Fundamental Ekonomi Masih Baik???

Tadi pagi saya membaca satu artikel yang menarik di Harian Kompas. Artikel tersebut berjudul ‘Fundamental Ekonomi Masih Baik‘ (tanpa ??? seperti judul post saya ini) dan ditulis oleh Purbaya Yudhi Sadewa, Chief Economist Danareksa Research Institute. Dalam post ini saya akan coba mengulas artikel tersebut karena di Harian JanganSerakah ini saya juga merangkap sebagai Chief Economist (jabatan saya yang lain di harian ini antara lain: Editor, Personalia, IT Manajer, satpam, operator telepon, office boy/tukang sapu spam, dll)

Dalam artikel di harian Kompas tersebut, ada beberapa hal yang menarik. Tetapi bagi saya, mungkin hal yang paling menarik adalah kesimpulan di paragraf terakhirnya, yaitu :

Memang, dalam jangka pendek masih ada sentimen negatif, yang ditimbulkan oleh kenaikan inflasi, suku bunga, harga minyak yang tinggi, dan dampak sentimen negatif di bursa saham dunia, yang akan membuat IHSG sulit naik secara berkesinambungan. Namun, ini tidak akan berlangsung lama. Dengan fundamental ekonomi yang cukup baik, IHSG lambat laun akan naik secara signifikan. Pada akhir tahun IHSG diperkirakan akan jauh lebih baik dibandingkan saat ini..

Pak Purbaya membuat perkiraan di atas dengan berdasarkan kepada pengamatannya kepada faktor fundamental dalam ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, dalam membahas ‘prediksi’ pak Purbaya tersebut, saya akan mencoba menganalisa pengamatan pak Purbaya terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

—–oOo—–

Salah satu faktor yang membuat pak Purbaya optimis terhadap IHSG di akhir tahun adalah perkiraan inflasinya untuk tahun ini. Dalam kaitannya dengan inflasi tahun ini, Chief Economist DRI tersebut menulis bahwa :

Inflasi untuk tahun ini diperkirakan masih dua digit. Angka inflasi tahunan pada akhir 2008 diperkirakan pada kisaran 10,97 persen. Inflasi tahunan akan cenderung menurun pada tahun 2009, dan pada Mei 2009 inflasi akan turun tajam ke bawah level 9 persen. Pada akhir 2009 inflasi tahunan diperkirakan akan turun ke sekitar 7,59 persen.

Bagi para pembaca blog yang tidak terlalu akrab dengan dunia ekonomi, kalimat yang saya garis-bawahi di atas mempunyai arti bahwa pak Purbaya memperkirakan kenaikan harga antara Januari-Desember 2008 adalah sebesar 10,97%.

Sekarang mari kita bedah angka 10,97% ini. Dalam pandangan saya, angka ini sendiri boleh dikatakan sangat optimistis, karena perkiraan inflasi pemerintah saja (yang biasanya cenderung optimistis) adalah sebesar 11,5%-12,5%.

Dari data BPS, angka inflasi tahunan (year on year) pada bulan Juni 2008 adalah 11,03%. Angka ini mencakup kenaikan harga selama periode July 2007-Juni 2008. Berdasarkan kedua angka tersebut (11,03% dan 10,97%), maka berarti agar target 10,97% versi pak Purbaya tersebut bisa dicapai, inflasi dalam 6 bulan ke depan (July 2008-December 2008) harus lebih kecil daripada inflasi pada periode  yg sama tahun lalu (July 2007-December 2007). Sebagai catatan, inflasi pada periode July 2007-December 2007 adalah sebesar 4,4%. Agar prediksi pak Purbaya bahwa inflasi tahun ini sebesar 10,97% bisa menjadi kenyataan, dalam 6 bulan ke depan tingkat inflasi tidak boleh lebih dari angka 4,4% ini.

Saya pribadi berpendapat bahwa kondisi di atas sulit tercapai, mengingat berbagai kondisi yang pernah saya tuliskan di post lama saya (artikel seri “Mimpi&Realita“).

—–oOo—–

Faktor Fundamental lainnya yang dibahas dalam artikel di harian Kompas tersebut adalah mengenai BI Rate. Pak Purbaya dalam artikel tersebut menulis bahwa :

Angka inflasi tahunan yang masih dua digit tentu akan mendorong BI untuk menaikkan suku bunga. Namun, melihat prospek inflasi di atas, rasanya suku bunga tidak harus dinaikkan terlalu tinggi. BI Rate mungkin akan dinaikkan ke level 9 persen pada awal Agustus dan dipertahankan pada level tersebut sepanjang 2008.

Perlu diketahui bahwa dalam sistem “Inflation Targeting” yang dianut oleh Indonesia, instrumen yang dipakai oleh pemerintah untuk mengendalikan inflasi adalah dengan menggunakan suku bunga, dalam hal ini adalah BI Rate. Jika tingkat inflasi terlalu tinggi, maka pemerintah akan menginjak ‘rem’ perekonomian dengan menaikkan suku bunga. Dengan naiknya suku bunga, maka jumlah uang yang berputar di dalam ekonomi akan berkurang sehingga bisa menekan tingkat inflasi.

Dalam kasus artikel pak Purbaya ini, saya pribadi merasakan adanya suatu kejanggalan. Di satu sisi, pak Purbaya merasa pemerintah tidak perlu menginjak ‘rem’ terlalu dalam dan BI Rate cukup dinaikkan hingga ke level 9% dan tidak perlu dinaikkan lagi hingga akhir tahun ini. Tetapi di lain sisi, pak Purbaya mengharapkan inflasi turun drastis hingga di bawah 9% pada bulan Mei 2009 bahkan sampai ke tingkat 7,59% di akhir tahun 2009. Pertanyaan yang mungkin perlu dipikirkan dalam hal ini adalah, ‘Tanpa kenaikan suku bunga yang drastis, bagaimana  caranya tingkat inflasi bisa turun drastis?’

Sebagai perbandingan, mari kita lihat apa yang dilakukan oleh oleh pemerintah agar bisa meredam inflasi di tahun 2005 yang mencapai 17,11%. Pada saat itu, dalam periode 6 bulan, BI menaikkan tingkat suku bunga hingga sebesar 450 basis point (dari 8,25% hingga 12,75%).

Berdasarkan pengamatan pribadi saya, sejujurnya saya meragukan bahwa BI Rate sebesar 9% akan cukup untuk mengerem inflasi, apalagi agar bisa turun hingga ke tingkat 7,59% seperti harapan pak Purbaya tersebut.

—–oOo—–

Berdasarkan analisa di atas (terhadap inflasi dan tingkat suku bunga), saya merasa bahwa artikel tulisan pak Purbaya tersebut agak terlalu optimistis terhadap IHSG di akhir tahun ini.

Satu hal yang ingin saya tekankan, dalam post ini yang ingin saya sampaikan bukanlah bahwa ‘IHSG tidak mungkin naik di akhir tahun ini’ (meskipun saya memang ragu bahwaPada akhir tahun IHSG akan jauh lebih baik seperti yg diperkirakan oleh pak Purbaya). Bukan tidak mungkin di akhir tahun IHSG naik misalnya karena :

  • kembali semaraknya aktivitas spekulasi di bursa saham
  • harga komoditas kembali naik drastis seperti tahun-tahun kemarin (karena IHSG sarat dengan saham komoditas)

Meskipun demikian, jikalau di akhir tahun IHSG benar naik, saya meragukan bahwa kenaikan itu disebabkan oleh ‘Fundamental Ekonomi Masih Baik’.

15 Comments

Filed under Pembahasan kondisi Ekonomi Makro

15 responses to “Fundamental Ekonomi Masih Baik???

  1. Risyadmum

    Bro,
    Diluar nama Danareksa sebagai sekuritas pelat merah , yang biasanya memang mendapat tugas ‘suci’ memberikan sinyal cuaca cerah kepada masyarakat, DRI tentu punya parameter2 yang tidak semua dipaparkan dalam artikel tersebut.

    Saya sendiri bulan Jan 2008 , kebetulan mendapat kesempatan mendengar langsung paparan Pak Purbaya mengenai Economic Outlook 2008 di satu acara di BEI (file-nya saya email ke bro Nikken hr ini. Pls check).

    Selain pengaruh situasi global, Purbaya memakai forecast economic indicator dan forecast growth indicator yang menurut saya lengkap.

    Tidak hanya seputar inflasi dan BI rate, mereka pakai berbagai index sebagai eraly warning system. Diantaranya Cosumer confidence index, Coincident economic index, Leading economic Index, Sequential signaling & Banking Pressure Index.

    Yang menarik buat saya prediksi Purbaya waktu itu, mengenai akan jatuhnya IHSG di Jan-April 2008, dan memang kejadian. Cek file halaman 30.

    Ada satu lagi analisa Purbaya yang sedang saya tunggu, berdasarkan data US economic 2001-2007, bahwa siklus resesi USA secara ‘normal’ diprediksi terjadi di 2011. Tetapi sebagai negara kuat, siklus resesi ini ‘biasanya’ recoverynya cepat.

    Sayangnya saya tidak punya data terbaru DRI yang lengkap menjelang 2Q08 ini. Mereka punya bank data yang realiable dan terupdate. So, mungkin saja Purbaya benar, namanya juga prediksi.

  2. @risyadmum

    Memang Danareksa itu sudah mempunyai nama besar sis, sehingga sejujurnya waktu nulis post ini, saya sempat berpikir 2 kali🙂

    Tujuan saya ketika menulis artikel ini hanyalah sekedar untuk mengungkapkan ketidak-setujuan saya dengan opini & prediksi pak Purbaya, tapi ada resiko orang lain bisa salah paham dan mengira bahwa saya mempertanyakan kapabilitas pak Purbaya tersebut.

    Sebenarnya yang menjadi fokus saya di artikel ini adalah mengenai klaimnya tentang kondisi fundamental ekonomi Indonesia, bukan mengenai prediksi IHSG itu sendiri. Satu laporan yang saya baca dari Asian Development Bank juga semakin menguatkan keyakinan saya dalam hal ini.

    Sebagai contoh, dalam laporan ADB tersebut bisa dilihat bahwa Kontribusi Pangan dan Energi dalam penghitungan CPI kita sekitar 69%. (Juli ini ada perubahan sistem penghitungan CPI, sehingga mungkin kini lebih dekat ke angka 60%).

    Dengan kontribusi harga pangan dan energi yg begitu besar di penghitungan CPI, saya ragu bahwa inflasi kita untuk tahun ini akan cuma 10,97% (terlebih mengingat situasi harga pangan, kenaikan BBM dan kenaikan gas).

    Tadi siang di thread JS di kaskus, saya ada menaruh satu grafik utk ‘kuis’. Sebenarnya grafik itu juga ada kaitannya dengan apa yang saya tulis di artikel ini, terutama terkait dengan suku bunga BI Rate.

    Terus terang apakah prediksi pak Purbaya bahwa “IHSG akan jauh lebih baik di akhir tahun” itu akan benar atau salah, hanya bisa kita lihat di akhir tahun. Seperti kata sis: ‘namanya juga prediksi’🙂

    Terlepas dari bagaimana nasib IHSG di akhir tahun, saya meragukan bahwa inflasi di akhir tahun cuma 10,97% dan BI Rate yg cuma 9% bisa cukup untuk mengendalikan inflasi di akhir tahun ini dan tahun depan.

  3. Risyadmum

    Prediksi Yudhi (nama panggilannya) atas IHSG untuk Jan-April 08, saya sengaja sebut hanya untuk menunjukkan bahwa Yudhi bukan analis yang takut mengatakan suatu prediksi ‘suram’ kalau memang analisa atas parameter2nya mengatakan demikian.

    Mengenai inflasi 6 bulan ke depan, saya setuju dengan bro Nikken, bakal sulit menekan tingkat inflasi dibawah 4,4%. Agenda tetap kenaikan inflasi di bulan puasa, Lebaran, Natal & Tahun baru sudah pasti tinggi.

    Setahu saya, DRI secara berkala akan mengupdate prediksi mereka sesuai turun/naiknya index-index yang mereka pantau. Bisa jadi per Agustus nanti, perhitungan mereka naik ke prediksi 11,5%-12% atau bahkan lebih.

    Saya tertarik tulisan bro Nikken yang ini :
    *Pertanyaan yang mungkin perlu dipikirkan dalam hal ini adalah, ‘Tanpa kenaikan suku bunga yang drastis, bagaimana caranya tingkat inflasi bisa turun drastis?’*
    Monetarian banget,he..he..he..khas penganut Keynesian.

    Kalau sektor industri pengolahan digarap untuk menggenjot export, salah satunya dengan pemberian kredit berbunga rendah (untuk pinjaman produktif), yang tertolong bukan hanya neraca perdagangan – jadi plus, juga ketahanan ekonomi kaum pekerja kalangan menengah ke bawah yang kebanyakan bekerja di sektor ini. Cuma ya itu, nggak bisa drastis dan entah kapan bisa terwujud.

    Saat ini, katanya hanya daerah yang kaya dgn komoditas (luar jawa) yang lebih resilience terhadap tekanan inflasi.

  4. Sebenarnya, kalau kita tidak lihat angka inflasi tahunan (yoy), tapi angka inflasi 6 bulan saja, maka prediksi Yudhi itu akan lebih sulit lagi utk tercapai🙂 (ini semua gara gara BPS yg pakai acara ‘ganti metode penghitungan’ )

    Soalnya antara Januari-Juni 08 (dengan sistem penghitungan CPI yg baru), inflasi sudah mencapai 7,37%. Ini artinya mas Yudhi tinggal punya ‘cadangan’ sebesar 3,6% utk 6 bulan ke depan sebelum inflasi nembus prediksinya yg 10,97%.

    Untuk soal ‘daerah yg kaya dgn komoditas (luar jawa) yg lebih resilience terhadap tekanan inflasi‘ saya juga sudah pernah dengar (sewaktu ngobrol dengan para pelanggan pabrik saya)

    Tetapi ketika saya cek data BPS, sepertinya yg terjadi di lapangan tidak demikian.

    Bogor yang setahu saya tidak ada komoditas apa-apa (selain roti unyil dan asinan Bogor) justru mencatat inflasi yg rendah (1,15%) bulan lalu.

    Sebagai perbandingan, kota-kota di Kalimantan yg ramai dengan komoditasnya justru mencatat tingkat inflasi antara 2,22%-3,32%.

  5. Jangan2 dibogor penduduknya pada makan tales bogor dan roti unyil aja… jadi harga beras dan sembako lainnya tidak menyebabkan inflasi yang tinggi…hehehe.

    Edison : Iya, saya kok bisa lupa sama komoditas yang satu itu…Talas Bogor…hahaha.

  6. Baru baca data terbaru di situs BPS, inflasi tahun berjalan sampai July sudah 8,85%.

  7. Tukul

    Yudhi Purbaya Sadewa, engineer yang bertransformasi jadi ekonom🙂
    Kalau mengatakan fundamental ekonomi “makro” masih kuat, saya setuju….
    Tapi kalau sudah menerka2 arah IHSG, wah nanti dulu…karena korelasinya erat sekali dgn DJI, oil price, commodity dll

  8. ipung aja

    wah..bro seru jg obrolon ini n jd nambah wawasan
    tetep semangat bro…
    klo inflasi tetep tinggi n BI rate trs naek mending maen instrumen pasar uang kali ya? ato obligasi 3 bln dgn bunga tinggi sambil nunggu sinyal positif ,klo menurut bro sendiri gmana? thx

    Edison: Utk instrumen fixed income, memang saat ini alternatif yg paling menarik rasanya adalah instrumen jangka pendek <1 thn. Saya sendiri jika bukan karena kebetulan ada dana yg cair dalam jumlah yg relatif besar, mungkin tidak akan membeli ORI 5. Dana yang cair itu pun hanya sebagian saya belikan ORI 5, sisanya saya tempatkan dalam instrumen jangka pendek sambil menunggu perkembangan BI Rate 3-4 bulan lagi.

  9. Thanks ya semakin menambah wawasan saya terhadap dunia ekonomi. Hari ini ada beberapa hal yang menarik bagi saya :
    1. Likuiditas perbankan mengalami kesulitan (tahap waspada), bank menawarkan suku bunga lebih tinggi dari Bunga yang dijamin LPS sebagai stimulus menarik dana simpanan nasabah.
    2. Nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan terhadap dollar (untung masih dijagain ama BI)
    3. IHSG anjlok dalam dibawah 2000
    4. Inflasi naik terus dan bunga SBI sudah 9,25 basis point.
    Apakah ini sebagai tanda2 bahaya krisis mengancam perekonomian kita ?.
    Salam

    Edison: Yup, pertumbuhan kredit di negara kita relatif tinggi. Yang mengkhawatirkan, sepertinya kredit yg dikucurkan selama ini justru kebanyakan adalah kredit konsumsi dan bukan kredit investasi…

    Akibat pertumbuhan kredit yg pesat, bank mulai keteteran utk menggalang dana masyarakat. Terlebih lagi setelah ramainya perkembangan reksadana akhir-akhir ini, sehingga bank harus ‘rebutan’ dana masyarakat dengan reksadana.

    Saya sendiri melihat keuangan negara kita saat ini sebenarnya dalam keadaan yg cukup ketat. Ini karena besarnya beban subsidi pemerintah. Untungnya dalam beberapa tahun terakhir, negara kita banyak tertolong oleh kondisi pasar komoditas (batu bara dan CPO).

    Sejujurnya saat ini saya agak cemas dengan kondisi ekonomi kita dalam 1-2 tahun ini. Kecemasan ini bahkan membuat saya menunda ekspansi kapasitas pabrik saya, karena saya khawatir daya beli masyarakat utk 1-2 thn ini akan terpukul…

    Di sisi lain, kondisi yg mengkhawatirkan spt ini biasanya dibarengi dengan Bear Market di bursa saham. Bagi investor spt saya, saat-saat spt ini justru sangat ‘menyenangkan’ karena memberikan saya kesempatan utk beli saham dengan harga yg relatif murah.

  10. ipung aja

    thx sarannya om… n salam kenal maklum newbie ney🙂
    today ihsg under 2000 apakah tanda2 negatif ney?? ada berita apa ya?
    klo mo liat harga ori/obligasi yg online dimana ya?
    lg nunggu harga ORi yieldnya 15% ney hehe….
    thx beritanya n tetep semngat caiyo…..🙂

    Edison: Utk ORI yieldnya sampai 15%, mungkin agak lama (kecuali jika ada perkembangan dashyat di pasar). Harganya harus di sekitar 92-93 kalau tidak salah baru Yield to Maturitynya 15%… (dgn asumsi jatuh temponya sisa 4 tahun)…. Jadi mari kita berdoa harganya dalam 1 tahun ini turun sampai tingkat itu🙂

  11. Godaikun

    Bro Edison,

    Saya ingin bertanya tentang efek perbedaan inflasi antara 2 negara. Kita ketahui bahwa dalam 10 tahun terakhir ini inflasi Indonesia di atas inflasi
    negara maju ( US, Europe). Akan tetapi kurs mata US $ dengan Rupiah adalah lebih kurang tetap.
    Apakah akumulasi perbedaan inflasi itu akan menyebabkan Rupiah overvalue secara fundamental?

    Saya tahu bahwa kurs forex itu banyak faktor yang menentukan, cadangan devisa, sentimen pasar, ect. Akan tetapi bagaimana dengan pengaruh jangka panjang? Apakah mungkin terjadi devaluasi lagi apabila perbedaan fundamental value sudah terlalu tinggi ?

    Edison: Saya terus terang lupa berapa nilai rupiah 10 tahun lalu🙂 Tetapi untuk mudahnya, kita anggap saja benar kurs Rupiah 10 tahun lalu terhadap US$ sama dengan kurs saat ini.

    Kalau kita lihat sekilas, memang sepertinya benar ‘perhitungan’ bro. Jika kursnya sama 10 tahun yg lalu, kemudian inflasi di negara kita jauh lebih tinggi daripada Amerika, lalu sekarang kursnya tetap sama, sepertinya memang benar kalau Rupiah secara fundamental sudah overvalued.

    Tetapi kalau kita pikir lebih dalam, perhitungan di atas mempunyai 1 asumsi, yaitu bahwa kurs Rupiah terhadap US$ 10 tahun lalu memang sudah ‘pas’ (tidak over-valued dan tidak undervalued). Bukankah mungkin saja 10 tahun yg lalu itu sebenarnya Rupiah itu under-valued, dan justru kurs saat ini yg ‘pas’?

    Edison:Kalau kita berbicara mengenai Devaluasi, itu akan terkait dengan sistem kurs tetap (Fixed Exchange Rate) seperti yang kita pakai dahulu di jaman orde baru. Misalnya US$1 dipatok Rp 2000, lalu diturunkan menjadi Rp 4000. Jadi memang bisa terjadi penurunan nilai secara drastis hanya dalam waktu 1 hari (begitu nilai patokannya dirubah oleh pemerintah)

    Sekarang ini, kita memakai sistem kurs mengambang (Floating Exchange Rate), dan pelemahan kurs dalam sistem ini dikenal sebagai Depresiasi. Dalam sistem ini, yang menentukan kurs adalah pasar. Dalam keadaan normal, biasanya depresiasi akan tidak sedrastis devaluasi, alias perubahan kursnya itu lebih bertahap.

    Karena itu, bro tidak perlu khawatir terjadi Devaluasi seperti pada jaman Orde Baru dulu. Memang Rupiah bisa saja mengalami Depresiasi, tetapi pelemahan kurs drastis dalam depresiasi biasanya tidak akan terjadi dalam 1 malam.

  12. mas edison…
    salam kenal ya
    thanks bagt atas info-infonya..
    saya cuma mau minta tolong ne,
    mas tolong jelasin dikit pengaruh inflasi saat ne terhadap kredit investasi perbankan kita..
    thank bgt ….

  13. Romario

    hi, saya dngar dari ma tukul, pak purbaya berasal dari engineer yah??
    kbtulan saya mahasiswa engineer dari ITB yan tertarik ekonomi, kasih sarannya dong, kalau saya mau blajar seluk beluk ekonomi, saya harusmulai darimana ya???
    saya percaya semua yang ada di forum ini adalah sesepuh dibidan ekonomi..mohon bantuannya ya..THX

  14. san

    @Romario…
    mulainya dari niat. baca semua postingan diblog ini termasuk link-link yang tersedia lalu tanya kalo ga paham. Pemilik blog ini luar biasa ilmu, kesabaran n petunjuknya. Ga tau kapan bisa ucapin makasih in person buat beliau. Pokoknya dimana ada kemauan pasti ada jalan. Ciayo!!!

  15. Yozzie

    mas yth, mau tanya sebentar.
    Menurut mas, bagaimana sih para investor menanggapi masalah Good Corporate Governance bagi perusahaan?
    Terutama, apakah hal ini menjadi salah satu hal yang diperhitungkan oleh mereka sebelum menentukan dalam berinvestasi?
    Mksh Byk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s