Mengenal Sekilas Laporan Keuangan (3)

(bersambung dari part 2)

Dalam artikel terdahulu kita telah melihat 3 komponen utama dari sebuah Balance Sheet (Neraca), yaitu Assets, Liabilities dan Equity. Dalam artikel hari ini, kita akan melihat lebih detail salah satu komponen tersebut, yaitu Assets.

(PS: Isi artikel ini bisa dikatakan hanyalah suatu ‘perkenalan’ dengan laporan keuangan. Artikel ini sendiri lebih ditujukan kepada teman-teman pembaca blog yang tidak berlatar belakang pendidikan ekonomi, sehingga di kemudian hari bisa lebih memahami berbagai artikel di blog ini.)

—–oOo—–

ASSETS

Assets dalam laporan keuangan terdiri dari dua jenis, yaitu Current Assets (Asset/Aktiva Lancar) dan Fixed Assets (Asset/Aktiva Tetap). Pembagian kedua macam Assets ini adalah berdasarkan “masa waktu habis dipakai”. Apa artinya?

Current Assets (Aktiva Lancar) itu adalah segala asset yg berupa Cash, ataupun segala asset dalam operasi perusahaan yang akan/dapat “diubah” menjadi cash dalam tempo kurang dari 1 thn. Yang termasuk dalam kategori ini umumnya adalah:

  • Cash & Cash Equivalents (Kas, deposito dan sejenisnya)
  • Account Receivables (atau singkatnya ‘Receivables’ atau yg kita kenal sebagai Piutang),
  • Marketable Securities (‘Securities’ di sini adalah sekuritas, baik saham ataupun obligasi jangka pendek, yg dibeli oleh perusahaan hanya utk sekedar memanfaatkan dana menganggur. Ini berbeda dari Investment Securities yang  dibeli oleh perusahaan utk investasi)
  • Inventory (Stock barang dagangan),
  • Prepaid Expenses (Ini adalah biaya yg telah dibayar di muka utk sesuatu yg akan memberikan manfaat selama periode 1 thn itu, misalnya asuransi)

Di lain sisi, Fixed Assets merupakan asset jangka panjang yg masa pemakaiannya biasa lebih dari 1 thn. Yang termasuk kedalam golongan Fixed Assets yaitu : Property (Properti), Plant (Pabrik) dan Equipment (Peralatan operasi spt mobil dll). Oleh karena itu, terkadang ada beberapa neraca yang menuliskan Fixed Assets sebagai Property, Plant & Equipment.

Utk bagian Fixed Assets ini, ada satu konsep yang harus kita pahami, yaitu NET FIXED ASSETS. Net Fixed Assets dalam hal ini adalah TOTAL FIXED ASSETS (Total dari keseluruhan Property, Plant & Equipment) dikurangi dengan ACCUMULATED DEPRECIATION (akumulasi depresiasi). Mungkin bagi yg tidak akrab dengan dunia akuntansi akan kurang mengerti apa maksud dari Akumulasi Depresiasi. Utk menjelaskannya mungkin akan lebih mudah jika saya memakai contoh.

Misalnya saja perusahaan saya, 3 tahun lalu (tahun 2005) membeli sebuah mobil Kijang seharga Rp 200 juta. Jika di tahun lalu (2007) saya membuat Neraca, bolehkan dalam laporan keuangan itu saya memasukkan nilai mobil Kijang saya sebesar Rp 200 juta sebagai Asset?

Tentunya tidak bisa, karena kita tahu bahwa mobil Kijang itu nilainya sudah turun, karena telah kita pakai (dan telah kita gunakan sebagian nilai “manfaat”nya). Nilainya seharusnya sudah dibawah Rp 200 juta.

Lalu berapa nilai yg kita masukkan?

Dalam akuntansi, kita mengenal konsep depresiasi. Dalam konsep ini, adalah kita menganggap bahwa suatu asset akan “habis” terpakai setelah X tahun. Misalnya dalam kasus di atas, kita menganggap bahwa mobil Kijang kita itu akan “habis dipakai” dalam waktu 5 tahun (meskipun dalam kenyataannya mungkin bisa lebih lama daripada itu).

Jika kita menganggap bahwa  mobil Kijang kita akan ‘habis’ dipakai dalam 5 tahun, maka berarti setiap tahun (selama 5 tahun) nilai Kijang itu akan berkurang sebesar Rp 40 juta (Rp 200jt : 5). Nilai Rp 40 juta ini adalah nilai depresiasi/tahun, dan akan diakumulasi/dikumpulkan di dalam laporan keuangan sebagai Accumulated Depreciation.

Dalam contoh ini, pada tahun 2007, mobil itu telah saya pakai selama 2 tahun (2005-2007), sehingga Accumulated Depreciation (akumulasi depresiasinya) adalah Rp 40×2 tahun = Rp 80 juta.

Misalkan saja  Asset perusahaan saya hanya mobil kijang ini, maka Net Fixed Assets saya adalah Rp 120 Juta, yaitu didapat dari Rp 200 juta (Total Fixed Assets) dikurangi Rp 80 juta (Accumulated Depreciation)

—–oOo—–

Untuk menentukan lamanya masa “habis pakai” yg akan digunakan dalam penghitungan depresiasi/thn, akan tergantung kpd peraturan akuntansi suatu negara dan juga kebijakan perusahaan.

Perlu diketahui bahwa depresiasi/thn ini  dianggap sebagai beban usaha. Semakin besar beban usaha, maka tentunya nilai keuntungan perusahaan akan semakin berkurang, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap pajak keuntungan yg harus dibayar oleh perusahaan.

Konsekuensinya jika kita menggunakan masa “habis pakai” yg singkat, maka nilai depresiasi/thn akan besar, sehingga beban yang ditanggung perusahaan akan besar dan mengurangi keuntungan perusahaan dalam jangka waktu dekat.  Tetapi setelah masa “habis pakai” itu lewat, perusahaan itu akan menikmati keuntungan yg lebih besar. Mengapa? Karena pada saat itu, perusahaan telah “menghapus” penuh nilai mobil itu, tetapi masih bisa menikmati manfaatnya.

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat sebuah contoh sederhana.

Melanjutkan contoh mobil kijang di atas, misalnya perusahaan saya di tahun 2007 mendapatkan penjualan sebesar Rp 150 juta, dan total seluruh biaya lain selain beban depresiasi adalah Rp 50 juta. Dalam contoh di atas, kita menggunakan ‘masa pakai’ 5 tahun, dan beban depresiasi yang dikenakan adalah Rp 40 juta/tahun.

Maka keuntungan net saya tahun 2007 itu adalah Rp 150 juta – (Rp 50 juta+Rp 40 juta) = Rp 60 juta. Pajak yang harus saya bayar kepada pemerintah tahun itu adalah berdasarkan keuntungan saya yang sebesar Rp 60 juta tersebut

Bagaimana jika misalnya dalam penghitungan depresiasi, kita memakai masa 10 tahun (dan bukannya 5 tahun). Dalam kasus mobil kijang ini, berarti setiap tahunnya (selama 10 thn) kita mengenakan beban depresiasi sebesar Rp 20 juta (Rp 200 juta : 10 tahun)

Berarti kini keuntungan perusahaan saya adalah Rp 150 juta – (Rp 50 juta+Rp 20 juta)= Rp 80 juta. Pajak yang harus saya bayar kini adalah berdasarkan keuntungan Rp 80 juta ini.

—–oOo—–

Dalam contoh di atas, jika perusahaan hanya memakai masa depresiasi 5 tahun, maka beban setiap tahun lebih besar (yaitu Rp 40 juta), tetapi setelah 5 tahun, mobil kijang tersebut sudah ‘habis’ didepresiasi dan perusahaan tidak menanggung biaya depresiasi lagi meskipun misalnya mobil itu masih bisa dipakai.

Di lain sisi, jika perusahaan memakai jangka waktu 10 tahun, beban yang ditanggung memang lebih kecil (hanya Rp 20 juta), tetapi perusahaan harus menanggung biaya itu utk periode yang lebih lama.

Sebagai catatan akhir, mungkin sebagian pembaca lalu bertanya, jika perusahaan bisa menaikkan keuntungan dengan menggunakan jangka waktu yg panjang di masa depresiasinya, kenapa tidak semua asset didepresiasikan dengan waktu yang selama mungkin? Bukankah dengan demikian perusahaan akan terlihat lebih baik?

Ini karena, seperti yang saya tulis di atas, di setiap negara ada peraturan akuntansi yang mengatur berapa lama maksimum suatu asset bisa didepresiasikan. Masa depresiasi maksimum yang diperbolehkan untuk sebuah mobil misalnya, tidak sama dengan masa depresiasi sebuah gedung.

(bersambung ke part 4)

12 Comments

Filed under Pemikiran tentang Investasi

12 responses to “Mengenal Sekilas Laporan Keuangan (3)

  1. tnks banget atas artikelnya,.. bahasanya mudah dimengerti meskipun saya basic-nya adalah teknik.
    please, dilanjutin ya,. udah nggak sabar nunggu part-4,.. ibarat lagi makan di warung padang, nunggu nasi tambahnya nggak boleh lama2, ntar bisa hilang selera makan,.. btw, tnks in advance..

  2. wilchan

    reminds me to accounting subject during my high school. always love your blog.

  3. toto_lutu

    orang pintar bukan orang yang cuma tahu banyak hal, tapi orang yang bisa membuat orang lain mengerti banyak hal yang ia tahu.

    itu bagi saya lho…

  4. Midut

    Asik.. sarapan paginya enyak..
    belum bisa koment nie,
    cuma bisa ngoceh sendiri hi hi hi,
    thanks

  5. mo tanya bro, apa beda modal disetor dengan modal dasar? trus apa pula modal statutair itu? kalo bisa disertai contoh ya bro… thx b4

    Edison: kok baru lihat commentnya ya?…. mungkin sudah mesti ganti kacamata nih saya..

    Kalau mengenai perbedaan modal disetor dengan modal dasar, mungkin yang lebih kompeten utk menjawab adalah yg berlatar belakang pendidikan hukum🙂

    Sebagai business owner, saya sekedar tahu bahwa modal dasar tidak seluruhnya harus disetor…hahaha.. Contohnya, saya membuat PT dengan modal dasar Rp 1 Milyar, tetapi modal yang disetor tidak haruslah sebesar Rp 1 Milyar tersebut. Bisa cukup dengan Rp 500 juta milyar saja, ataupun jumlah lainnya.

    Kalau modal statutair, saya tidak terlalu jelas apa bahasa Inggrisnya, tetapi kemungkinan besar adalah Statutory Capital. Ini biasanya berkaitan dengan permodalan yang diWAJIBkan. Ini akan berbeda-beda utk masing-masing jenis perusahaan, misalnya perusahaan asuransi, broker, bank, yg biasanya diatur ketat.

  6. Tuxbjm

    Bro Niken,

    mohon penjelasannya berhubungan dgn assets nih,

    cmiiw, untuk menghitung ROI kita membagi Net Income dengan jumlah assets dikurangi liabilities,

    yang ingin saya tanyakan, assets yg mana yg digunakan ?? apakah aktiva tetap atau aktiva lancar atau jumlah keduanya ??

    terima kasih atas penjelasannya..

    Edison: Mungkin di sini yang bro maksud adalah ROE (Return on Equity)?

    Ini karena kalau sudah berkaitan dengan Asset minus Liabilities, itu hasilnya adalah Shareholders Equity. Dalam ROE, yang dilihat adalah Net Assets (fixed dan current).

    Kalau ROI (Return on Investment), itu biasanya dipakai utk mengambil keputusan apakah suatu investasi akan dijalankan atau tidak, dengan menganalisa berapa hasil yg bisa didapat dari investasi tersebut, dan dibandingkan dengan peluang investasi yang lain..

  7. tuxbjm

    terima kasih atas penjelasannya Bro,

    saya yang keliru nanya nih, ternyata bukan ROI tapi ROIC (return on investment capital – pendapatan berdasarkan modal investasi), tadi setelah baca-baca lagi ketemu rumusnya:
    roic = laba setelah pajak / ekuitas + hutang

    saya lagi belajar baca laporan keuangan juga nih bro, rencananya mo investasi ngikut buku rule #1 – phil town

    ..terima kasih

  8. ANNISA

    SIAPAPUN AQ MINTA TOLONG KLO ADA yang bisa memberikan contoh LAPORAN KEUANGAN YG LENGKAP DENGAN CASH FLOW NYA DALAM waktu 3 TAHUN TERAKHIR… penting……..thanks be4.

  9. manis

    use owner earning !
    add the depreciation to EBIT – minority interest and so on

  10. Dee Den

    Duh terima kasih, kebetulan saya lagi cari info tentang yang namanya akumulasi depresiasi eh ternyata dapet di blog ini…
    Thanks

  11. Dennys

    Brow..mengenal sekilas laporan keuangan jilid ke -4 sangat ditunggu..

  12. goobee

    thanx🙂

    pembahasanya lugas dan mudah dicerna,,

    jilid ke-4 moga segera dirilis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s