Edison’s Week in Review: 5 Juli 2008

Minggu ini adalah minggu yang lumayan ‘ramai’ karena banyaknya hal menarik yang terjadi.

Di Amerika, hari Rabu kemarin (2/7) Index saham Dow Jones dan Nasdaq secara ‘resmi’ memasuki Bear Market setelah turun 20% dari titik tertingginya di bulan Oktober 2007. Di Eropa, ECB (European Central Bank) mengumumkan kenaikan suku bunga (yang sempat saya singgung dalam post kemarin) dari 4% ke 4,25%. Kenaikan suku bunga ini dilakukan oleh ECB dalam upaya meredam inflasi di kawasan Uni-Eropa.

Dari sektor komoditas, di minggu ini harga minyak bumi cenderung bergerak naik, dan mencatat rekor tertinggi baru di sekitar angka $145-$146 per barrel. Kenaikan ini juga diikuti oleh komoditas lainnya seperti kacang kedelai yang sempat mencatat rekor tertinggi setelah melejit 9% dalam 1 minggu terakhir. Cerita komoditas jagung juga tidak jauh berbeda.

—–oOo—–

Dari dalam negeri, berita terbesar minggu ini mungkin adalah anjloknya IHSG hingga 3,87% pada hari Kamis (3/7) . Berita besar lainnya (walaupun sudah diantisipasi oleh pasar) adalah kenaikan BI Rate dari 8,5% menjadi 8,75%. Sama seperti ECB, BI juga terpaksa menaikkan suku bunga ini akibat tingkat inflasi. Dengan kenaikan kali ini, berarti dalam 3 bulan terakhir, telah dilakukan 3 kali kenaikan BI Rate.

Ketua KADIN pun mulai gerah dan ‘titip pesan’ kepada pemerintah agar BI rate jangan sampai lebih dari 10%, karena bunga pinjaman (yg tentunya akan di atas 10%) yang ditanggung oleh dunia usaha akan sangat berat, terlebih mengingat dunia usaha sudah ‘kena gebuk’ kenaikan BBM dan awal tahun depan akan ‘digebuk’ lagi oleh kenaikan UMR yang saya perkirakan akan cukup besar.

—–oOo—–

Kembali ke topik inflasi, di minggu ini BPS (Badan Pusat Statistik) mengumumkan inflasi Juni sebesar 2,46%. Ini sedikit lebih kecil dari perkiraan saya (meskipun demikian saya tetap optimis dengan perkiraan saya bahwa inflasi tahun ini akan mencapai 15%). Kenaikan harga resmi elpiji di awal bulan ini sebesar 23% semakin membuat saya berpendapat bahwa target pemerintah bahwa inflasi 2008 akan sebesar 11-12% kurang realistis.

Bagi sebagian orang (termasuk saya), pengumuman tingkat inflasi BPS bulan ini sedikit ‘tercemar’ karena BPS menggunakan metodologi baru dalam penghitungan inflasinya. BPS juga mengumumkan bahwa tahun 2007 akan dipakai sebagai patokan baru dalam perhitungan tingkat inflasi (sebelumnya tahun 2002). Dengan sistem baru ini, inflasi periode Januari-Juni 2008 diumumkan sebesar 7,37%.

Penggantian metode penghitungan dan tahun patokan oleh BPS ini agak menimbulkan ‘tanda tanya’ karena timingnya yang dilakukan ‘bertepatan’ setelah kenaikan BBM Mei kemarin. Pada bulan Oktober 2005, akibat kenaikan BBM, dalam 1 bulan inflasi naik sebesar 8,7%. Apakah pemerintah ‘trauma’ pada kejadian waktu itu sehingga lalu ‘titip pesan’ kepada BPS: “mas, tolong dong dikotak-katik sedikit cara hitungnya agar inflasi tidak mencolok...”. Salah satu pembaca blog ini bahkan melontarkan komentar miring bahwa jangan jangan pemerintah sering-sering mengganti tahun patokan untuk menyamarkan fakta bahwa rupiah terus menerus kehilangan daya belinya. (Thanks utk komennya, bro Rachmat)

—–oOo—–

Berita lain di minggu ini yang menarik bagi saya adalah tentang APBN Indonesia yang dikatakan akan jebol jika harga minyak sampai dan bertahan di $150/barrel (jauh di atas asumsi APBN). Jika skenario itu terjadi, pemerintah mungkin terpaksa akan menaikkan harga BBM lagi, karena beban subsidi terlalu besar.

Mengingat kenaikan BBM pertama saja sudah menimbulkan reaksi keras dari masyarakat, saya agak was-was jika membayangkan kenaikan BBM gelombang kedua. Kalau saya pikir-pikir, sepertinya ekonomi riil negara kita ini ibaratnya petinju yang baru kena pukulan kombinasi beruntun sehingga sekarang sudah terhuyung-huyung. Satu atau dua pukulan telak lagi, bisa bisa ekonomi kita pun KO.

Sulitnya di sini adalah bahwa pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa karena memang kondisi sekarang ini ditimbulkan oleh kondisi di pasar global yang tidak bisa dikendalikan ataupun dipengaruhi oleh pemerintah. Oleh karena itu, sebenarnya demo-demo yang dilakukan oleh berbagai pihak (bukan hanya di Indonesia, di luar negeri demonstrasi sejenis juga terjadi) yang menuntut penurunan harga BBM sebenarnya tidak bisa memberikan hasil apa-apa. Saat ini saja, anggaran untuk subsidi BBM sudah lebih besar daripada anggaran untuk pendidikan dan lain-lain.

1 Comment

Filed under Edison's Week in Review

One response to “Edison’s Week in Review: 5 Juli 2008

  1. Blazy DK

    wah ulasan yang bagus,berisi rangkuman berita seminggu😀
    saya harap tiap hari minggu kluar ya bro, jangan sekedar menyadur berita tapi tetap diselipkan pendapat dan pandangan pribadinya bro spy kita2 yang awam bisa melihat berita itu dg view yang lebih luas.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s