Stock Split: Ketika 10 dibagi 5 = 2,5

WHAT THEY SAID…

You better cut that pizza into 4 pieces cause i ain’t hungry enough to eat 8 pieces

Yogi Berra

—–oOo—–

Mungkin bagi sebagian pembaca blog ini, kutipan di atas agak sulit dipahami. Quote di atas adalah salah satu quote lucu yang ‘nempel’ di kepala saya dari buku “Intelligent Investor”. Bagi yang kurang paham apa makna quote tersebut, bayangkan jika misalnya seseorang yang membeli 1 loyang pizza berpesan kepada si tukang Pizza, “Mas, nanti pizzanya dibagi jadi 4 potong aja, jangan potong jadi 8, soalnya saya terlalu kenyang buat makan 8 potong“.  Tentunya ini ‘konyol’ karena  karena satu loyang pizza dibagi jadi 4 potong ataupun dibagi 8 potong tetaplah satu loyang. Kalau kita berpesan seperti itu, mungkin si tukang pizza akan mengira kita mabuk atau bahkan ‘gila’.

Ironisnya, kekonyolan seperti di atas seringkali terjadi di dunia finansial. Para pembaca blog yang aktif di bursa saham, mungkin seringkali menemukan berita seperti di bawah ini:

clipped from www.inilah.com

Saham PGAS hari ini diperkirakan bergerak naik. Hal ini disebabkan rencana stock split yang akan memicu perseroan mengangkat harga PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) ke kisaran Rp 17.000 per lembar. “Sejumlah sekuritas telah menaikkan target harga PGAS,” tutur Bimo.

blog it

Bagi yang tidak akrab dengan istilah Stock split, dalam dunia saham Stock Split adalah kebijakan manajemen perusahaan untuk menambah jumlah saham beredarnya dengan cara membagikan saham baru kepada pemegang saham saat ini. Penambahan jumlah saham ini dibarengi dengan penyesuaian harga saham, sehingga nilai kapitalisasi perusahaan itu tidak berubah.

Misalkan saja saat ini jumlah saham beredar PT. X adalah 1000 lembar. Harga pasar saham tersebut adalah Rp 5000 per lembar. Dengan demikian nilai kapitalisasi perusahaan saat ini adalah Rp 5 juta. Jika manajemen memutuskan untuk melakukan stock split 2:1, maka jumlah saham beredar akan menjadi 2000 lembar, dengan harga baru per lembar sahamnya adalah Rp 2500. Nilai kapitalisasi perusahaan itu tetap Rp 5 juta. Jika misalkan kita adalah pemegang saham PT X, dan memiliki 200 lembar saham, maka setelah stock split tersebut, kita akan memiliki 400 lembar saham, tetapi nilai total saham kita tidak berubah.

Satu ‘fenomena’ yang ‘konyol’ di dunia saham adalah seringkali jika manajemen suatu perusahaan memutuskan untuk melakukan stock split, di pasar akan terjadi kenaikan harga saham perusahaan itu.  Umumnya  ini terjadi karena pasar berpendapat bahwa stock split akan menambah likuiditas saham (karena harga saham menjadi lebih murah dan perdagangan saham tersebut akan lebih marak), sehingga harga saham layak naik.

Kalau dipikir-pikir, logika semacam ini sebenarnya agak ‘aneh’, karena kalau memang benar, maka seharusnya 5 lembar uang pecahan Rp 1000 akan lebih berharga daripada 1 lembar uang pecahan Rp 5000.  Setahu saya, tidak ada orang (waras) yang merasa ‘lebih kaya’ karena dia baru menukarkan 1 lembar Rp 5000 dengan 5 lembar Rp 1000.

—–oOo—–

Salah satu orang yang terkenal ‘alergi’ dengan praktek stock-split adalah Warren Buffet. Sejak mengambil alih perusahaan Berkshire Hathaway dari pemilik lamanya, Buffet tidak pernah melakukan stock split pada saham perusahaannya itu. Menurutnya, stock split menimbulkan 3 efek:

  • Stock split menyebabkan perputaran saham yang tinggi, yang pada akhirnya menyebabkan biaya transaksi yang tinggi (karena volatilitas harga yang timbul akibat perputaran saham yang tinggi itu)
  • Stock split akan membuat perusahaan menarik tipe pemegang saham short-term yang hanya fokus kepada harga pasar perusahaan dan bukan kepada nilai perusahaan itu.
  • Kombinasi dari kedua hal di atas, akan menyebabkan harga saham yang melenceng dari nilai intrinsik (Intrinsic Value) perusahaan.

Bagi Buffet, ketiga hal di atas hanya akan menimbulkan kerugian bagi para pemegang saham seandainya mereka ingin membeli ataupun menjual saham. Belajar dari pandangan Buffet ini,  jika kita adalah seorang investor (sehingga menganut paham ‘investasi untuk jangka panjang’), maka mungkin ada baiknya kita malah ‘was-was’ jika saham perusahaan yang kita pegang sering mengalami stock split.

18 Comments

Filed under Instrumen Investasi

18 responses to “Stock Split: Ketika 10 dibagi 5 = 2,5

  1. yup, selain turnover equity lebih tinggi, q piqr jg dgn dgn stock split hanya “menggadaikan” kepemilikkan usaha pada spekulan, dan short time investor yg akan lari stlh mencapai peak tinggi.

    lalu dgn stock split begini, mereka akan pake asumsi nilai buku yg mana dalam menentukan harga saham barunya?

  2. harga saham barunya itu sebenarnya tergantung kepada mekanisme pasar secara otomatis kok bro. Jika hari ini harga Sahamnya ditutup $30, dan setelah bursa tutup mendadak perusahaan mengumumkan stock split 2:1, maka besoknya biasa dibuka di harga $15.

    Fenomena yang saya bilang aneh itu adalah ketika harga saham suatu perusahaan naik hanya karena berita bahwa perusahaan akan stock split, padahal stock split itu adalah sesuatu yg netral (bahkan kalau mengikuti pandangan Buffet, sesuatu yg cenderung ‘negatif’ utk pemilik saham).

  3. Menurut saya stock split memiliki keuntungan, yaitu harga saham menjadi lebih terjangkau dan memiliki potensi untuk kembali ke harga sebelum stock split.

  4. Tergantung kita melihatnya dari sisi siapa.

    Kalau dari sisi spekulator, tentu saja mereka akan lebih menyukai harga saham yang lebih murah (akibat stocksplit), karena akan lebih mempermudah operasi spekulasi mereka.

    Kalau kita melihatnya dari sisi Investor (pemegang saham) suatu perusahaan. Bagi mereka, sebenarnya stock split tidak ada manfaat/positifnya untuk mereka, malah spt yang dikatakan Buffet, cenderung negatif.

  5. Risyadmum

    Bro, meskipun proses stock split itu sendiri tidak memberikan nilai ekonomis kepada pemilik saham, teori ‘signalling’ menyebutkan keputusan untuk stock split ini merupaka sinyal dari manajemen emiten yang bisa dibaca investor sebagai peningkatan prospek perusahaan. cmiiw.

  6. putrie_kmps

    Hmmm..
    klo reverse split akan membuat harga saham itu jadi turun donk bung.
    di Indo penah ada reverse split ga ya?

    Edison: Reverse stock split itu malahan penggabungan saham, harusnya harga saham naik (putrie salah tulis kali ya? mau nulis naik malah nulis turun🙂 ) Saya sendiri selama perjalanan investasi saya, belum pernah mengalami reverse split di perusahaan besar..

    Saya juga kurang tahu apakah di Indo pernah reverse split atau tidak.

  7. ekanata

    @Risyadmum
    Dengan asumsi perusahaan tidak memiliki aset yang terkait dengan harga sahamnya, IMHO kinerja perusahaan tidak akan berbeda antara jika terjadi stock split maupun tidak. Jadi kalau sampai harga sahamnya naik maka besar kemungkinan disebabkan oleh adanya tambahan demand dari investor kelas teri (kayak saya :D) yang tertarik akibat harga saham tersebut yang jadi lebih terjangkau. Dan karena kebanyakan investor golongan tersebut adalah pemula (kayak saya lagi :D), maka jadilah ajang “all-you-can-eat” nya spekulator :p
    Jadi stock split memberikan sinyal yang ditanggapi berlawanan oleh investor dan spekulator. Investor menterjemahkan bahwa manajemen telah melakukan tindakan diluar peningkatan kinerja real demi tujuan meningkatkan harga saham.
    Eh, ternyata bro edison juga sudah menulis demikian. Bener lho bro, saya gak nyontek. Suer tekewer kewer!

    Edison: Wah, bro ekanata menyamar jadi ‘pemula’…. padi makin berisi makin membungkuk, tapi kalau orang kebanyakan bungkuk nanti sakit pinggang looh… hahaha…

    @putri
    Kayaknya reverse split akan merepotkan kaloau banyak investor yang jumlah sahamnya ganjil. Spekulator juga akan berpaling dari saham krn investor kecil/pemulanya juga telah pindah ke saham lain yang harganya lebih terjangkau, sehingga demand terhadap saham tersebut akan berkurang sehingga harganya pun turun. Jadi logikanya mana ada sih perusahaan yang mau repot2 mengerjakan administrasi reverse split kalo malah hasilnya mendatangkan keburukan.

    btw, kok comment dharma wanitanya JS bisa jejeran gitu sih duduknya😉
    Lagi gak bisa akses kaskus jg yah😀

  8. Risyadmum

    Haa, dharma wanita, orba sekalee…

    @Ekanata,
    “Dengan asumsi perusahaan tidak memiliki aset yang terkait dengan harga sahamnya”, nggak ngerti bro,jelasin lagi dong asumsi ini. Bukannya aset dalam perusahaan terhitung dalam rasio-rasio lap keu , misalnya BV.

    Satu lagi, apakah benar pendapat bahawa stock split menambah kesulitan pihak institusi yang memegang banyak saham tsb dalam mendistribusikan sahammnya pas mereka mau jual, karena dibutuhkan jumlah transaksi lebih banyak (baca: jumlah lot yg mesti dijual makin nambah, padahal pembeli ritel kan belinya dikit-dikit).

  9. ekanata

    @risyadmum
    Misalnya pt A pegang 25% saham pt B, sedangkan pt B pegang 40% saham pt A (entahlah, bisa ada kasus kayak gini gak). Lantas pt A melakukan stock split dan terjadilah euforia shg harga sahamnya naik. Akibatnya nilai aset pt B (berupa saham A) bertambah, shg harga saham B terangkat. Dgn cara yg sama harga saham A terangkat sedikit lagi krn dia pegang saham B. Kondisi mirip2 itulah yg sy maksud dgn pernyataan saya tadi (euforia yg mengakibatkan peningkatan nilai aset).

    Mengenai tambahan pekerjaan administratif, rasanya gak terlalu rumit untuk mengelola jumlah lot yg lebih banyak. Kan udah ada IT nya. Tapi untuk melaksanakan reverse split, setidaknya ada tambahan pekerjaan untuk membulatkan kepemilikan saham yang jumlahnya ganjil. Tapi entahlah, mungkin sistemnya udah canggih shg urusan tsb udah gak rumit lagi.

  10. putrie_kmps

    Ada bung di Indo yang reverse split
    saham bakrie & brother (BNBR)
    reverse split maret thn ini, udah lewat sih

  11. Risyadmum

    @Bro Ekanata, thank you penjelasannya.

  12. “pasar berpendapat bahwa stock split akan menambah likuiditas saham (karena harga saham menjadi lebih murah dan perdagangan saham tersebut akan lebih marak), sehingga harga saham layak naik. ”

    Poin ini yang saya perhatikan.
    memang betul bahwa 2 x 1000 = 4 x 500, tapi dengan harga per lembar 500, banyak investor yang tertarik untuk menanamkan uangnya pada saham tersebut,

    Coba bayangkan, dengan 1 lembar saham senilai 1jt dengan 1 lembar saham senilai 1000, mana yang akan anda pilih ??

    Untuk masalah biaya transaksi yang mahal, saya kurang begitu paham. mungkin bisa dijelaskan ?
    Biasa yang menanggung biaya tersebut adalah perusahaan. Apakah itu maksud dari kelemahan Stock Split ?

    Salam Sukses,,

  13. Tukul

    yaah masih mendingan stock split ketimbang right issue-lah, hi hi hi😀

  14. witri

    ada yng bsa tlong sya…
    sya bermaksud membuat skripsi mngnai stock split,,
    qlo mao nyari bhannya dmn y???
    buku2 apa aj yang bsa sya bca?????

    Edison: Bahasannya luas sekali. Mau melihat Stock Split dari sudut apa?

  15. putrie_kmps

    @ witri
    lg googling nemu di sini ya
    skripsinya mengenai stock split, mau di cari apanya tuh? Bahan seperti apa yang dicari?

  16. Pingback: Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi | Bakawan Web Design

  17. saya punya pertanyaan nehh…
    manajemen perusahaan memutuskan pemotongan nilai saham dari 5000 menjadi 500 tanpa menambah jumlah saham yg ada..apakah akibat hukum yg timbul dari tindakan ini???
    thanks before….

  18. irfan arysandy

    ass, gimana yah menentukan hari sebelum dan sesudah stock split, untuk mengetahui harga saham sesudah dan sebelumnya, misal 30 hari sebelum dan sesudah stock split. dan apa alasannya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s