Portofolio Investasi untuk Investor Defensif

WHAT THEY SAID…

Active (Enterprising) Investing is physically and intellectually taxing, but Defensive Investing is emotionally demanding

Charles Ellis

—–oOo—–

Seperti yang pernah saya tulis dalam salah satu post terdahulu saya, seorang Investor Defensif (Pasif) adalah adalah tipe Investor yang dalam menjalankan investasinya mengutamakan keamanan modal pokok, serta (tidak kalah pentingnya) kebebasan dari segala “kerepotan” dalam mengelola investasinya.

Ben Graham berpendapat bahwa hanya sedikit orang yang cocok dan mampu untuk menjadi Investor Aktif, dan mayoritas orang harus memposisikan dirinya sebagai Investor Defensive. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Warren Buffet dalam wawancaranya dengan majalah FORTUNE beberapa bulan lalu.

Meskipun menjadi seorang investor defensif tidak membutuhkan waktu ataupun tenaga yang banyak, tetapi seperti ucapan Charles Ellis yang saya kutip di atas, menjadi Investor Defensive bisa sangat melelahkan secara emosional. Ini karena untuk menjadi investor defensif, kita  ibaratnya harus menjadi seorang ‘pertapa’ yang harus mampu bertahan dari segala godaan ‘keramaian’ dan ‘hiruk-pikuk’ di market.

—–oOo—–

Dalam buku Intelligent Investor, Graham menyarankan sebuah aturan dasar dalam menyusun portofolio, yaitu bahwa porsi saham dalam portofolio investasi seorang investor tidak boleh kurang dari 25% dan tidak boleh lebih dari 75%, dan demikian juga untuk obligasi.

Jika seorang investor merasa bahwa prospek saham di kemudian hari akan bagus, maka dia bisa mengalokasikan maksimum 75% dananya di saham, dan sisanya di obligasi. Sebaliknya jika seorang investor merasa bahwa kondisi pasar saham sangat mengkhawatirkan dan akan jatuh (karena sudah naik terlalu banyak), maka dia bisa mengurangi porsi sahamnya hingga tinggal 25% dan menaruh sisanya di obligasi.

Apa alasan di balik aturan 25%≤Porsi saham (dan jg obligasi)≤75% ini?

Graham mengajukan aturan dasar di atas karena Graham sadar bahwa tidak ada seorang pun yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi di pasar di masa depan. Jika kita misalkan investasi 100% di saham dan kondisi bursa saham bagus, memang kita mungkin akan mendapat keuntungan yang besar. Meskipun demikian, jika ternyata bursa saham jatuh, nilai kerugian yang kita tanggung juga tentunya tidak ‘main-main’.

Dengan mengikuti aturan 25%≤X≤75%, berarti setiap saat kita selalu mempunyai investasi minimal sebesar 25% di saham dan obligasi, sehingga apapun yang terjadi, saham naik ataupun obligasi naik, kita akan tetap bisa menikmati kenaikan itu. Sebaliknya, jika saham ataupun obligasi turun, kerugian yang kita alami tidak akan terlalu besar karena kita membatasi  porsi investasi kita di sana.  Dengan demikian, jika terjadi hal di luar perkiraan, kita tidak akan memukuli diri sendiri dan berkata “coba saya waktu itu begini/begitu“.

—–oOo—–

Berpatokan kepada aturan dasar yang dia kemukakan di atas, Graham juga mengatakan bahwa pilihan termudah bagi seorang investor adalah pembagian 50%-50%.

Dalam pembagian 50%-50%, kita hanya perlu membagi seluruh dana investasi kita menjadi dua. Separuh kita masukkan ke dalam saham, dan separuh lagi kita masukkan ke obligasi. Jika pergerakan pasar membuat persentase itu berubah cukup jauh (misalnya di atas 10%), kita lalu melakukan penyesuaian kembali agar porsi keduanya kembali ke 50%-50%.

Sebagai ilustrasi, misalkan saja kita mempunyai dana investasi 200 juta. Dengan metode 50%-50%, maka 100 juta kita masukkan ke saham dan 100 juta kita masukkan ke obligasi. Setelah beberapa lama misalnya, akibat pergerakan pasar, nilai saham kita naik menjadi 200 juta. Pada saat itu, porsi saham dan obligasi dalam portofolio kita sudah berubah menjadi 66,7%-33,3%, yang berarti sudah bergeser lebih dari 10%. Pada saat itu, maka kita akan menjual 50 juta investasi saham kita (sehingga tinggal 150 juta) dan  uang itu kita masukkan ke obligasi (sehingga naik menjadi 150 juta). Dengan demikian porsi saham dan obligasi dalam portofolio kita kembali menjadi 50%-50%.

—–oOo—–

Pada zaman ini, kita sebagai investor mempunyai akses ke berbagai instrumen investasi yang tidak tersedia di jaman Ben Graham. Tersedianya berbagai ‘pilihan’ ini memungkinkan kita untuk memasukkan komponen lain di dalam portofolio investasi kita. Misalkan saja kita bisa dengan mudah memasukkan komoditas ataupun juga mata uang asing ke dalam portofolio kita dengan menggunakan instrumen ETF dan ETN yang pernah saya bahas di salah satu post saya. Di jaman Graham, untuk melakukan hal-hal seperti ini akan lebih sulit.

Meskipun demikian, harus diingat bahwa Saham dan Obligasi adalah dua kelas asset utama, sehingga kedua instrumen ini tetap harus menjadi bagian terbesar dalam portofolio kita. Sebagai contoh, kita bisa menggunakan proporsi 40% saham, 40% obligasi, 10% komoditas, dan 10% mata uang.

Dengan mengikuti aturan yang diberikan oleh Graham, maka kita akan bisa memakai ‘senjata utama’ seorang Investor Defensif, yaitu “saya tidak tahu dan tidak peduli“. Jika orang lain bertanya kepada kita “Gimana nih prospek saham? Obligasi? Komoditas?” kepada kita, kita bisa menjawab “saya tidak tahu..dan tidak perduli. Jika saham naik, saya ada untung. Jika obligasi naik, saya juga tetap ada untung.”

Enak bukan menjadi Investor Defensif?

15 Comments

Filed under Pemikiran tentang Investasi

15 responses to “Portofolio Investasi untuk Investor Defensif

  1. Memang enak menjadi investor defensif karena hidupnya akan jauh dari kata stress.

  2. satu hal yang harus dipikirkan bro. biasanya gerakan saham dan obligasi itu searah, apalagi jika berkaitan dengan interest rate.

    tapi kalo memegang obligasi at least kita mendapatkan kupon walaupun harganya sedang jatuh🙂

  3. hallo bro dunkz,

    Tidak berbeda dengan saham, dalam obligasi kita juga perlu melakukan diversifikasi, terutama dalam soal maturity sehingga nilai portofolio obligasi kita tidak terlalu rentan terhadap pergerakan suku bunga.

    Biasanya ini dilakukan dengan metode Bond Laddering.

    Seandainya tidak mau repot dengan Bond Laddering, pilihan lainnya adalah membatasi pembelian obligasinya kepada obligasi jangka pendek. Obligasi jenis ini tidak akan mengalami fluktuasi harga yang jauh meskipun ada pergerakan suku bunga.

  4. tulisan yang sangat mencerahkan….tks

  5. Kami sangat prihatin pasar modal dijadikan permainan oleh segelintir orang untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Komunitas bursa saham kita telah dinodai oleh emiten penumpang gelap yang menghalalkan berbagai cara : termasuk memobilisasi “investor” abal-abal yang berasal dari jalanan, didandani dengan dasi dan jas biar mirip investor betulan dalam antre pemesanan formulir saham PT Adaro Energy Tbk. Mengapa Bapepam-LK tutup mata dan tutup telinga melihat realita ini ? [Yohan Putera Soemarna, menyampaikan terima kasih jika berkenan mengunjungi blog kami]

  6. Tukul

    Kalau saya pribadi bukan obligasi bro…
    Tapi emas, sebagai hedging untuk jangka pendek-menengah…nilainya selalu diatas inflasi, berapapun inflasi itu.
    Untuk Obligasi sebenarnya boleh juga..dgn yield ORI 9-12% (ORI 1 – ORI 5), masih lumayan…
    Hanya jika inflasi naik 2 digit > 10%, atau sempat 17% di thn 2005…
    Maka imbal riil dari Obligasi akan minus…

    keep posting bro, blognya bagus

  7. San

    Mo tny dunk! Invest di obligasi lgs dgn invest direksadana proteksi dgn underlying assetny misalny 95% obligasi sama g? Posting diataskan suggest 50%saham n 50% obligasi. Lah kalo gw pny nya 50%reksadana saham n 50% reksadana proteksi gmn?

    Edison: Yup, bisa juga seperti itu🙂 Tetapi harus teliti juga dalam memilih reksadana obligasinya (ataupun dlm kasus san, reksadana terproteksinya).

  8. San

    Nanya lagi, apa aja yang musti dipertimbangkan dalam milih reksadana proteksi? Apa ada kaitanya dgn lamany mature obligasiny?

    Edison: Salah satu hal yang selalu membuat saya ‘takut’ adalah bahwa banyak orang-orang yg mengira bahwa reksadana terproteksi itu berarti sudah aman 100%. Padahal tentunya ini tidak demikian. Reksadana ini tetap mempunyai resiko. Banyak orang yg tidak tahu bahwa sebenarnya bahkan modal dalam reksadana ini pun tidak 100% aman (meskipun dibandingkan dengan reksadana tipe lainnya, secara umum resikonya lebih kecil)

    Yang paling utama utk diperhatikan mungkin adalah instrumen dasar yg dipakai oleh reksadana terproteksi itu. Biasanya MI reksadana mengalokasikannya ke obligasi pemerintah ataupun obligasi swasta dengan rating tinggi. Tetapi seperti kita tahu, rating tinggi bukanlah segalanya (terlebih dengan problem di berbagai lembaga rating). Bank-bank besar yg kemarin roboh di Amerika pun rata-rata mempunyai rating yg bagus..

    Utk saat ini, mungkin rekomendasi saya adalah mungkin fokus ke reksadana terproteksi yg porsi terbesar instrumen dasarnya adalah obligasi negara.

    Tentu saja selain itu ada beberapa hal lain yg juga harus diperhatikan, spt berbagai biaya, masa jatuh tempo, dll…. Singkatnya? Baca prospektus dengan sangat teliti…

    sebagai latihan, coba ikuti diskusi di artikel Prospektus Reksadana Kresna Indeks 45 (meskipun ini bukan reksadana terproteksi). Tetapi bagus utk latihan, karena saya perhatikan, kebanyakan orang kurang teliti dalam membaca prospektus reksadana ataupun kurang memahami informasi yg terkandung di dalamnya.

  9. Romario

    obligasi itu apa ya??bisa dijelaskan ga??
    mohon petunjuknya..thanks

  10. san

    Pernah denger diskusi bahwa kalo kita invest diobligasi kita akan kena pajak final. Sedangkan keuntungan main di reksadana yang berbasis obligasi, entah itu RDPT atau proteksi katanya bebas pajak sehingga returnnya rada gedean. Tapikan ada berbagai biaya yang dikenakan MIkan? Gimana ya perbandingan antara obligasi maupun reksadana obligasi?

    Dipostingan yang ini bro Edison cuma jelasin 50:50 saham n bond. Dengan wanti2 bahwa jangan liat rating dan juga main obligasi korporat itu duinya gedean… yang tersisa adalah govt bond (ORI). Lalu bagaimana dengan porsi sahamnya? Main di index fund yang adakan dalam bentuk Reksadana index n ETF itu. Nah.. apa kita mesti nyemplung situ? Atau bisa ga, kita punya sebuah protofolio saham yang terdiri dari beberapa saham saja biar gampang liat gerakannya? Maaf banyak nanyanya…

  11. Kurniawan

    Sebagai investor defensif apakah bijaksana saat ini untuk memindahkan sebagian aset dari saham dan obligasi ke emas ? karena bukankah saham dan obligasi bergerak searah, kalau saham turun obligasi juga turun.

    Apakah emas dapat dijadikan aset utama jika dalam keadaan resesi dan inflasi tinggi ?

    • Dalam siklus ekonomi normal, saham dan obligasi justru sebenarnya bergerak tidak searah. Dalam krisis kali ini memang harga saham turun dan obligasi juga turun, tetapi ini merupakan efek dari krisis likuiditas.

      Utk emas, saya pribadi tidak menyarankan utk dijadikan sebagai porsi terbesar dari asset investasi. Porsi idealnya mungkin maksimal hanyalah 5% dari asset, kecuali jika misalkan anda misalnya bergerak di bidang jual-beli emas (buka toko emas misalnya).

      Emas, biasanya akan ‘mengkilap‘ dalam kondisi ‘kritis’, seperti misalnya perang. Kondisi lainnya yang akan membuat emas ‘mengkilap’ adalah spt yg kurniawan tulis, yaitu inflasi tinggi. Lebih tepatnya, sebenarnya bukan ‘inflasi tinggi’, tetapi ‘Ekspektasi inflasi tinggi’. Apa artinya?

      Artinya begini, harga emas biasanya akan melonjak jika rata-rata orang MEMPERKIRAKAN inflasi akan tinggi. Jika misalkan inflasi sekarang 30% misalnya, tetapi semua orang memperkirakan/mengantisipasi inflasi di kemudian hari akan rendah (misalnya 2%), maka biasanya kilap emas akan memudar.

      Nah, kalau saat ini, boleh dikatakan ekspektasi inflasi utk 1 tahun kedepan umumnya adalah justru inflasi rendah/deflasi. Jadi utk 1-2 tahun ke depan, kemungkinan besar sulit mendapatkan hasil yg baik dari investasi di emas.

  12. Kurniawan

    Bung Edison,
    Rupiah tiap tahun sepertinya “buying power” nya terus melemah, untuk jangka panjang misal 15 tahun, apakah emas dapat dijadikan sebagai penyimbang / penahan, maksud saya sebagian cash saya masukkan di rd money market dan sebagian ke emas.

    Saya berharap tidak seperti di zimbabwe
    1 usd = Z$ 41722704
    (http://finance.yahoo.com/currency-converter#from=USD;to=ZWD;amt=1)

    Saya tidak tahu apakah converter yahoo yg salah, apakah beneran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s