanya kita sebagai orang Indonesia lebih sering merasa enggak enak. Perbedaan pendapat seperti ini bagus tentunya, dan akan menjadikan koreksi bagi kita masing-masing. Tentunya saya harus lebih berhati-hati dalam menulis.
    @Felicia, bukan ‘pertengkaran”, hanya miss com, namanya juga menggunakan tulisan.

    Mari kita lanjutkan diskusi-diskusi lainnya. MERDEKA

    • arya

      Terima kasih bu. Semoga menjadi bahan koreksi dan perbaikan khususnya bagi diri saya sendiri.
      Selama ini saya termasuk yg salut atas usaha Bu Rina dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang asuransi.
      Senada dengan Pak Edison, saya dukung usaha Bu rina =D Sukses ya bu.

  41. Heheheh seru juga nih….. blog JS jadi sarana buat mengoreksi diri masing…. Thanks juga Bro Arya sampai ketemu ditulisan berikutnya dan perbedaan pendapat berikutnya.

  42. anti73

    Mau tanya,sy dan suami blm mempunyai anak. usia suami 32 thn. Yg mau sy tanyakan,apakah suami lbh baik ambil asuransi jiwa atau reksadana sj,mengingat segala cicilan yg kami miliki spt rmh dan mobil telah dilindungi oleh asuransi jiwa,dan jg perkiraan jika suami meninggal dgn tenang di usia 60-70thn,UP yg akan di dpt hanya bs dipakai selama 1 tahun sj,dan jika dibandingkan dgn hasil yg diperoleh jika diinvestasikan di reksadana hasilnya akan jauh lebih bernilai dan besar. Mohon penjelasannya

    • Bro Edison, saya jawab pertanyaan sis Anti.

      1. Saya belum pernah mengetahui kalau beli mobil ada asuransi jiwanya. Yang pasti asuransi mobil kalau belinya cicilan. Nah kalau yang bayar cicilannya tidak bisa membayar lagi karena dipanggil YME, gimana?
      2. Meninggal tidak bisa diperkirakan. Semua orang berharap wafat pada usianya dan wafat dengan tenang. Misalnya kalau wafat pada usia 70 tahun, tetapi sebelum wafat sempat dirawat dirumah sakit, dan memerlukan biaya banyak, bagaimana menanganinya secara finansial?
      3. Asuransi itu manfaatnya bukan hanya death benefit, tapi juga ada living benefitnya.
      4. Asuransi diperlukan juga untuk biaya penyesuaian bila terjadi musibah.
      5. Asuransi juga bermanfaat untuk memberikan proteksi terhadap aset-aset dan sebagai replacement income.

      Supaya lebih lengkap referensinya, sebaiknya baca di http://www.portalreksadana.com/node/381, tentang asuransi termlife & UL.

      Bro Edi bisa nambahin buat jawabannya nih

  43. ade suryati

    selamat siang
    saya sorang istri dan seorang ibu dari satu orang putra, anak saya sekarang berusia 10 bln yang ingin saya tanya kan asuransi apa yang sebaik nya saya ambil? asuransi jiwa, investasi, asuransi jiwa + investasi, atau asuransi pendidikan.
    saya, suami, anak blm pernah memilik asuransi, dan kurang begitu paham mengenai asuransi,
    pendapatan kami berdua bisa di bilang pas pasan, maka dari itu kami berdua ingin menyisihkan sebagian uang kami untuk masa depan anak kami agar hidup dia kelak sejahtera dan bisa sekolah tinggi ( kuliah ) tidak seperti orang tua nya.

    saya pernah di jelas kan oleh sales asuransi, kata nya jika kita menabung di bank, misal nya satu bulan 300rb, setahun 3.600.000, jika di antara kita bertiga ada yang sakit maka uang tabungan tersebut otamatis akan terpakai untuk biaya rumah sakit, bahkan biaya nya bisa lebih dari itu.

    tetapi jika kita ikut asuransi yang sales itu tawar kan, misal nya satu bulan kita bayar 300rb, sampai sepuluh tahun, maka uang tersebut akan tetap ada, dan jika kita sakit ( orang yang punya asuransi sakit ) maka akan di biaya oleh pihak asuransi, tanpa memotong uang yang kita tabung,

    yang ingin saya tanya kan ?
    1. apakan benar yang sales asuransi itu kata kan ?
    2. ada gak yach asuransi yang bayar nya gak sampe 10 tahun?
    3. kalau misalkan saya ikut asuransi, baru bayar bulan nan nya 3 bulan, saya sakit kritis, apa kan akan di tanggung biaya rumah sakit saya?
    4. sakit apa saja yang tidak di tanggung asuransi tsb?
    5. ada juga yang bilang klaim asuransi itu susah, ada juga yang bilang salah satu asuransi yang kalau nasabahnya sakit, biaya rumah sakit nya di bayar dulu sama nasabah, baru di klaim ke pihak asuransi nya, baru deh nasabahnya dapet pergantiannya, ribet bgt yach
    6. nah kalo misal nya nasabahnya selama 10 tahun itu gak sakit, gak pernah di masuk rumah sakit, gimana tuh sama tabungan nya? tetep di kasih gak?
    7. kalo misal nya nasabahnya mau abil pas tahun ke 10. syarat syarat nya apa aja? di potong biaya apa aja?
    8. kalo pas kita klaim asuransi, trus pihak asuransi nya gak bayar, gimana tuh, rugi dong.. hahhaaaahaaa….. kok bisa gak di bayar kenapa tuh… trus lapor kemana tuh kalo uang kita gak di bayar… wkwkkwkk gak mau rugi doang

    maaf banyak nanya.. maaf juga tulisan dan kata kata nya acak acakan
    soal nya saya gak ngerti masalah asuransi

    thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s