Krisis Kredit Amerika, Kisah Kegagalan Sektor Finansial (3)

(sambungan dari part 2)

Di dalam part 2, saya telah bercerita tentang CDO (Collateralized Debt Obligation) dan ‘matinya’ pasar CDO. Kematian pasar CDO (karena tidak ada pembeli) membuat harga pasar CDO merosot jauh. Merosotnya harga pasar CDO ini lalu memaksa berbagai perusahaan finansial melakukan penyesuaian nilai assetnya (writedown).

Nilai asset yang menurun ini membuat ketahanan modal perusahaan-perusahaan itu terganggu. Mereka pun terpaksa memperkuat permodalan mereka dengan menerbitkan obligasi ataupun juga menerbitkan saham baru. Tumbangnya perusahaan seukuran Bear Sterns seakan menimbulkan trauma bagi para perusahaan tersebut. Mereka pun menjadi sangat enggan untuk mengucurkan kredit, bukan hanya kepada masyarakat, tetapi juga kepada sesama perusahaan finasial karena khawatir akan kondisi ketahanan modal mereka.

Keengganan para perusahaan finansial untuk mengucurkan kredit sangat meresahkan pemerintah USA. Agar bisa berjalan dan tumbuh dengan baik, dunia usaha membutuhkan akses ke fasilitas kredit. Tanpa adanya aliran kredit yang lancar dalam perekonomian, dunia usaha akan sulit berkembang bahkan tidak sedikit perusahaan yang akan berguguran. Dengan keadaan sektor properti saat ini yang dalam keadaan ‘koma’, tentunya pemerintah USA tidak ingin ada sektor lain dalam perekonomian yang rontok lagi.

—–oOo—–

Untuk mencegah ‘skenario mimpi buruk’ di atas terjadi, bank Sentral Amerika lalu membuat sebuah paket program penyelamatan sektor finansial, yang tujuannya adalah untuk mendorong bank-bank lebih berani mengucurkan kredit dan juga meminjamkan dana antar sesamanya. Berbagai fasilitas pinjaman lalu ditawarkan kepada para perusahaan finansial itu.

Salah satu dari program penyelamatan yang ditawarkan oleh pemerintah USA adalah semacam program ‘Tukar Guling’. Dalam program ini, Bank Sentral Amerika memberikan kesempatan kepada berbagai bank untuk meminjam surat berharga terbitan negara (Treasuries) dengan hanya menggunakan jaminan CDO dan sejenisnya. Program ini sendiri cukup mengundang kontroversi. Jika memakai perumpamaan, maka program ini bisa diibaratkan seperti meminjam uang (yg mempunyai nilai) dengan menggunakan jaminan kertas koran.

—–oOo—–

Lalu apakah tujuan dari paket penyelamatan pemerintah USA ini berhasil dicapai? Apakah perusahaan-perusahaan finansial itu kini lebih berani mengucurkan kredit dan juga saling meminjamkan dana di antara sesamanya?

Dari pengamatan di lapangan, sepertinya sampai saat ini program pemerintah tersebut belum menampakkan hasil.

Sebagai contoh, baru baru ini saya membaca artikel tentang bunga KPR tempo 30 tahun di USA. Di minggu ini, rata-rata bunga KPR utk tempo 30 tahun adalah 6,52%. Ini relatif tidak berubah dibandingkan dengan kondisi tahun lalu, dimana nilainya adalah 6,59%. Padahal, dalam 1 tahun ini, the Fed (bank Sentral Amerika) telah menurunkan suku bunga Fed Rate dari 5,25% hingga menjadi 2%. Seharusnya dengan turunnya Fed Rate, bunga KPR ini juga ikut turun, tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Penyebabnya tiada lain adalah karena keengganan/ketakutan para lembaga finansial untuk mengucurkan kredit. Akibatnya mereka meminta bunga yang tinggi untuk kreditnya.

—–oOo—–

Ketakutan para lembaga finansial untuk mengucurkan kredit juga bisa dilihat dari tingkat suku bunga  Municipal Bonds.  Apa itu Municipal Bonds? Di Amerika, berbagai instansi pemerintah dan juga pemerintah daerah dapat menerbitkan obligasi untuk memenuhi kebutuhan dananya. Sebagai ilustrasi, mungkin kita bisa ibaratkan jika seandainya PEMDA kota Jakarta kekurangan uang untuk pembangunan kota Jakarta, maka PEMDA Jakarta lalu bisa menerbitkan obligasi kota Jakarta. Obligasi semacam ini (yg bukan diterbitkan oleh pemerintah pusat) disebut sebagai Municipal Bonds.

Berdasarkan satu artikel yang saya baca, pada saat ini tingkat suku bunga Municipal Bonds di saat ini malah naik. Padahal sama seperti KPR, dengan turunnya suku bunga Fed Rate, seharusnya suku bunga utk Municipal Bonds ini juga ikut turun.

Satu artikel lain yang saya baca juga memberikan sinyal yang sama, di mana artikel ini meliput tentang kondisi pasar Commercial Paper (semacam surat hutang jangka pendek) yang menciut hingga 40% dari titik puncaknya di bulan July 2007. Menciutnya pasar Commercial Paper ini tidak disebabkan oleh keengganan para perusahaan finansial untuk meminjamkan dana di antara sesamanya.

—–oOo—–

Lalu apa dampak dari kondisi Krisis Kredit ini (Credit Crunch) bagi para Investor? Dampak yang paling jelas tentunya adalah kepada beban hutang yang ditanggung masyarakat. Meskipun suku bunga Fed Rate telah turun, penurunan bunga ini tidak bisa ‘dinikmati’ oleh masyarakat karena bunga yang dikenakan kepada mereka tetap tinggi. Dalam keadaan normal, seharusnya penurunan suku bunga yg begitu drastis oleh the Fed bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Tetapi akibat krisis kredit, dampak penurunan suku bunga itu ‘terhenti’ di sektor finansial dan tidak mencapai sektor perekonomian lainnya.

Satu hal yang perlu dipertimbangkan juga adalah skenario dimana di kemudian hari the Fed harus menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi. Jika ini terjadi sewaktu krisis kredit belum mereda, maka beban bunga yg dirasakan oleh masyarakat juga akan semakin tinggi dari saat ini, sehingga perekonomian akan semakin melambat.

(bersambung ke part 4)

5 Comments

Filed under Saya suka cerita Ekonomi

5 responses to “Krisis Kredit Amerika, Kisah Kegagalan Sektor Finansial (3)

  1. Jaya

    demen banget dah gua ama ulasanya….ngerti2 sekarang….

  2. waluyo

    ternyata wong amrik sama goblognya dengan wong indonesia, kalo kita sih ketiban anthurium (gelombang cinta, jemanii dsb) thanks ulasannya muanteebbb

  3. Agung

    Thanks pak,

    Tulisannya nambah wawasan saya yang awam di bidang ekonomi jadi bisa ngerti subprime mortgage.

  4. LeeNoa

    menarik…
    tapi, apakah ada solusi agar krisis finansial AS menjadi lebih baik??
    apakah AS hanya akan melakukan campur tangan dengan pembelian saham yang tidak sehat (utk menyelamatkan bank yang masih sehat agar wabah krisis tidak semakin parah) dengan menggunakan anggaran fiskal dan kemudian hanya duduk manis menunggu perkembangan pasar keuangan (paham adam smith “invisible hands”) seperti yang dilakukan saat krisis suprime mortgage awal terjadi yang diatasi dengan kebijakan mix policy antara fiskal dan moneter kemudian membiarkannya dan percaya bahwa pasar akan stabil dengan sendirinya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s