Mengenal Sekilas Laporan Keuangan (5)

(bersambung dari part 4)

Bagi para pembaca artikel seri ini, saya minta maaf dulu sebelumnya karena part ini baru sempat saya buat sekarang. Ini merupakan bagian terakhir dari artikel seri ini, dan selanjutnya akan diteruskan oleh artikel seri Rasio Keuangan Sederhana.

Sebagai catatan penting di bagian terakhir ini, perlu saya ingatkan sekali lagi bahwa apa yang saya tuliskan dalam artikel seri ini, seperti terlihat dari judulnya, hanyalah merupakan pengenalan sekilas dari laporan keuangan. Tujuan utama saya membuat artikel seri ini hanyalah sebagai referensi sehingga ketika di artikel lanjutan mengenai rasio-rasio keuangan, teman-teman yang tidak berlatar belakang pendidikan ekonomi bisa lebih memahami apa yang saya bicarakan.

—–oOo—–

EQUITY

Setelah ASSET dan LIABILITIES, maka komponen dari Neraca Keuangan terakhir adalah Equity atau dikenal jg sbg Shareholder Equity (Ekuitas Pemegang Saham). Equity merupakan nilai “kepemilikan” para pemegang saham itu setelah segala asset perusahaan dipotong dengan nilai seluruh hutang. (Ingat: Assets=Liabilities+Equity).

Dalam Neraca, beberapa komponen Equity yang umum ditemukan adalah :

I. Preferred Stocks

Preferred Stock secara sederhana adalah saham “khusus”. Perbedaannya dengan Common Stock (saham biasa) ada dua.

Yang pertama adalah bahwa pemilik Preferred Stock akan mendapatkan ‘dividen’ khusus, yang tidak sama dengan dividen yang diterima oleh saham biasa. Dividen yang diterima oleh Preferred Stocks besarnya selalu tetap, sehingga mirip dengan bunga obligasi. Meskipun demikian, dividen ini hanya akan dibayarkan jika keadaan keuangan perusahaan memungkinkan, alias keuntungan mencukupi. Ini tentu berbeda dengan bunga obligasi yang harus dibayarkan tanpa perduli apakah perusahaan untung ataupun rugi.

Jika keadaan keuangan perusahaan tidak memungkinkan (misalnya perusahaan rugi), ada dua kemungkinan yang akan terjadi dengan pembagian dividen Preferred Stocks (tergantung jenis preferred stocksnya) :

  1. Dividen itu tidak dibagikan sama sekali, ataupun;
  2. Dividen yang tidak dibagikan itu diakumulasi (ditambahkan ke pembagian dividen yang berikutnya)

Perbedaan ke-2 antara Preferred Stocks dan saham biasa adalah mengenai hak klaim atas asset perusahaan. Pemegang Preferred Stocks mempunyai hak klaim terhadap asset perusahaan di atas pemegang saham biasa. Oleh karena itu, seandainya perusahaan tersebut bangkrut dan dilikuidasi, maka yang berhak mengklaim asset perusahaan itu pertama-tama adalah para kreditor, alias pihak yang memberikan hutang kepada perusahaan (termasuk di dalamnya adalah pemilik obligasi). Setelah para kreditor dilunasi, maka asset yang tersisa dibagikan dahulu kepada para pemegang Preferred Stocks, dan setelah itu jika masih ada yang tersisa barulah dibagikan kepada pemegang saham biasa.

Dalam neraca (balance Sheet), nilai yang tercantum untuk Preferred Stocks adalah berdasarkan nilai “par” atau nilai yg tercantum di Preferred Stocks, dikalikan dengan jumlah Preferred Stocks yang beredar.

II. Common Stocks

Ketika seseorang berbicara mengenai ‘saham’, umumnya yang ada dibenak mereka adalah saham tipe Common Stocks. Saham ini merupakan tipe saham yang paling umum.

Nilai yang yang terlihat di neraca keuangan adalah nilai “par” atau nilai yg tercantum di sertifikat saham dikalikan dengan jumlah saham beredar.

III. Additional Paid-In Capital

Ketika perusahaan menjual sahamnya kepada publik, biasanya saham tersebut dijual di atas harga ‘par’ (harga yg tercantum di saham). Nilai ‘kelebihan’ yg diterima oleh perusahaan dalam penjualan sahamnya akan dicatat sebagai Additional Paid-In Capital.

Sebagai ilustrasi, misalnya saja perusahaan itu menerbitkan 1000 lembar saham dengan nilai nominalnya (par) adalah Rp 5000/lembar, tetapi saham baru itu itu dijual oleh perusahaan ke pasar dengan harga Rp 7000 rupiah. Dalam kasus ini, di neraca perusahaan tersebut akan terlihat nilai sebesar Rp 5 juta (Rp 5000×1000) pada ‘Common Stocks’ dan Rp 2 juta (Rp 2000×1000) dicatat sebagai Additional Paid-In Capital

IV. Retained Earnings

Retained Earning, atau dikenal di Indonesia sebagai ‘Laba Ditahan‘ merupakan total laba perusahaan selama ini yg tidak dibagikan dlm bentuk deviden, melainkan “ditahan” oleh perusahaan sejak perusahaan tersebut berjalan.

Sebagai ilustrasi, misalnya saja perusahaan tahun lalu mencetak untung Rp 500 juta. Dari keuntungan tersebut, Rp 100 juta dibagikan sebagai deviden, dan sisanya sebesar  Rp 400 juta akan dicatat sebagai Retained Earnings.

Tahun ini, perusahaan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1 milyar, dan dari nilai tersebut yang dibagikan sebagai deviden hanya sebesar Rp 200 juta. Dengan demikian Retained Earnings bertambah Rp 800 juta, sehingga nilai Retained Earnings kini menjadi Rp 1,3 Milyar.

Satu salah pengertian yang kerap terjadi, adalah bahwa sebagian orang mengira jika seandainya perusahaan tersebut mempunyai Retained Earnings (Laba Ditahan) sebesar X, maka berarti perusahaan tersebut mempunyai uang kas sebesar X juga.  Ini tentunya tidak benar karena laba yang ditahan oleh perusahaan tersebut biasanya sebagian besar telah ‘dibelanjakan’ sehingga kebanyakan justru tidak berupa uang, melainkan berbentuk asset jenis lainnya.

V. Treasury Stock

Terkadang suatu perusahaan akan memutuskan untuk membeli kembali sebagian sahamnya dari masyarakat. Proses pembelian saham ini akan mengurangi jumlah saham yg beredar di masyarakat, dan lazimnya disebut dgn Buy-Back. Saham-saham perusahaan yang dibeli melalui Buy-Back akan dicatat sebagai Treasury Stock.

Sebuah catatan penting untuk diingat, pembelian saham semacam ini tidak dicatat sebagai penambahan Asset, tetapi dicatat sebagai pengurangan di Equity. Ini sebabnya nilai Treasury Stock akan dicatat sebagai nilai negatif, sesuai dengan harga pembeliannya.

(bersambung ke part 6… ternyata belum habis)

10 Comments

Filed under Pemikiran tentang Investasi

10 responses to “Mengenal Sekilas Laporan Keuangan (5)

  1. Abu Turab

    Artikelx bgs bngt.
    Pak, mungkin ga ekuitas tu bernilai negatif tetapi perusahaanx tdk bangkrut?thx.

    Edison: Kalau kita ingat lagi, ASSETS=LIABILITIES+EQUITY.

    Jadi jika Equity negatif, berarti LIABILITIES (Hutang) pasti lebih besar dari pada ASSETS

    Contoh aritmatika sederhananya 2=3+(-1)

    Nah, kalau Liabilities (Hutang)-nya saja lebih besar dari asset (harta)-nya, sudah pasti perusahaan itu ‘tewas’. Tidak ada orang yg akan mau beli sahamnya, dan para kreditornya pun akan buru-buru meminta perusahaan dilikuidasi dan assetnya dijual utk bayar hutang….

  2. toto_lutu

    Menurut Forbes’ list of the most valuable football clubs (http://en.wikipedia.org/wiki/Richest_football_clubs), MU ‘nangkring’ di urutan teratas.
    Nilainya (aset?) US$1800.
    Debt as % of value (hutang?) 60.

    Waktu beli MU, dulu Malcolm Glaz(i)er memakai dana pinjaman (hutang) dan sebagai pemilik saham mayoritas ia berhak mengalihkan hutangnya ke MU (hutangnya Glaz(i)er menjadi hutangnya MU).

    Pantas saja kalau UEFA membentuk tim investigasi untuk meng-audit tim-tim ‘kaya’ tapi banyak hutang..terutama di Inggris.

  3. toto_lutu

    Seharusnya:

    Nilainya (aset?) US$1800 million.

  4. putrie_kmps

    Akhirnya nie artikel keluar juga, ditunggu yang rasio2

    Bung mengenai Additional Paid-In Capital, ada tidak batasan untuk harga yang dijual di atas ‘par’
    Karena kemarin ada saham yang baru listing harganya dijual 50% di atas harga parnya?
    Apakah para pembeli saham yang membeli di atas harga ‘par’ tersebut tidak rugi karena membeli lebih mahal dari harga aslinya?

    Edison: Itulah sebabnya mengapa Graham ‘anti’ membeli saham di IPO…

    KECUALI jika bro bisa belinya di harga par🙂 Nah…kalau itu boleh deh..hahaha

    Jadi terpikir utk bahas tentang IPO, soalnya banyak orang yg berpikir bahwa beli di IPO pasti untung🙂

  5. toto_lutu

    “banyak orang yg berpikir bahwa beli di IPO pasti untung”

    Dengan semakin banyaknya orang yg berpikir seperti itu, semakin besar kemungkinan untuk terjadi bro..

    Misalnya saya ada dana buanyak. Saya ‘komporin’ orang-orang supaya beli saham Z saat IPO. Nah ketika IPO tiba, saya beli sahamnya (sudah booking duluan). Karena demand-nya luar biasa (kompor saya sangat panas) bahkan banyak yg tidak kebagian di saat IPO, hampir pasti besok-besoknya harga si saham akan naik. Nah..saat itulah saya lepas saham itu… Dapat cuan deh…

    Iya…ngerti…
    Spekulasi bro..😉

    Realizing one’s dream by making others’ dreams.

    realize [re·al·ize || ‘rɪəlaɪz]
    v. understand, comprehend; make real, accomplish, actualize; convert into cash, liquidate

    Ehm..convert into cash…😉

  6. putrie_kmps

    Nasehat Benjamin Graham, jangan pernah investasi di saham IPO

  7. ocassin

    O gitu ya, saya juga tadinya berpikir kalo beli saham di IPO itu lebih “untung”😀.

  8. alvin

    Saham Google waktu IPO kalo gak salah 108, dan sampai sekarang tidak pernah turun lagi sampai dibawah itu (kecuali beberapa hari pas abis IPO itu). jadi tergantung perusahannya juga? Btw, lihat harga par itu bagaimana ya caranya?

    Edison: Nasehat Graham soal ‘hindari IPO’ itu bukannya tanpa alasan, tetapi ada pertimbangan yang sangat logis dari kaca-mata value investing. Penjelasannya agak panjang, jadinya saya pikir lebih baik saya jadikan artikel saja🙂

  9. L053R

    Bung nikken, kira2 kalau mau tau harga wajar suatu saham bagaimana ya caranya? Kalau kita hanya melihat laporan keuangan berdasarkan ROI, EPS, dll kan kita tidak bisa tau harga suatu saham tersebut seharusnya berapa, kita cuma bisa membandingkan kinerja perusahaan tersebut antara tahun ini dengan tahun lalu…

  10. bung, kalo modal statutair, modal disetor dan modal ditempatkan itu apa ya? mohon penjelasannya.

    Edison: Dulu pertanyaan ini sudah pernah saya jawab🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s