E-mail Heboh Mengenai Krisis Ekonomi (part 3)

Melanjutkan pembahasan kemarin, hari ini kita akan kembali membedah e-mail Rina Sutarto mengenai Krisis Ekonomi dan juga opini Imam Semar terhadap e-mail tersebut. Sama seperti part 2, e-mail Rina akan saya tampilkan dalam warna biru, opini Imam Semar dalam warna merah, dan pendapat saya akan ditulis dalam warna hitam.

—–oOo—–

RINA: Barang2 tertier terutama yang bakal dibeli pake kredit nanti dulu deh, pegang cash dulu. Barang2 akan mahal, susu anak mahal…so, pegang cash.

IMAM SEMAR:  Pernyataan kontradiksi. Kalau barang-barang akan naik harganya maka sebaiknya tidak memegang cash, tetapi beli barang dan timbun!

EDISON: Di sini, apa yang dikatakan oleh Imam Semar memang benar. Jika kita mengantisipasi bahwa harga barang akan naik maka tindakan yang logis memang seharusnya adalah menimbun barang sebelum harganya naik. Memegang cash sewaktu harga barang-barang akan naik justru merupakan tindakan yang salah.

Tetapi mungkin di sini pertanyaan utama yang perlu kita tanyakan adalah apakah benar harga barang-barang akan naik? Ini akan lebih menarik untuk dibahas.

Sampai dengan bulan Agustus kemarin, akibat bubble komoditas, kekhawatiran terbesar dalam perekonomian adalah mengenai inflasi. Pecahnya bubble komoditas ini, bagi Indonesia sendiri ibaratnya bagaikan pedang bermata dua. Sisi negatifnya adalah nilai pendapatan ekspor Indonesia jadi menurun karena ekspor komoditas mempunyai sumbangan yang besar dalam pendapatan ekspor kita. Sisi positifnya adalah inflasi (seharusnya) mereda karena harga bahan baku berbagai barang mengalami penurunan. 

Sayangnya, pada saat ini, timbullah masalah baru, yaitu merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Akibat melemahnya nilai tukar ini, harga berbagai barang impor mengalami kenaikan. Mengingat negara kita mempunyai ketergantungan impor yang besar untuk berbagai jenis barang (barang modal, barang 1/2 jadi dan juga barang jadi), melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi hingga hari ini mempunyai pengaruh yang cukup terasa terhadap harga-harga barang.

Sebagai ilustrasi, saya akan menggunakan contoh biji plastik (resin) PET, karena kebetulan ini merupakan bahan baku utama yang dipakai di usaha saya. Bulan ini, harga Resin PET adalah US$1050 per ton, turun drastis dari harga bulan lalu yang sebesar US$1200 per ton (turun 12,5%). Tetapi jika di bulan lalu, kurs dollar yang saya dapatkan adalah Rp 10500/US$1 maka di bulan ini, kurs yang saya harus bayarkan adalah Rp 12500/US$1. Akibatnya, alih-alih turun, harga bahan baku dalam Rupiah malah naik sekitar 4%.

Kondisi ini sendiri tidak terbatas kepada industri yang saya tekuni. Pengamatan langsung saya terhadap berbagai industri lain juga memperlihatkan gejala yang sama. 

Mungkin ada pembaca yang lalu terpikir, bagaimana dengan industri yang bahan bakunya umumnya didapat dari lokal, karet misalnya. Bukankah seharusnya industri yang bahan baku utamanya adalah karet tidak akan terpengaruh? Sayangnya realitasnya bukanlah seperti ini. Harga pasar domestik, sedikit banyak akan dipengaruhi oleh harganya di pasar internasional. Produsen karet tentunya akan menyesuaikan harga karet dalam Rupiah dengan harga karet dalam Dollar US. Jika harga domestik dalam Rupiah berselisih jauh dengan harga internasional, produsen karet akan lebih memilih untuk mengekspor karetnya.

Kembali lagi ke permasalahan apakah harga-harga akan naik di tahun depan? Bagi negara kita, jawaban pertanyaan ini akan sangat tergantung kepada nilai tukar Rupiah terhadap Dollar US$ ke depannya. Jika nilai tukar Rupiah bisa stabil terhadap dollar, maka seharusnya harga-harga akan relatif stabil mengingat kondisi harga komoditas yang telah mengalami penurunan jauh. Tetapi jika Rupiah terus melemah, di tahun depan mungkin akan terjadi gelombang lanjutan kenaikan harga barang-barang akibat kenaikan harga barang impor.

—–oOo—–

RINA: Bila kalian dengar harga emas naik dan sebagainya, jangan tergiur. Emas memang naik, tapi sangat volatile. Contoh temanku, beli emas, niatnya mau jualan,….eh telat, sekarang turun lagi. Lagian percaya deh, sulit jualnya karena semua orang dalam kondisi pengin jualan. Kalian bisa beli kemungkinan besar susah jualnya

IMAM SEMAR: Tidak benar bahwa emas tidak liquid (susah dijual). Emas sangat liquid, tetapi perak tidak liquid di Indonesia. Ditempat lain perak liquid. Bahkan saat ini kalau mau beli emas sulit, pemodal/investor besar tidak mau melepas emasnya. Karena emas adalah alat lindung nilai (hedging) di masa krisis.

EDISON: Di sini saya lihat dua-duanya salah. Tidak benar bahwa emas susah dijual seperti kata Rina, dan tidak benar juga bahwa emas sulit dibeli seperti kata Imam Semar.

Saya pribadi tertarik untuk ingin tahu mengapa Imam Semar bisa berkesimpulan bahwa ‘untuk membeli emas sulit karena pemodal/investor besar tidak mau melepas emasnya’. Jika ada tertarik untuk membeli Logam Mulia saat ini, banyak tempat yang menjualnya, misalnya saja PERUM PEGADAIAN (LM produksi Antam). Per hari ini saya cek pun masih banyak stok yang tersedia. 

—–oOo—–

RINA: Jangan panik lalu ikut2an beli emas atau dollar. Dollar justru tinggi2nya. Udah Rp 10,000 an. Dollar yang tinggi ini karena investor asing menarik uangnya dari Indonesia , mereka kan butuh dollar supaya bisa dibawa ke negara mereka. Jadi bukan karena kondisi ekonomi kita yang jelek.

IMAM SEMAR: Apakah turunnya eksport komoditi tidak akan memukul ekonomi Indonesia? Apakah kalau kredit macet di sektor komoditi, pertambangan dan properti tidak menggoyang ekonomi Indonesia?

EDISON: Di sini, bagi saya yang menariknya adalah ajakan Rina untuk tidak panik, padahal di beberapa bagian e-mail tersebut ada kesan bahwa Rina sendiri ‘panik’.

Lalu apakah kondisi ekonomi kita jelek? Tidak bisa dipungkiri bahwa selama beberapa tahun terakhir, perekonomian Indonesia sangat tertopang oleh kondisi di sektor komoditas. Dengan pecahnya bubble komoditas, maka pengaruh yang akan dirasakan oleh negara kita tentunya tidak kecil. 

Yang agak membuat saya tertawa adalah karena Rina sendiri di awal e-mailnya menulis:

RINA: Krisis ekonomi sudah menjalar ke sektor real artinya akan kita rasakan. Sekarang sebenarnya sudah tapi tidak banyak orang awam yang benar2 sadar dampaknya. Ekspor kita sudah melambat, harga2 komoditas kita sudah jatuh, eksportir2 kita sudah memecati karyawan, impor ilegal sudah masuk. Pertumbuhan ekonomi kita bisa negatif.

Jika kita bandingkan dua paragraf yang ditulis Rina ini, mungkin yang timbul adalah pertanyaan: ‘Jadinya menurut Rina ekonomi kita jelek atau tidak sih?

Komentar Imam Semar mengenai kredit macet di bagian ini juga cukup menarik. Saya pribadi tidak mempunyai data berapa besar kucuran kredit perbankan ke sektor komoditi dan properti. Saya pribadi juga tidak mempunyai gambaran apakah kredit yang dikucurkan ke sektor-sektor itu dilakukan dengan seleksi yang ketat. Oleh sebab itu, sejujurnya saya tidak bisa memperkirakan apakah akan timbul gelombang kredit macet di sektor-sektor tersebut. Jika sekedar ‘menebak’, saya mungkin akan cenderung sependapat dengan Imam Semar, yaitu mencurigai adanya kemungkinan kredit macet yang cukup besar di sektor-sektor tersebut.

Selain itu, ada lagi satu hal yang membuat saya agak khawatir, yaitu kredit konsumsi (kartu kredit, kredit otomotif, dll), dimana dalam beberapa tahun terakhir:

  • Proses seleksi dalam pemberian kartu kredit terlalu mudah. Di berbagai mall misalnya, siapa yang belum pernah ditawari kartu kredit dengan ‘cuma perlu KTP saja Oom‘. 
  • Meluasnya pemakaian Kredit Tanpa Agunan (KTA)
  • Agresifnya pemberian kredit otomotif, terutama motor.

Ketiga hal di atas membuat saya bertanya-tanya apakah sektor perbankan kita sesehat seperti yang kerap diumumkan, dimana dikatakan hutang macet (Non-Performing Loan) kalau tidak salah dikatakan hanya sebesar 3-4%. 

(bersambung ke part 4)

9 Comments

Filed under Pembahasan kondisi Ekonomi Makro

9 responses to “E-mail Heboh Mengenai Krisis Ekonomi (part 3)

  1. benar juga ya, kalau harga akan naik kenapa juga tidak kita beli sekarang. Tapi kalau barang tertier dengan sistem kredit memang sebaiknya ditunda atau dibatalkan.

  2. San

    Jadi, kalo misalnya kekhawatiran bung edi benar, bukankah itu awal2 tjdnya masalah subprime mortgage di US sana? Wah, kalo dibiarkan, kita bisa mengulang sejarah krisis US itu donk!

  3. malam … salam kenal dari bandung ya

  4. tula

    saya kemaren sore di perjalanan pulang kerumah, sambil “menikmati kemacetan”, berpikir2, skrg smua serba kredit mudah, apa ga terjadi bubble kredit tar ? kalo meleduk tar jadi kaya suprime mortgage di amrik gono tar ? gimana pendapat mas nikken ?

    terus, kalo utk bank2 yg setau saya tidak memberikan kredit2 seperti commonwealth, apakah mereka jg aman ? (tulung di benerkan , saya tidak tau benar apakah bank macem commonwealth indonesia jg main kredit motor, rumah dll?)

    makaci

    Edison:Kalau menurut Tula?🙂

  5. Blazy DK

    isi email ini jg sempat masuk loungnya kaskus
    seru jg buat dibahas, apalagi ada pendapatnya om imam yg jg memanaskan😀

  6. salam kenal..

    memang bener sih, untuk antisipasi kenaikan harga, sebaiknya justru melakukan penimbunan, bukan malah pegang cash.

    tapi kan kondisi pasar sekarang sudah sangat sulit diprediksi. ambil contoh CPO, 5 bulan yang lalu, siapa yang menyangka kalo harganya bakal jatoh seperti sekarang? pengusaha yang 5 bulan lalu masih giat ekspansi mungkin sekarang udah kebingungan buat nutup kerugian.

    jadi sebenernya sekarang enaknya main aman aja ya? ntar keburu nimbun taunya harganya turun..

    Edison: Nah, itu dia… seperti yg saya tulis, pertanyaannya yg lebih utama adalah apakah benar harga-harga akan segera naik? Untuk jangka waktu dekat ini, pengaruh pergerakan nilai tukar rupiah akan memegang peranan yang cukup besar…

  7. risyadmum

    Bro, kalau menurut Bu Menkeu Sri Mulyani di Inv. Summit kemarin sih, angka inflasi dan growth Indonesia mulai menemukan kesetimbangannya di masa krisis ini, yang akan diikuti oleh kesetimbangan mata uang.

    USD rate saat ini (yang dianggap terlalu tinggi thp IDR) katanya tidak mencerminkan fundamental ekonomi US yang sebenarnya (dimana menurut beliau APBN US saat ini minus di sana-sini) dan seperti semua mata uang negara lain, sedang dalam repositioning untuk menemukan equilibriumnya masing-masing.

    Pls advise ur thought,bro.

    Edison: Saya pribadi juga merasa bahwa dalam jangka panjang, US$ seharusnya melemah.

    Kondisi sekarang ini bisa diibaratkan selokan (got) yang mampet. Uang tertahan di sektor perbankan karena mereka takut untuk mengucurkan kredit. Untuk mengatasinya, pemerintah US$ ibaratnya terus menerus menuangkan air (likuiditas) dalam jumlah besar ke dalam got tersebut dan berharap sumbatannya bisa jebol. Jika sumbatan tersebut jebol, akan ada aliran arus yg deras…. Apakah pemerintah US bisa mengontrol aliran arus tersebut? Saya pribadi agak ragu…

  8. aditya30k

    ow Blazy…
    ngenet di mana bro?
    Wah emang pernah dibahas ya email ini di lounge, kok ga liat ya

  9. -rd-

    Bung Edison, jika masalah kenaikan harga-harga akan sangat tergantung pada kurs IDR-USD, sekarang pertanyaannya faktor/indikator apa saja yg menentukan pergerakan kurs IDR-USD?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s