Mengenal Sekilas Laporan Keuangan (2)

(bersambung dari part 1)

Setiap laporan keuangan perusahaan itu akan terdiri dari 3 komponen utama, yaitu Balance Sheet (Neraca), Statements of Income (Laporan Rugi-Laba), dan Statements of Cash Flow (Laporan Arus Keuangan). Dalam artikel seri ini, saya akan mencoba untuk menjelaskan secara singkat satu persatu ketiga komponen tersebut.

Berkaitan dengan artikel seri ini, ada satu tips dari saya agar teman-teman yang tidak berlatar belakang ekonomi bisa lebih mudah mempelajari laporan keuangan. Jangan mencoba untuk menghafal isi ketiga komponen laporan di atas, tetapi cobalah untuk melihat hubungan di antara komponen-komponennya.

PS: Istilah akuntansi yang saya pakai dalam artikel seri ini akan lebih banyak dalam bahasa Inggris. Dalam hal ini, pemakaian bahasa Inggris tersebut bukan karena ingin ‘bergaya’, tetapi karena sewaktu kuliah saya sangat membenci pelajaran akuntansi, sehingga tidak banyak yg ‘menempel’ di kepala saya.

Baru setelah menjadi investor, saya terpaksa mempelajari kembali akuntansi, tetapi buku akuntansi yang saya baca adalah dalam bahasa Inggris. Akibatnya saya malah lebih akrab dengan istilah akuntansi dalam bahasa Inggris, dan terkadang saya tidak tahu apa istilah Indonesianya. Meskipun demikian, saya akan menambahkan juga istilah akuntansi Indonesianya jika memang saya tahu.

—–oOo—–

BALANCE SHEET (NERACA)

Sebuah Balance Sheet (Neraca) bisa diibaratkan sebagai suatu foto/potret dari sebuah perusahaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita melihat foto/potret teman kita, maka di foto itu kita bisa melihat baju apa yang dipakai teman kita, celana apa yang dipakai, dll. Fungsi Balance Sheet dalam hal ini tidaklah berbeda jauh. Dengan melihat Balance Sheet alias ‘foto’ perusahaan itu, kita bisa melihat bagaimana kondisi perusahaan itu.

Perumpamaan Balance Sheet=’foto’ ini sering saya pakai karena perumpamaan ini juga bisa menerangkan satu ciri khas Balance Sheet. Apa ciri khas Balance Sheet itu?

Jika kita melihat sebuah foto, maka foto itu akan berisi gambaran ttg kondisi di saat foto itu dibuat. Foto yg kita ambil itu tidak akan bisa memberitahukan bagaimana kondisi sebelumnya, dan juga tidak memberikan gambaran bagaimana kondisi sesudah foto itu diambil.

Demikian juga dengan Balance Sheet (Neraca).  Laporan ini berisi informasi yg menggambarkan keadaan pada satu titik waktu saja, sehingga dalam setiap Balance Sheet, pasti ada informasi “per tanggal xx/xx/xxxx”. Artinya ‘foto‘ kondisi perusahaan tersebut diambil pada tanggal itu.

—–oOo—–

Apa isi dari sebuah Balance Sheet? Isi dari Balance sheet ada 3 bagian, yaitu :

  • Assets (Aktiva/asset)
  • Liabilities (Kewajiban/Hutang)
  • Equity (Ekuitas).

Assets adalah segala sesuatu milik perusahaan yang mempunyai nilai, baik berupa barang berwujud (misalnya stok barang, gedung, mesin,dll) maupun barang tidak berwujud (misalnya merek dan paten).

Liabilities adalah segala hutang dan kewajiban yg harus dibayar oleh perusahaan itu, baik jangka panjang maupun jangka pendek.

Equity adalah nilai kepemilikan para pemegang saham perusahaan itu. Ini adalah jumlah yg menjadi hak milik para pemegang saham jika perusahaan tersebut melunasi seluruh hutangnya.

Bagaimana hubungan antara ketiga komponen Assets, Liabilities dan Equity yang kita lihat di atas? Hubungan di antara ketiganya bisa dirumuskan dengan suatu formula sederhana :

ASSETS = LIABILITIES + EQUITY

—–oOo—–

Apa dasar dari ‘formula’ di atas? Penjelasan yang paling mengena mungkin adalah suatu kalimat yang saya kutip dari sebuah buku yang saya baca :

Assets don’t just fall down from the sky like Manna from Heaven

Dalam bahasa Indonesianya, kalimat tersebut kira-kira bermakna “Asset tidak turun begitu saja dari langit spt berkah dari Surga“.

Lalu kalau kita sudah tahu bahwa asset ‘tidak turun dari surga‘, bagaimana cara perusahaan memperoleh Asset? Tentunya asset tersebut harus dibeli. Dalam hal ini, cara perusahaan membeli Asset tidak berbeda dengan 2 cara manusia membeli barang. Cara pertama adalah dengan memakai uang sendiri (modal sendiri/equity). Cara kedua adalah dengan berhutang (liabilities).

Jika kita memahami ini, maka tentu saja perhitungan di atas menjadi sangat mudah dipahami. Assets pasti adalah sebesar jumlah dari seluruh hutang kita PLUS modal kita. Jika assets lebih besar, berarti ada asset yg ‘turun dari surga‘. Jika assets lebih kecil, berarti ada “tikus siluman” yg menggerogoti asset. Tentunya kedua skenario ini tidak mungkin terjadi dalam laporan keuangan resmi, karena jika ada ketidak-cocokan, laporan keuangan itu tidak bisa dipakai.

(bersambung ke part 3)

2 Comments

Filed under Pemikiran tentang Investasi

2 responses to “Mengenal Sekilas Laporan Keuangan (2)

  1. Blazy DK

    OOT dikit bro,uda ke broker hari ini?hahaahhah
    btw artikel hari ini mirip materi ujian komprehensif saya kemaren🙂

  2. mohon dilanjut bos, klo’ bisa sampai ke topik Income Statement… please…

    kata orang medan,… “mantap betul blog ini”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s