Edison’s Week in Review: 7 September 2008

Ulasan mingguan kali ini akan saya awali dengan berita dari negeri seberang. Dari  negara paman Sam  (Amerika) ada berita bahwa di bulan lalu dunia usaha secara keseluruhan mengurangi jumlah pekerjanya sebanyak 84 ribu orang. Ini berarti sudah 8 bulan berturut-turut berbagai perusahaan di Amerika mengurangi jumlah pekerjanya. Data terakhir ini juga menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Amerika kini mencapai 6,1%, angka tertinggi dalam 5 tahun.

Berita menarik lainnya dari USA adalah bahwa kombinasi krisis Subprime dan krisis Kredit kembali menelan korban baru (padahal belum sampai 2 minggu yg lalu, saya baru bercerita tentang rontoknya bank Topeka di Kansas). Kali  ini yang menjadi korbannya adalah Silver State Bank di Nevada yang mempunyai asset senilai $2 milyar. Dengan ‘gulung tikar’-nya bank ini, jumlah bank yang tumbang di Amerika di tahun ini sudah mencapai 11.

(Ada ‘bumbu’ yg menarik seputar tumbangnya Silver State Bank ini. Putra dari calon presiden USA John McCain sempat menjabat sebagai direktur selama 5 bulan di bank ini, dan juga duduk di komisi audit bank tersebut sebelum mengundurkan diri July lalu)

—–oOo—–

Masih terkait dengan krisis ganda di Amerika (Subprime dan Kredit), MenKeu USA Henry Paulson sepertinya akan terpaksa kembali mengulurkan tangan utk menyelamatkan perusahaan Fannie Mae (NYSE: FNM) dan Freddie Mac (NYSE: FRE). (PS: Bagi pembaca blog yg tidak mengerti awal dari kisah ini, baca artikel seri ini dan ini dan ini). Detail jelas tentang bentuk ‘uluran tangan’ ini sendiri belum ada dan baru akan diumumkan minggu berikut ini.

EDIT: Baru selesai post artikel ini, ketika saya cek di mailbox, ada email baru dari USA Treasury tentang bentuk ‘uluran tangan’ yang dilakukan. Pemerintah USA secara resmi mengumumkan bahwa Fannie Mae dan Freddie Mac kini berada di dalam ‘conservatorship’ Pemerintah. Bahasa Indonesianya kira-kira adalah bahwa kini Fannie Mae dan Freddie Mac kini resmi ‘diambil alih’ oleh pemerintah.

Selama kepengurusan ini berlaku, ada 3 langkah yang dijalankan oleh pemerintah USA . Langkah pertama adalah bahwa secara bertahap, pemerintah USA akan membeli Saham Preferen (Preferred Share) dari Fannie Mae dan Freddie Mac.

Langkah kedua yang diumumkan pemerintah USA yaitu bahwa mereka akan menyediakan fasilitas kredit baru untuk Fannie Mae dan Freddie Mac. Fasilitas ini akan menambah fasilitas kredit yang telah diberikan pemerintah USA bulan July lalu.

Langkah ketiga dalam program penyelamatan ini yaitu bahwa pemerintah USA akan melakukan pembelian Mortgage Backed Securities (MBS) terbitan Fannie Mae dan Freddie Mac. (Utk mengerti tentang Mortgage Backed Securities/MBS ini, teman-teman bisa membaca tentang CDO di artikel seri “Cerita di Warung Soto” dan “Krisis Kredit Amerika” di blog ini. CDO adalah salah satu bentuk MBS)

Dengan tiga langkah yang diumumkan ini, diharapkan para investor institusional akan lebih percaya kepada ‘keamanan’ dari obligasi Fannie Mae dan Freddie Mac.

Mengapa pemerintah USA kembali harus turun tangan membantu perusahaan Fannie Mae dan Freddie Mac? Ini disebabkan oleh mulai hilangnya kepercayaan investor baik dalam negeri maupun luar negeri terhadap 2 perusahaan ini. Para pemegang obligasi kedua perusahaan tersebut mulai mengurangi kepemilikannya. Bank of China misalnya, baru-baru ini mengurangi jumlah obligasi Fannie Mae dan Freddie Mac yg dipegangnya hingga 29%.

Jika kondisi di atas tidak ditangani dengan segera, maka memang nasib Fannie Mae dan Freddie Mac akan semakin mengkhawatirkan. Selama ini, untuk menjalankan operasinya, Fannie Mae dan Freddie Mac sangat mengandalkan investor institusional, karena sebagian besar pembeli obligasi yang mereka terbitkan adalah institusi seperti reksadana, dana pensiun dan juga bank baik dalam negeri maupun luarn negeri. Tanpa investor institusional ini, mereka akan kesulitan untuk menghimpun modal kerja.

Dengan ‘turun tangan’ secara langsung, Henry Paulson berharap investor luar negeri akan lebih yakin kepada Fannie dan Freddie sehingga mau kembali membeli obligasi yang diterbitkan keduanya.

Bagi yg kesulitan mengikuti cerita di atas, jika mau disederhanakan, Fannie Mae dan Freddie Mac selama ini ibaratnya berdagang dengan modal ‘ngutang’. Di saat ini dagangannya sedang ‘seret’ (akibat krisis subprime dan krisis kredit). Yang semakin membuat mereka pusing,  saat ini orang yang mau memberikan hutang kepada mereka semakin berkurang, karena semakin ‘takut’ dengan kondisi keuangan keduanya. Akibatnya, utk menarik orang mau memberikan hutang kepada mereka, Fannie dan Freddie terpaksa memberikan bunga yg tinggi. Ini tentunya akan semakin membuat usahanya ‘seret’. Oleh karena itu, pemerintah USA terpaksa turun tangan agar keduanya bisa bernafas.

—–oOo—–

Sebagai seseorang yang mengamati krisis subprime dan krisis kredit dari awal, sejujurnya selama ini saya merasakan suatu kejanggalan. Kepala saya selama ini selalu diisi oleh pertanyaan ‘kok krisis ini sepertinya relatif tenang sih? Padahal jika melihat angka-angkanya, seharusnya krisis ini termasuk dashyat‘.

Sebagai contohnya, satu keanehan yang saya rasakan adalah masih relatif sedikitnya hedge fund yg rontok. Bank yang tumbang pun boleh dikatakan baru relatif sedikit. Bursa saham Amerika, meskipun sudah turun dari titik puncaknya, tetapi penurunannya masih relatif ‘standard’ utk sebuah Bear Market, tidak sampai ‘heboh’ spt pada periode ’30an, ’70an ataupun internet bubble yang lalu.

Mengamati berita dalam 1 bulan terakhir, tiba-tiba di kepala saya muncul suatu gambaran sebuah pohon besar yang tumbang. Pernahkah teman-teman melihat sebuah pohon besar tumbang? Jika sebuah pohon besar tumbang, dia tidaklah langsung jatuh ‘gedebum’ dalam sesaat. Mula-mula pohon tersebut akan miring sedikit dahulu perlahan-lahan. Setelah beberapa lama, barulah kemiringannya semakin besar dan robohnya semakin cepat.

Mungkinkah kini ‘pohon besar’ sektor finansial dan properti amerika mulai memasuki tahap dimana miringnya semakin cepat dan tidak lama lagi akan terdengar suara ‘gedebum’ besar seperti yang saya tunggu-tunggu? Mari kita lihat ke depannya…

—–oOo—–

Dari dalam negeri, BPS melaporkan bahwa inflasi untuk bulan Agustus lalu adalah sebesar 0,51%. Angka ini bisa dikatakan di luar dugaan, karena bahkan berada di bawah perkiraan ekonom yg umumnya antara 0,7-0,9%. Dengan tambahan angka 0,51% ini, berarti inflasi tahun 2008 sampai saat ini adalah baru sebesar 9,4%.

Bagi saya pribadi dan juga beberapa teman yang gemar mengikuti berita ekonomi, angka 9,4% ini menimbulkan suatu tanda tanya. Apakah angka tersebut benar? Ataukah ada ‘titipan pesan‘ dari pemerintah kepada BPS utk ‘memperindah‘ angka inflasi? Sepertinya antara kenyataan di lapangan yg saya amati sehari-hari dengan data BPS agak ‘tidak nyambung‘ alias terjadi disconnect. Uang dapur untuk keluarga saya misalnya, sudah terpaksa bertambah jauh di atas 9,4%.

Bagaimana dengan teman-teman? Kali ini saya ingin mengajak teman-teman berbagi kisah pribadinya seputar pengeluaran sehari-hari (makan, belanja dapur, transportasi, dll). Apakah ‘klop‘ dengan angka inflasi versi BPS yg 9,4% utk tahun ini?

12 Comments

Filed under Edison's Week in Review

12 responses to “Edison’s Week in Review: 7 September 2008

  1. ipung aja

    bro saya kurang ngerti kok inflasi yoy 9,4% ,bukannya yoy 11,85%???mohon pencerahannya ,thx

    Edison: Yg saya tulis 9,4% adalah Inflasi tahun berjalan (Year To Date/ytd), alias dari awal tahun 2008 ini, bukan inflasi y.o.y (year on year).

    Kalau utk inflasi year on year adalah dari utk periode 12 bulan terakhir. Dalam hal ini, berarti periode September 07-Agustus 08

  2. Baru selesai post artikel ini, ketika saya cek di mailbox, ada email baru dari USA Treasury tentang bentuk ‘uluran tangan’ yang diberikan kepada Fannie Mae dan Freddie Mac.

    Info tersebut saya selipkan di bagian EDIT di dalam artikel.

  3. ipung aja

    thx pencerahannya suhu🙂
    jd ngerti dech…wah berarti krisis US msh blanjut dunkz spt kata Allan Grren gubernur fed sblmnya yg bikin subprime .bener gak klo salah mohon koreksi ,thx

  4. putrie_kmps

    what a bad news….
    Pas sahur hujan lebat, berangkat kantor jalanan becek, nyampe kantor ACnya dingin bgt, buka JS wah ada berita buruk dr negeri seberang, makin kuat kejatuhan USA, ditambah faktor alam dr badai yg datang terus menerus, badai Hana menuju New York dalam minggu ini… Sampe2 tournamen Grand Slam USA Open Final puteri diundur dan semifinal putera jg diundur.

    Edison: Kalau lihat reaksi pagi ini, nampaknya Mister Market happy. Tapi belum tahu apakah happynya ini bisa bertahan atau tidak… atau cuma nolong sebentar spt ketika pemerintah US membail-out Bear Sterns, atau juga ketika July lalu pemerintah US melakukan P3K (pertolongan pertama pada kebangkrutan) yang pertama kali utk Fannie dan Freddie..

    Rasa-rasanya hari ini IHSG bakal ikut tersenyum🙂

  5. apache4fun

    Mau tanya nih bro, krisis disana itu, imbasnya langsung ke bursa kita korelasinya bgmn ya. Soalnya saya invest di reksadana, ya gak banyak2 amat sih. Tapi setiap ada berita kurang enak disana, NAB reksadana saya jg jadi ikut turun nih. Malah udah anjlok sampai 20%. Niatnya mau invest utk ngejar inflasi, malah rugi deh nih…

    Edison: Banyak alasan mengapa bursa saham di negara kita saat ini terpuruk. Harga komoditas, kondisi ekonomi global, kondisi dalam negeri, dll. Tetapi saya pribadi berpendapat bahwa penyebab utama mengapa bursa kita sekarang rontok adalah karena memang bursa saham kita dalam 5 tahun terakhir sudah ‘lupa diri’.

    5 tahun lalu, index saham masih bergerak di 400-500. Tetapi dalam 5 tahun, kemarin sempat mencapai tingkat tertinggi di 2800. Itu berarti dalam 5 tahun, pertumbuhan index kita tumbuh 560%. Kalau dihitung annualized, itu adalah pertumbuhan 44% setahun.

    Bisa dikatakan saat ini kita sedang membayar harga ‘lupa diri’-nya Mr. Market selama 5 tahun terakhir.

  6. cs

    IHSG hari ini malah terpuruk om, terpuruk lebih jauh, tanya kenapa..??

    Edison: Saat ini, bursa saham Indonesia sangat sensitif terhadap pergerakan harga komoditas. Tentunya ini tidak aneh mengingat dominannya peran komoditas di dalam bursa saham kita. Selama ini, ‘pesta’ di bursa saham kita disebabkan oleh melonjaknya harga komoditas. Tentunya ketika harga komoditas anjlok, ‘pesta’-nya bubar.

    Terlebih lagi dengan tidak menentunya situasi kondisi ekonomi global, banyak investor yg mencari ‘safety’, dan biasanya menghindari investasi yg relatif lebih beresiko, seperti bursa saham kita ini..

  7. ipung aja

    bro…kok ihsg today dalem…bgt dah jatuhnya hikz…hikz…kpn blk ya..??? mang ga da berita positif tuk market indo?? tiap kale rupiah cost averiging msh rugi aja aliaz nyangkut trs jd ngeri😦 isu nya bs ampe 1800an ,apa nunggu sgitu aja kali ya?

    Edison: Kenapa sedih bro ? Ada kesempatan membeli murah, seharusnya bro ipung malah bersyukur dan bukan menangis…

    Setelah IHSG terpuruk di level 2000, saya malah baru memulai program DCA di bursa saham kita. Selama ini hanya aktif di bursa Amerika. Saya baru saja membeli 36 lot R-LQ45x. Saya sekarang malah berdoa agar turunnya semakin banyak dan semakin lama agar saya bisa membeli dengan jauh lebih murah di bulan depan…

    Apakah bursa bisa 1800? Mungkin bisa, tetapi mungkin juga tidak. Singkatnya, tidak ada orang yg bisa mengetahui kapan market akan bottom. Selama bro disiplin investasi rutin dengan DCA, bro tidak perlu khawatir bottomnya akan di mana. Disiplin dengan program investasi rutinnya… Ingat.. musuh terbesar investor adalah dirinya sendiri…. Disiplin..disiplin…disiplin..

  8. Blazy DK

    bro edison, apabila keta membeli ETF brarti potfilio kita otomatis berat ke komoditas, apa ga lebih baik beli DCA RD yg dikelola secara aktif oleh MI?tujuannya berharap MInya bs mengelola RD kita dg lebih seimbang portfolionya. (nb: saya belum tau sie ada ato tidak RDS yg seperti ini di indonesia)

    Edison: Manajer Investasi, dalam operasinya juga dikenakan batasan. Misalnya saja jumlah saham suatu perusahaan yang bisa ia beli, baik dibandingkan dengan jumlah saham beredar perusahaan itu, ataupun juga dibandingkan dengan dana kelolaan RD itu…

    Akibatnya, MI Indonesia boleh dikatakan ‘mustahil’ lari dari sektor komoditas, apalagi kalau dana kelolaan RDnya semakin besar… maka tidak ada ruang berkelit lagi..

    Lagipula, di Indonesia, jika menghindari saham-saham komoditas spt BUMI, ANTM, dll, pilihan sektor lainnya tidak banyak… jika MI-nya memaksakan diri ‘kabur’ dari sektor komoditas, maka bisa-bisa portofolionya banyak perusahaan lapis ke dua, yg juga beresiko…

  9. Blazy DK

    brarti….pilihan terbaik tetap indeks….:D

  10. putrie_kmps

    Sesuai dengan nasihat om buffet RD yang terbaik sepanjang masa adalah RD indeks. di Indo pilihannya ada 2 :
    1. Danareksa Indeks Syariah (produk Danareksa Investment)
    2. ETF LQ-45 (produk Indopremier) yang ini ETF dibilang Reksadana iy juga tp tercatat di bursa.

  11. nur

    maaf, sepertinya berita2 semacam ini tdk aneh klu kita lihat sumber permasalahan global. hanya yg perlu kita prediksi, apa maksud kejadian ini scr ekonomi dan kemanusiaan? ‘new world order’. http://www.eramuslim.com

  12. nardi

    stimulus ekonomi yang di asumsikan obama belum ada dong tindak lanjutnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s