Krisis Kredit Amerika, Kisah Kegagalan Sektor Finansial (1)

PREFACE: Di akhir post “Cerita di Warung Soto: Subprime, Subprim, Supri dan Supir“, saya berjanji untuk menceritakan tentang Credit Crisis (Krisis Kredit), dan post seri ini merupakan ‘pembayaran’ janji saya tersebut.

Para pembaca blog yang rajin mengikuti berita ekonomi, mungkin sudah mengetahui bahwa ada sesuatu yang ‘kurang beres’ dengan sektor finansial di Amerika (dan juga Eropa). Meskipun demikian, mungkin hanya sebagian yang mengerti apa penyebab krisis tersebut serta konsekuensi dari krisis tersebut. Mudah-mudahan cerita saya ini bisa memberikan sedikit gambaran apa yang sebenarnya sedang terjadi di sektor finansial saat ini.

—–oOo—–

Untuk memahami Credit Crisis yang sedang berlangsung di saat ini maka ada baiknya pertama-tama kita memahami dulu tentang bank dan ‘cara kerja’nya. Apa itu Bank? Meskipun Bank sudah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari, mungkin hanya sebagian dari teman-teman pembaca blog ini yang menyadari bahwa sebuah Bank, pada ‘intinya’ merupakan suatu usaha penyewaan/rental. Pertanyaan natural yang timbul berikutnya adalah : ‘Apa yang mereka sewakan?’. Jawabannya adalah : Uang.

Meskipun pada zaman sekarang, kebanyakan bank menjalankan beberapa ‘kegiatan’ lain yang bisa menghasilkan keuntungan, pada awalnya Bank lahir dari ‘kegiatan sewa-menyewa’ uang (dan hingga kini pun, mayoritas bank tetap mengandalkan ‘sewa-menyewa’ uang ini untuk mendapatkan keuntungannya). Dalam hal ini, bank akan ‘menyewa’ uang dari pihak yang memiliki uang yang tidak terpakai, dan lalu uang itu ‘disewakan’ kepada pihak yang membutuhkan uang. ‘Biaya sewa’ uang ini yang lalu kita kenal dalam kehidupan sehari-hari sebagai ‘Bunga’/interest.

Satu aspek yang menarik dari operasi ‘sewa-menyewa uang’ yang dilakukan Bank, adalah adanya Gap/kesenjangan dalam kegiatan ‘sewa-menyewa uang’ ini. Apa Gap/kesenjangan yang saya maksud ini?

Umumnya ketika bank ‘menyewa’ uang dari masyarakat, sewa yang mereka lakukan bersifat jangka pendek. Sebagai contoh, kita lihat ‘tabungan’. Setiap kali kita menabung, yang kita lakukan sebenarnya adalah menyewakan uang kita kepada bank. Tabungan ini sendiri merupakan ‘sewa jangka pendek’, karena setiap saat uang tersebut bisa kita tarik (dengan kata lain ‘mengakhiri’ sewa-menyewa tersebut). Sama juga halnya dengan deposito. Deposito juga bersifat ‘jangka pendek’, dan umumnya hanya bertempo 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan hingga 12 bulan.

Sebaliknya, ketika bank ‘menyewakan’ uang tersebut (kepada para pengambil fasilitias kredit), sewa yang mereka lakukan umumnya bersifat jangka panjang. Contohnya kredit otomotif yang biasanya bertempo beberapa tahun, atau juga KPR yang di negara Amerika bisa berjangka hingga 30 tahun.

—–oOo—–

Apa konsekuensi dari kesenjangan ‘menyewa jangka pendek, menyewakan jangka panjang ini‘?

Di satu sisi, akibat kesenjangan ini,  bank akan bisa menikmati keuntungan tambahan. Dalam ‘sewa-menyewa uang’, semakin lama masa sewa uang, semakin besar resiko yang ditanggung oleh pemilik uang, misalnya saja resiko inflasi, resiko perubahan suku bunga, dll. Akibatnya, ‘sewa’ uang jangka panjang akan lebih mahal dibandingkan dengan ‘sewa’ uang jangka pendek. Contoh realnya, deposito yang berjangka 1 tahun umumnya akan memberikan bunga yg lebih tinggi daripada deposito 1 bulan. Dengan ‘menyewa jangka pendek dan menyewakan jangka panjang‘, maka berarti bank mendapat keuntungan karena mendapatkan dana dengan ‘murah’, sebaliknya meminjamkan uangnya dengan lebih ‘mahal’.

Di sisi lainnya, kesenjangan ini membuat bank menanggung resiko likuiditas. Ini disebabkan karena pihak yang ‘menyewakan’ uang kepada Bank bisa dengan mudah menarik uangnya dalam jangka waktu yang relatif singkat, sedangkan pihak Bank tidak bisa menarik uang yang ‘disewakannya’ kepada pengambil kredit dengan cepat.

Sebagai ilustrasi sederhana:

Misalkan saja ada 100 orang yang menaruh deposito 3 bulan @Rp 1 milyar di Bank JS. Dengan demikian bank JS berhasil menghimpun dana Rp 100 Milyar. Dalam keadaan normal, besarnya dana ini akan relatif stabil. Akan ada orang yang mencairkan depositonya, tetapi akan ada juga nasabah baru yang membuka deposito di sana.

Oleh bank JS, dana yang terhimpun ini lalu dikucurkan sebagai kredit. Karena ada peraturan perbankan yang dikenal sebagai “Reserve Requirement”, maka dana Rp 100 milyar yang telah dihimpun itu tidak bisa dikucurkan 100% sebagai kredit. Misalkan saja modal yang dihimpun hanya hanya diijinkan untuk dikucurkan 70%, sehingga dalam contoh ini, bank JS hanya bisa mengucurkan kredit sebesar Rp 70 milyar. 30% dana yang dihimpun (Rp 30 Milyar) harus disimpan sebagai cadangan likuiditas.

Oleh Bank JS, dana Rp 70 Milyar lalu dikucurkan sebagai kredit bagi seorang developer properti dengan jangka waktu 5 tahun.

—–oOo—–

Dalam keadaan normal, pengaturan seperti ini tidak menimbulkan masalah. Hal ini dikarenakan bahwa bunga deposito itu biasanya sangat kompetitif dan tidak berbeda jauh antar bank, sehingga  orang pada umumnya tidak mempunyai insentif yang besar untuk memindah-mindahkan depositonya.

Tetapi kini bayangkan apa yang akan terjadi jika para nasabah kehilangan kepercayaannya kepada Bank JS, misalkan saja karena ada berita bahwa Bank JS mengalami kerugian yang sangat besar akibat kredit macet? Anggaplah misalkan 20% nasabah menarik depositonya sehingga terjadi penarikan dana Rp 20 Milyar. Dalam hal ini Bank JS akan tetap ‘aman’, karena memiliki ‘ban serep’ berupa cadangan likuiditas sebesar Rp 30 Milyar.

Bagaimana jika nasabah yang menarik depositonya mencapai 40%, sehingga dana yang ditarik dalam contoh ini adalah sebesar Rp 40 Milyar? Bank JS akan kerepotan mencari dana itu karena cadangan likuiditas mereka hanya sebesar Rp 30 Milyar. Mereka tidak bisa meminta si pengambil kredit untuk mengembalikan Rp 70 milyar yang mereka pinjam pada saat itu juga, karena memang perjanjian kreditnya adalah utk jangka panjang (dalam hal ini 5 thn). Akibatnya Bank JS pun akan terpaksa mencari pinjaman, misalkan ke bank lain.

Para pembaca blog mungkin bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika tersebar berita bahwa ‘Bank JS harus meminjam ke bank lain untuk membayar deposito nasabahnya‘ dan di Bank JS mulai terlihat antrian para deposan yang ingin menarik depositonya. Kepanikan meluas dan kini semua nasabah bank JS pun bergegas mencairkan depositonya. Pada saat itu, bank-bank lain pun akan was-was untuk meminjamkan uangnya kepada bank JS karena khawatir bank JS akan tumbang dan tidak bisa membayar pinjamannya. Akibatnya, bank JS tidak mempunyai alternatif untuk mendapatkan dana dan malah benar tumbang.

Skenario seperti ini dalam dunia perbankan dikenal sebagai ‘Classic Bank Run‘ dimana kepanikan menimbulkan kepanikan sehingga nasabah suatu bank ‘berebutan’ menarik dananya dari suatu bank hingga akhirnya bank itu tumbang akibat kesulitan likuiditas.

(Bersambung ke part 2)

6 Comments

Filed under Saya suka cerita Ekonomi

6 responses to “Krisis Kredit Amerika, Kisah Kegagalan Sektor Finansial (1)

  1. Yoyoruru

    Ilustrasi yg diberikan sangat jelas ditambah lagi diberikan contoh,
    Ak senang kalimat yg ditulis sangat ringan hingga mudah buat dimengerti,
    Kl ad postingan part3 kabari diemailku y
    trio_monk@yahoo.co.id

  2. Bank dgn sistem syariah kena imbas nggak? kan tidak pakai bunga?tapi bagi hasil..

  3. Iwan

    Menurutku sih, bagaimanapun juga, meskipun menggunakan sistem bagi hasil, Bank dengan sistem syariah langsung maupun tidak langsung akan tetap kena imbasnya. Karena secara global berlaku sistem ekonomi kapitalis yang memberlakukan nilai waktu atas uang..

  4. Leo

    jadi keputusan yang diambil Bank tersebut sehingga menimbulkan penyebab krisis apa??
    blh tahu kan?

    Edison: Maksud pertanyaannya?

  5. amrullah

    memang benar sodara iwan, tp musti di ingat! sistim bagi hasil hanya pembiayaan yang diberikan untuk mereka yang menjalankan usaha di sektor riil, sehngga tidak menjadikan uang sebagai komodity (memperdagangkan uang). sedangkan pembiayaan untuk konsumtif biasanya bersifat qardhul hasan. namun yang sangat membingungkn ada nggak ya bank yang berbasis syari’ah yang mau sama-sama meanggung kerugian jika nasabah yang dibayai mengalami kerugian atau musibah???????

    • konobe

      maksudnya gimana ni?
      Sebenarnya secara teori ada produk bernama mudharabah atau musyarakah yang berbasis pada sistem bagi hasil. Jadi pada dasarnya si Bank pun akan menanggung kerugian tersebut (modal dari Bank hilang) jika memang usaha gagal. Pada prakteknya, ada beberapa Bank syariah yang sudah menjalankan tp diterapkan pada nasabah yang memang sudah benar-benar dipercaya dan memiliki kredibilitas tinggi. Bagaimanapun, uang yang diputar oleh Bank itu uang masyarakat, jadi mereka juga perlu lebih berhati-hati untuk meminjamkan uang pada pihak lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s