Mengintip ‘Mood’ Mr. Market dengan Intrinsic Value

WHAT THEY SAID…

Price is what you paid. Value is what you get

Warren Buffet

—–oOo—–

Salah satu konsep dasar dalam Value Investing adalah pembedaan antara Value (Nilai) dengan Price (Harga). Harga saham suatu perusahaan bisa dengan mudah kita dapatkan setiap saat di berbagai media (tv, internet, koran, dll). Tetapi bagaimana cara kita mencari tahu nilai suatu perusahaan?

Bagi para Value Investor, nilai setiap perusahaan pada akhirnya adalah tergantung kepada nilai bisnisnya, dan nilai setiap bisnis pada akhirnya tergantung kepada kemampuan bisnis itu untuk menghasilkan keuntungan. Dalam kaitannya dengan ini, Ben Graham memperkenalkan suatu formula sederhana untuk menghitung Nilai Intrinsik (Intrinsic Value) dari sebuah perusahaan dengan melihat kepada kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.

Rumus yang diajukan oleh Ben Graham adalah sebagai berikut (Note: tidak perlu menghafal formula ini, karena nantinya kita hanya akan memakai modifikasi sederhana dari formula ini) :

  • EPS=Earning per Share (Laba per lembar Saham)
  • AAA=Yield dari obligasi perusahaan dengan rating AAA (dalam %, misalkan 10%, maka masukkan nilai 10)
  • Forecast Pertumbuhan Laba = Perkiraan pertumbuhan laba perusahaan itu (dalam %, misalkan 15%, maka masukkan nilai 15)

Sebagai ilustrasi, sebuah perusahaan melaporkan keuntungan per lembar saham sebesar Rp 500. Oleh para analis, keuntungan perusahaan itu diperkirakan akan tumbuh 15%/tahun untuk 5 tahun mendatang. Misalkan pada saat ini, obligasi perusahaan maturity 5 tahun dengan rating AAA memberikan Yield rata-rata sebesar 10%. Maka berdasarkan model Graham ini, nilai Intrinsik perusahaan tersebut adalah Rp 8470.

Jika pada saat itu harga saham perusahaan tersebut adalah Rp 5000/lembar, maka menurut model ini, saham tersebut termasuk murah. Sebaliknya jika misalnya saat itu harga saham perusahaan tersebut adalah Rp 10 ribu, maka saham perusahaan itu termasuk mahal.

—–oOo—–

Model Graham di atas sendiri termasuk sangat sederhana, dan mempunyai ‘keterbatasan’. Mungkin sebagian pembaca post ini sudah menyadari apa ‘keterbatasan’ model ini, yaitu adanya unsur ‘Forecast’ (ramalan) pertumbuhan laba di masa depan. Akibat adanya unsur ini, maka penghitungan nilai Intrinsik dengan model ini menjadi sangat subjektif dan rawan terhadap kesalahan penghitungan akibat forecast yang meleset.

Meskipun demikian, dengan sedikit ‘modifikasi’, model Graham ini masih bisa berguna untuk manfaat lain. Dengan menggunakan matematika aljabar sederhana, Formula Graham di atas, bisa kita tulis ulang menjadi :

—–oOo—–

Apa gunanya formula hasil ‘otak-atik’ kita di atas?

Formula ‘otak-atik’ ini bisa memberikan kita gambaran tentang ‘mood’ Mr. Market terhadap saham perusahaan itu. Jika kita memasukkan harga pasar saham perusahaan itu untuk menggantikan Intrinsic Value, maka kita bisa mendapatkan ‘forecast pertumbuhan laba’ menurut si Mr. Market.

Misalkan saja harga saham perusahaan X adalah Rp 6000, dan EPS perusahaan tersebut adalah Rp 300. Jika obligasi perusahaan dengan rating AAA rata-rata memberikan Yield sebesar 10%, maka berarti pada harga Rp 6000 itu, forecast pertumbuhan laba perusahaan itu adalah 18,47% per tahun. Dalam hal ini, angka 18,47% ini dikenal sebagai Implied Growth pada harga Rp 6000 itu.

Apa arti angka-angka ini?

Hasil dalam ilustrasi perhitungan di atas mempunyai arti bahwa agar saham perusahaan X itu layak  dan pantas dihargai Rp 6000, maka laba perusahaan harus tumbuh sebesar 18,47% setiap tahunnya . Mengingat harga di pasar adalah sebesar Rp 6000, berarti Mr. Market (pasar) percaya dan yakin bahwa perusahaan itu akan mampu mencapai angka 18,47% itu.

Lalu apakah angka 18,47% itu realistis?

Tergantung. Jika misalkan selama ini pertumbuhan laba perusahaan itu misalkan 25%, maka angka 18,47%/thn mungkin bukanlah hal yang aneh. Tetapi bagaimana jika pertumbuhan laba perusahaan X selama ini hanya 5%/tahun?

Dalam kondisi ini tentunya harapan Mr. Market sebesar 18,47% itu menjadi suatu tanda tanya yang besar. Biasanya kejadian semacam ini menandakan bahwa Mr. Market (pasar) dalam “mood” penuh euphoria, sehingga dihinggapi optimisme yang tidak realistis. Akibatnya, ketika pertumbuhan laba tidak mencapai 18,47% (karena memang pada dasarnya harapannya tidak realistis), maka Mr. Market pun memperlihatkan kekecewaannya dan saham perusahaan X pun nasibnya berubah menjadi ibaratnya ‘buangan’.

Perlu diingat bahwa pertumbuhan laba semua perusahaan akan melambat seiring dengan perkembangan perusahaan itu. Pertumbuhan laba suatu perusahaan tidak berbeda jauh dengan pertumbuhan kita sebagai manusia. Ketika kecil, pertumbuhan kita cepat, tetapi semakin kita besar , pertumbuhan kita pun akan semakin lambat. Tidak ada perusahaan yang akan bisa terus-menerus mempertahankan pertumbuhan laba yang tinggi.

—–oOo—–

Sebagai catatan akhir, saya ingin menekankan bahwa analisa semacam ini janganlah dijadikan sebagai penentu keputusan untuk membeli atau menjual saham. Analisa seperti ini bisa dipakai sebagai salah satu Acid Test (test cepat) untuk melihat saham-saham mana yang harganya masih rasional dan bisa kita pertimbangkan untuk dianalisa lebih lanjut. Dengan demikian kita tidak perlu menyia-nyiakan waktu untuk menganalisa saham-saham yang ‘berbahaya’.

12 Comments

Filed under Instrumen Investasi

12 responses to “Mengintip ‘Mood’ Mr. Market dengan Intrinsic Value

  1. dimana kita bisa mendapatkan informasi berapa yield bond AAA di Indonesia dan yang di Amerika ?

  2. Tom

    knapa dari dulu gak kasih tau gw yang ini..

    hehe.. loe emang bisa diandalkan buat bikin intisari.

    (probably) the most significant post of “JS” thread..

  3. untuk US corporate, bisa dilihat di bondsonline.com

    Untuk Indonesia, saya ragu ada perusahaan yg ratingnya AAA🙂 Perusahaan sekelas Telkom saja saya lihat di Standard&Poors baru BB+

    Solusinya? Kita bisa memakai yield obligasi pemerintah (walaupun sebenarnya kurang ‘pas’). Pilihan lainnya, memakai yield obligasi perusahaan indonesia (dgn menerima konsekuensi bahwa rating perusahaan tsb bukan AAA).

    @Tom
    Soalnya takut kalau kamu coba-coba jadi investor aktif dan loss, nanti Yennie ngamuk…. hahahahaha

  4. wah, maaf numpang OOT. saya bukan orang ekonomi, hehehe😆 ndak bisa banyak komentar tentang content-nya. tapi dari sisi bahasa agaknya perlu dikemas dengan sedikit ngepop, tanpa mengurangi esensi dan substansinya, pak. saya yakin blog ini akan dikunjungi pengunjung dari berbagai latar belakang disiplin ilmu. ok, pak edison, salam kreatif!

  5. wah, Pak Sawali beneran mampir ke sini. Makasih banyak pak. Kalau di thread Jangan Serakah di kaskus, selama ini saya bahasanya lebih santai… cuma di blog saya selama ini memakai bahasa yg agak resmi dikit… Makasih atas masukannya pak, sangat bermanfaat untuk saya.

  6. Tukul

    Blog yang bagus bro…
    Selama pemahaman saya tentang nilai ada 3 (dari “the buffet way”, robert hagstorm)
    1. Nilai pasar, capital market
    2. Nilai likuidasi, nilai buku, (price to book value), Graham hanya akan membeli emiten dgn emiten maksimal 1,6 X PBV-nya
    3. Nilai arus kas, discounted cach flow…

    Adakah tulisan membahas dari segi analisa kualitas (selain analisa kuantitasnya Graham), seperti Phillips Fisher…biar lebih lengkap bgt

    thx anyway

  7. Risyadmum

    Rupanya ada Mas Tukul dari PortalRd disini, tambah seru nih.
    Ayo Mas, keluarin semua jurusnya.

  8. Tukul

    he he, mbak Risyadmum disini juga…
    mantab dah…ada “mamanya” portal RD jg disini🙂

    Konsep utama dari Intrinsik Value sebenarnya adalah nilai pertumbuhan suatu emiten yang diharapkan akan berlangsung terus menerus selama emiten itu hidup. Makanya Buffet menganjurkan mencari emiten dgn “economic moat” yg kuat (daya saing, penguasaan pasar dll)…
    Dengan pertumbuhan laba yang (diharapkan konstan)…dan di “discounted cash flow”-kan dengan yield bebas resiko (SUN, ORI, atau suku bunga BI)…akan di dapat harga wajar dari saham tersebut.
    Kalau ternyata harga pasar lebih rendah dari hasil perhitungan intrinsic value…maka saham tersebut sangat murah…
    Itu sebabnya Bro Nikkentobi mengutip pernyataan buffet di awal tulisannya “price is what u paid, value is what u get”

  9. Bud

    Untuk para suhu saya minta tolong nih,
    di mana ya saya bisa mendapatkan
    daftar price untuk Corporate Bond maupun Government Bond. Saya sudah dapat cari di himdasun, tapi saya tidak bisa melihat historical data nya. cuma bisa melihat pada saat tanggal akses saja. Terimakasih

  10. Jimmy Ambarita

    Dear JS,

    Terima kasih infonya.
    Faktor yield obligasi untuk Indonesia bisa diasumsikan berapa?
    Kalau EPS yang kita ambil rata-rata 5 tahun terakhir apakah perlu dianalisa juga pertumbuhannya?

  11. Wow artikel dan website yang keren, entah kenapa baru nyadar sekarang ada website kayak gini. Two thumbs up and please keep it up,

  12. One area that’s a goldmine regarding removed positions are
    recycling bins at condominium complexes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s