BOND…. James BOND

Mungkin hampir semua orang pernah mendengar kalimat yang saya jadikan judul post ini. Aktor kawakan Sean Connery adalah orang yang pertama kali mengucapkan kalimat tersebut dalam film Dr. No di tahun 1962, film pertama dalam franchise James Bond. Kalimat itu sendiri lalu menjadi ciri khas James Bond untuk memperkenalkan dirinya, dan termasuk salah satu kalimat yang paling diingat (memorable) dalam sejarah perfilman. Dalam post ini, BOND yang ingin saya bicarakan bukanlah agen rahasia 007 dari badan intelligen MI6 Inggris tersebut. Meskipun demikian,  BOND yang menjadi topik post ini ini tidak kalah banyak penggemarnya. BOND yang saya maksud di sini adalah BOND, si instrumen investasi, atau yang kita kenal di Indonesia sebagai OBLIGASI.

BOND (OBLIGASI) adalah sebuah instrumen hutang dan termasuk salah satu kelas aset utama (Major Asset Class) yang disarankan sebagai investasi untuk setiap orang. Mungkin sebagian pembaca yang belum terlalu akrab dengan instrumen investasi akan bertanya, apa itu Bond/Obligasi? Bagaimana cara kerjanya? Untuk itu, post ini akan menjelaskan beberapa hal yang mendasar tentang bond/obligasi.

Pada intinya Obligasi itu merupakan sebuah surat hutang yang diterbitkan oleh suatu institusi/lembaga, yang menyatakan bahwa institusi itu berhutang kepada orang yg membeli obligasi tersebut, di mana sebagai “imbalan” atas hutang tersebut, institusi tersebut akan memberikan sejumlah bunga setiap tahunnya kepada pembeli obligasi tersebut. Pokok dari hutang itu akan dibayarkan setelah tempo waktu tertentu. Lamanya tempo waktu dari penerbitan obligasi hingga pembayaran pokok hutang itu disebut sebagai masa jatuh tempo/Maturity Period.

Dalam dunia finansial, obligasi ini diperdagangkan, sehingga seseorang yang berinvestasi dalam obligasi tidak perlu menunggu hingga obligasi itu jatuh tempo/mature utk mendapatkan kembali pokok hutangnya. Dia cukup menjual obligasi tersebut di pasar, dimana biasanya harga pasar obligasi biasanya relatif stabil dibandingkan dengan harga saham.

—–oOo—–

Beberapa konsep dasar yang perlu kita ketahui untuk mulai berinvestasi dalam  obligasi antara lain :

  • Pokok (Principal/Par Value) : nilai pokok dari setiap lembar obligasi
  • Kupon (Coupon) : besarnya bunga yang akan diterima setiap tahunnya.
  • Tanggal Jatuh Tempo (Maturity Date) : yaitu tanggal dimana pokok dari obligasi itu akan dibayarkan kepada pemegang obligasi
  • Periode Jatuh Tempo (Maturity Period) : jangka waktu dari saat ini hingga Maturity Date.

Ilustrasi 1:

PT. Jangan Serakah membutuhkan dana utk investasi. Utk ini, PT. Jangan Serakah memutuskan untuk menerbitkan obligasi yang kita akan sebut obligasi JS-1. Nilai Pokok/Principal/Par Value dari obligasi ini Rp 100 juta. Maturity Period = 1 thn. Kupon (bunga) dari obligasi ditetapkan 10% dari Nilai Pokok, dalam hal ini berarti 10%xRp 100jt = Rp 10 juta. (Ingat, jumlah nominal bunga ini adalah tetap dan tidak akan berubah-ubah). Jumlah obligasi yg diterbitkan hanya 1 lembar, dan dibeli oleh kita

—–oOo—–

Dalam prakteknya, harga pasar obligasi tidaklah selalu sama dengan Principal. Hal ini bisa diakibatkan oleh beberapa hal yang akan kita lihat di bawah. Dalam hal ini ada bebeberapa konsep tambahan yang perlu kita ketahui terlebih dulu :

  • Discount : Harga pasar obligasi lebih rendah daripada nilai Par-nya
  • Premium : Harga pasar obligasi lebih tinggi daripada nilai Par-nya
  • Harga Par (Trading at Par) : Harga pasar obligasi sama dengan nilai Par-nya
  • Current Yield: Tingkat hasil yang didapat investor itu, didapat dari perbandingan kupon dan harga pasar.
  • Yield To Maturity : Tingkat hasil yang akan didapat investor obligasi, jika ia memegang obligasi itu hingga jatuh tempo, dengan asumsi bahwa semua kupon yang diterima dari obligasi itu, diinvestasikan kembali pada tingkat bunga yang sama.

Dari konsep tambahan di atas, kita bisa lihat bahwa Yield dari suatu obligasi sangat terkait pada harga pasarnya. Untuk menghitung Current Yield dari obligasi itu relatif sederhana. Kita hanya perlu membagi  besarnya nilai nominal bunga dengan harga pembelian. Untuk lebih jelasnya kita akan akan melanjutkan kembali ilustrasi 1 di atas.

Ilustrasi 2 :

Sewaktu membeli obligasi JS-1, ternyata banyak peminat lainnya yang ingin membeli obligasi itu. Akibatnya kita terpaksa membeli dengan premium 1% di atas nilai par, yaitu sebesar Rp 100juta+1%=Rp 101 juta. Ketika kita membeli dengan harga itu, Current Yield yang kita terima bukanlah 10% (sebesar kupon obligasi itu).  Current Yield yang sebenarnya kita terima adalah Rp 10 juta/Rp 101 juta = 9,9%.

Untuk menghitung Yield To Maturity relatif sedikit lebih rumit, karena keuntungan/kerugian  dari harga beli obligasi juga diperhitungkan. Pada contoh di atas, kita membeli obligasi seharga Rp 101 juta. Padahal sewaktu mature, nilai uang yang kita terima hanyalah sebesar pokok/principal, yaitu Rp 100 juta, sehingga kita mengalami kerugian sebesar Rp 1 juta.

Kerugian Rp 1 juta di atas, turut diperhitungkan dalam tingkat Yield to Maturity. Untuk kasus ini, tingkat Yield to Maturity adalah 8,91% , yaitu didapat dari aritmatika sederhana [(110/101)-1]*100%. Bagi yang tidak mau repot/pusing, bisa juga memakai kalkulator Bond Yield online yang banyak tersedia di internet, misalnya di sini. Perlu diketahui, umumnya ketika investor obligasi berbicara mengenai Yield, yang mereka maksud adalah Yield to Maturity.

Jika kita perhatikan dari berbagai contoh di atas, kita bisa melihat pola hubungan antara Harga Pasar dan Yield. Jika harga pasar obligasi naik, maka Yield turun. Sebaliknya jika harga pasar obligasi turun, maka tingkat yield naik. Hubungan terbalik antara yield dan harga pasar ini sangat penting untuk diingat setiap investor obligasi.

11 Comments

Filed under Instrumen Investasi

11 responses to “BOND…. James BOND

  1. hi,

    misalnya ORI YTM = 10%, dengan asumsi kupon diinvestasikan kembali dengan bunga yang sama. Dimana kita bisa menginvestasikan kupon tersebut dengan tingkat bunga yang sama ?

    terima kasih

  2. Blazy DK

    matap ada link menuju kalkulatornya
    kmaren2 mau minta lupa terus :hammer:

  3. edison76

    Memang YTM itu adalah nilai yg ada komponen asumsinya. Misalnya saat kita membeli ORI, dan misalnya current yieldnya 10%, maka penghitungan YTM-nya menggunakan asumsi bahwa semua bunga/kupon (bunga) yg kita terima selama memegang obligasi itu bisa kita investasikan pd tingkat 10% itu.

    Tentu saja dalam prakteknya, belum tentu bunga yg kita terima di kemudian hari bisa kita investasikan dengan hasil 10%, karena harga obligasi saat itu sudah berubah lagi (sehingga yieldnya jg berubah)

  4. hai para senior..
    Dimana bisa beli obligasi ya? Bukan ORI tapi obligasi swasta macam punya indosat, bakrie dsb ?

    terimakasih


    Edison:
    Bisa lewat perusahaan sekuritas, ada juga beberapa bank yang melayani ini. Tetapi nominalnya biasanya besar.

  5. aryk

    pak,
    tertulis di ilustrasi 2 bahwa “Sewaktu membeli obligasi JS-1, ternyata banyak peminat lainnya yang ingin membeli obligasi itu. Akibatnya kita terpaksa membeli dengan premium 1% di atas nilai par, yaitu sebesar Rp 100juta+1%=Rp 101 juta.”

    pertanyaan saya adalah: kata-kata kita terpaksa membeli itu maksudnya membeli dari PT Jangan Serakah atau gimana y?

    just another stupid question….

    Edison:Dalam contoh ini, kita membelinya dari PT Jangan Serakah. Untuk mudahnya, anggap saja dalam menjual obligasinya itu, PT Jangan Serakah mengadakan lelang. Karena banyak orang lain yg berminat beli juga, sewaktu lelang kita terpaksa membelinya dengan harga di atas harga par.

  6. udin

    Quote :”Kerugian Rp 1 juta di atas, turut diperhitungkan dalam tingkat Yield to Maturity. Untuk kasus ini, tingkat Yield to Maturity adalah 8,91%”
    bung, YTM 8,91% itu apakah artinya di akhir periode yg kita dapat 101 x (1+8,91% )(sory msh binun konsep ytm sendiri)
    apakah angka yg kita dapat dr ytm valid, krn disini kita tdk memperhitungkan inflasi?

    thanks.

  7. @udin

    Dalam penghitungan hasil, biasanya memang tidak memasukkan komponen inflasi. Ini karena inflasi tidak bisa diperkirakan, dan baru bisa dihitung setelah terjadi. Sedangkan utk obligasi, hasilnya sudah bisa dihitung sejak pembelian obligasi tersebut…

    Utk YTM, sederhananya : jika anda membeli obligasi, dan YTM-nya 10%, artinya jika anda membeli obligasi tersebut dan memegangnya sampai jatuh tempo (ingat, harus sampai jatuh tempo), maka tiada bedanya dengan anda menabungkan uang anda tersebut selama itu dengan bunga 10%.

  8. 2easy4bee

    keren, mo cek dolo akhHH harga2 bond yang ada sekarang, tar nanya deh ke bung edison….boLehkan ??

    Regards

  9. Pingback: pinkynet.web.id

  10. Madyan

    Pak, klo yield to call itu apa..??gimana cara menghitungnya..??misalkan :
    Obligasi dengan nilai nominal Rp.2.000.000.000.000,– diterbitkan pada tanggal 15 Mei 2007 berjangka waktu 5 (lima) tahun, memberikan kupon bunga tetap kepada pemegangnya sebesar 10,0125% per tahun. d. Jika Emiten melunasi Obligasi yang dimiliki pada 15 Mei 2010, berapa Yield to Called nya??jika harga pasar pada tanggal tersebut 99,2%?
    terimakasih..

  11. av_nee

    saya mo tanya, trus fungsinya YTM itu apa bagi investor?
    apakah YTM itu spt nilai intrinsik dari sebuah obligasi?
    terimakasih sebelumnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s