GM, Ford, Chrysler : Om, Kasihan Om… Belum Makan….. (Part 2)

Kemarin saya sempat ‘curhat’ dengan salah satu pembaca lama blog ini. Saya mengatakan bahwa saya punya banyak hutang. Dalam hal ini, bukan hutang uang, tetapi hutang ‘janji’ kepada pembaca blog, misalnya saja artikel ttg rasio keuangan, lalu proyek ‘kamus ala JS’ yang juga terbengkalai, dan juga part 2 artikel seri ini. Teman tersebut lalu berkomentar ‘Wah bukankah artikel tentang GM sudah basi?’.

Bagi saya pribadi, kondisi 3 raksasa otomotif di atas masih mempunyai aspek yang menarik untuk dibicarakan. Mengapa? Karena selain masih ‘kusut’ dan belum terlihat bagaimana akhir ceritanya, saya melihat adanya sedikit kesamaan dengan kondisi di negara kita. Tahukah anda kira-kira apa kesamaan yang saya maksud?

—–oOo—–

Di akhir artikel part 1, saya menulis bahwa banyak orang yang ‘antipati’ terhadap bailout tiga perusahaan otomotif ini dan lebih setuju jika ketiganya masuk ke dalam status bangkrut Chapter 11.

Apa alasannya? Salah satu alasan utamanya adalah karena banyak orang yang menilai ketiga perusahaan ini sebenarnya sudah tidak layak berjalan lagi karena tidak kompetitif. Oleh karenanya akan lebih baik jika ketiganya masuk ke dalam status perlindungan kebangkrutan chapter 11 dan melakukan perombakan total, terutama dalam masalah kompensasi (upah) tenaga kerjanya.

Kompensasi tenaga kerja memang merupakan suatu masalah yang sangat mencekik ketiga perusahaan otomotif USA ini. Akar permasalahannya muncul pada era 80-an. Ketika itu, industri otomotif USA berulang kali dilanda pemogokan massal oleh karyawannya. Pemogokan massal ini dikoordinir oleh serikat buruh otomotif, UAW (United Auto Worker) yang memang mempunyai ‘kekuatan’ besar mengingat bisa dikatakan pada saat itu, pekerja sektor otomotif ‘diwajibkan’ masuk serikat buruh.

Untuk mengatasi masalah pemogokan massal ini, para pimpinan industri otomotif saat itu menempuh solusi jangka pendek, yaitu memberikan kompensasi yang lebih tinggi bagi para buruhnya. Mogok berhenti, pabrik bisa bekerja kembali, harga saham perusahaan tidak anjlok dan para pimpinan industri otomotif pada saat itu pun bisa tenang menghadapi pemegang sahamnya.

Tetapi akibat solusi jangka pendek pada masa lampau itu, kini ketiga perusahaan tersebut menerima ‘warisan’ berupa ongkos tenaga kerja yang sangat berat dibandingkan dengan pesaingnya. Akibat kebijakan kompensasi yang ‘royal’ pada saat itu, ketiga perusahaan otomotif USA ini harus membayar mahal para pekerjanya. Sebagai ilustrasi, ini adalah grafik perbandingan kompensasi total per jam kerja (termasuk tunjangan) antara Big Three (GM, Ford, Chrysler) dengan perusahaan otomotif ‘luar’ yang juga beroperasi di Amerika:

laborcosts

Sumber: Prof Mark J. Perry, Univ. of Michigan

 

Seperti kita lihat, kompensasi buruh total per jam dari perusahaan Big Three lebih tinggi sekitar 65% dibandingkan dengan pesaingnya. Suatu artikel yang saya baca (sudah agak lama sehingga saya tidak bisa menemukannya lagi) mengatakan bahwa akibat dari mahalnya ongkos tenaga kerja ini, ongkos produksi setiap mobil buatan Big Three lebih mahal US$ 2000-3000 dibandingkan mobil setipe produksi pesaingnya. Jika harga mobil itu adalah US$30 ribu, anda bisa hitung sendiri bagaimana pengaruhnya terhadap penjualan mobil tersebut.

Pesaing Big Three mempunyai keuntungan yaitu bahwa mereka tidak dibebani ‘warisan’ beban dari masa lalu. Selain itu, mereka umumnya beroperasi di negara bagian yang menerapkan prinsip ‘Right To Work’, dimana buruh tidak wajib bergabung di serikat buruh. Akibatnya kekuatan serikat buruh relatif tidak terlalu besar dan perusahaan lebih bisa bernegosiasi dengan pekerjanya

Salah satu bukti nyata besarnya ‘peran’ ongkos tenaga kerja ini terhadap permasalahan yang dihadapi Big Three adalah kinerja perusahaan Big Three di luar negeri. Anak perusahaan GM di Cina misalnya, justru mempunyai kinerja yang baik. Ini karena mereka tidak dibebani oleh permasalahan kompensasi buruh seperti yang dihadapi di Amerika.

Para penentang bailout Big Three, mengharapkan bahwa dengan masuk ke dalam status bangkrut Chapter 11, maka ketiga perusahaan itu bisa mempunyai kekuatan negosiasi yang lebih besar dalam menghadapi serikat buruhnya. Tanpa memperbaiki permasalahan yang mendasar ini, maka dikhawatirkan uang yang dikucurkan untuk melakukan bailout hanya akan sia-sia saja dan ketiga perusahaan tersebut tidak akan sanggup membayar ‘pinjaman’ tersebut malahan akan kembali meminta uang kepada pemerintah USA di masa depan.

Alasan ini yang lalu membuat badan Congress Amerika meminta perusahaan Big Three mengajukan proposal tentang apa perombakan yang akan mereka lakukan seandainya Congress mengabulkan permintaan bantuan mereka, dan bagaimana cara mereka akan membayar pinjaman tersebut. Singkatnya mereka harus mempunyai ‘Business Plan’ (Perencanaan Bisnis) yang meyakinkan sebelum Congress setuju untuk memberikan pinjaman kepada mereka.

Sampai saat ini, baru Ford yang telah mengajukan Business Plan tersebut (bisa dibaca di sini). GM dan Chrysler akan segera menyusul dalam waktu dekat.

—–oOo—–

Baru-baru ini tabloid Kontan menerbitkan sebuah wawancara dengan Anwar Ma’ruf, koordinator Nasional Aliansi Buruh Menggugat. Dalam wawancara tersebut, Anwar menyatakan bahwa upah buruh yang layak (nasional) seharusnya adalah Rp 3,2 juta untuk buruh lajang. Untuk yang memilik satu anak adalah Rp 5 juta, dan dua anak adalah Rp 6 juta.

Membaca artikel wawancara tersebut, saya langsung teringat kepada akar permasalahan yang dihadapi oleh Big Three, yaitu tuntutan yang terlalu ekstrim dari para pekerjanya. Konsep kompensasi seperti yang diusulkan di atas mungkin tiada bedanya dengan tuntutan para pemimpin serikat buruh otomotif Amerika di era 80-an itu. Ini hanya akan membebani perusahaan dan membuat produk perusahaan tersebut tidak kompetitif.

Saya pribadi selalu berpendapat bahwa tingkat kompensasi buruh, seharusnya lebih didasarkan kepada konsep Supply dan Demand. Ketika tingkat pengangguran tinggi, menerapkan tingkat UMR yang terlalu tinggi (dan naik terus setiap tahunnya) ibaratnya hanya memaksa perusahaan menanggung beban usaha yang lebih.

Upah yang seharusnya rendah menjadi tinggi secara artifisial. Padahal seharusnya upah rendah bisa menjadi salah satu daya tarik bagi perusahaan asing untuk masuk membuka lapangan kerja di negara itu. Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang beroperasi, akan terjadi kompetisi untuk menarik pekerja sehingga tingkat upah akan naik dengan alami.

Contoh nyata dari apa yang saya kemukakan di atas bisa dilihat di kota propinsi GuangZhou, Cina. Sepuluh tahun lalu, upah buruh di sana relatif sangat murah. Ini lalu memancing berbagai perusahaan untuk membuka usaha di sana. Akibatnya terjadi persaingan untuk menarik pekerja sehingga tingkat upah pun meningkat. Dalam dua-tiga tahun terakhir misalnya, tingkat upah di kota Shenzhen meningkat hingga sekitar 2 kali lipat, bahkan jauh di atas nilai UMRnya.

Di Indonesia, setiap tahun penentuan nilai UMR selalu diwarnai oleh ‘pertentangan’ antara pengusaha dan pihak serikat buruh. Dalam kondisi ekonomi saat ini, tanpa adanya saling pengertian dari kedua belah pihak, yang akan dirugikan pada akhirnya adalah keseluruhan perekonomian mereka. Bayangkan suatu lingkaran ‘setan’ dimana berbagai perusahaan tidak mampu memenuhi tuntutan buruh sehingga terpaksa tutup. Pengangguran semakin tinggi sehingga daya beli masyarakat semakin turun dan perusahaan lainnya semakin ‘susah. Saya yakin, bahwa tidak ada orang yang berpola pikir sehat menginginkan hal ini terjadi.

Nah, teman-teman pembaca blog, bagaimana opini anda tentang masalah kompensasi perburuhan ini?

 

15 Comments

Filed under Saya suka cerita Ekonomi

15 responses to “GM, Ford, Chrysler : Om, Kasihan Om… Belum Makan….. (Part 2)

  1. kalo di Indo jarang SPSI yang menang lawan pengusaha karena pada takut kehilangan pekerjaan atau kehilangan kesempatan berkarir. ngomong2 soal 3 CEO itu tadi pagi kabarnya mereka sudah menjual pesawat jet mereka dan ke capitol hill naik mobil hibrid.lumayan bahan postingan di blog ku..hee

  2. aditya30k

    Di Indonesia penetapan UMR masih menjadi perdebatan. Kebijakan terakhir pemerintah mengenai upah buruh nasional adalah berdasarkan aturan PER.16/MEN/X/2008, 49/2008, 922.1/M-IND/10/2008 dan 39/M-DAG/PER/10/2008 per tanggal 22 Oktober 2008.

    Yang menjadi penolakan oleh buruh di beberapa daerah adalah pasal 3 yang berisi ‘Gubernur dalam menetapkan upah minimum mengupayakan agar tidak melebihi pertumbuhan ekonomi nasional’

    Kebijakan tersebut dinilai merugikan buruh, dan banyak buruh yang berdemo menetang kebijakan ini, akhirnya pasal tersebut direvisi menjadi ‘Gubernur dalam menetapkan UMR dengan memperhatikan tingkat inflasi’. Nah sekarang giliran pengusaha yang protes menilai kebijakn tersebut terlalu berat.

    Data dr BPS (http://www.bps.go.id/leaflet/Booklet_Maret2008(new).pdf) pada tahun 2007 UMR di Jakarta Rp 900,600 terbesar kedua setelah Papua Rp 987,000. Nah jika mengikuti kata koordinator Nasional Aliansi Buruh yang menyatakan upah minimal buruh untuk lajang seharusnya Rp 3,2 juta, wah malah makin teriak para pengusaha kita.

  3. San

    Liat postingannya aditya, wah ko kebijakannya bisa berubah2 gitu? Knp sblm kbijakan itu disahkan, dicerna, digodog dulu yg mateng?
    Bung Edison, menurut saya penggunaan supply n demand kayaknya gimana gitu ya? Long term upah naik, tp short term upah kecil. Dulu baru krj,status msh pcobaan lalu jadi karyawan tetap dgn gaji lbh besar,jamsostek,juga pesangon kalo diphk. Tp sekarang byk perusahaan mgg sistem kontrak yg kalo diphk g berhak atas pesangon krn jarang diphk. Yg ada perpanjangan jika masa kontrak habis. Jika kita menolak, ya perusahaan bisa cari org lain lagi. Akibatnya buruh g pny bargaining position shg kasusnya jd kaya boyin blg, buruh g pernah menang lawan pengusaha. Kalo g salah baca diCNN money, kasus “The Big 3” keberatan nanggung warisan karena perusahaan jg menanggung biaya hdp pensiunan buruhnya. Jika kasusnya buruh kerja pake sistem kontrak, kayaknya perusahaan g akan nanggung warisan beban. Efek yg mungkin timbul adalah buruh meningkat sdm nya shg bisa trs perpanjang kontrak n dgn sdm tinggi,kinerja perusahan ok n mampu byr gaji sesuai utk pkerjanya, dgn catatan, tdk dlm keadaan krisis gini. Sebaliknya dalam keadaan krisis gini, aku pribadi kurang setuju dgn kenaikan UMR. Kasian pengusaha,dah jatuh krn dampak krisis global,kena tangga pula dgn tuntutan buruh. Jika pengusaha nyerah n tutup usaha, buruh gimana? Yang besar blm tentu dapat,yg kcl telah lepas pula. Dalam masa krisis gini yg penting alon alon asal kelakon, kecil g papa yg penting lancar…. Just my little piece of mind!

  4. San

    Bung edison, anda tau mengapa proyek kamus JS g selesai2? Karena anda menggunakan kata2 sederhana yg mudah dipahami tanpa meninggalkan arti n tujuan artikel nya. Kita juga yg baca bingung, sumbangan kata apa yg mo ditambahin. 😀 CIAYO!

  5. aditya30k

    Mengenai pekerja kontrak memang sangat banyak di Indonesia. Kasus ini pernah mencuat di tahun 2007. Saat ini perusahaan outsourcing makin banyak. Dengan adanya sistem kerja kontrak ini, perusahaan memang makin gampang mengatur pekerjanya dan tidak pusing memikirkan nasib setelah pensiun pekerjanya, klo PHK jg mereka ga ambil pusing.

    Di tempat kerja saya yang lama malah mulai tahun 2007 tidak menerima karyawan tetap. Semua kontrak, bahkan hingga level manager juga kontrak. Tapi karena susahnya mencari kerja, tetap saja banyak peminatnya meskipun staus kerja kontrak. Biasanya mereka menerima status tersebut sambil berharap akan diangkat jadi pegawai tetap, tapi kapan? 1 tahun? 2 tahun?

    Saya pernah menemukan pekerja yang statusnya kontrak selama 4 tahun. Ketika saya tanyakan kenapa tidak cari pekerjaan lain saja? Dia menjawab cari pekerjaan saat ini susah. Suadah dicari belum? Belum…. Dasar orang Indonesia, selalu mencoba mengambil kesimpulan sendiri sebelum mencoba terlebih dahulu.

  6. aditpulsa

    kalo buruh minta upah 3,2 jt. Terus sampai kapan pengusaha bisa membuka bisnis?
    Misal gaji 9,6 jt utk 3 karyawannya @ 3,2 jt plus keuntungan pengusaha dan biaya operasi 10 juta, total 19.6 jt. Dgn margin 10%, berarti omset sebulan minimal 196 jt..berarti omset harian 7 juta.

    Belum lagi mentalitas orang eNdonesia, kalo gak diawasi gak kerja. Tdk ada kreatifitas dan paling kacau, pada males…

    Hmmh…gini deh, gimana kalo Anwar Ma’ruf yg buka pabrik..Dimodali pinjaman dari bro Edison🙂 atau manalah, bisa gak pabrik itu jalan dengan gaji buruh segitu? Saya pengen lihat antara kata-kata dengan realitas…..

  7. biru

    Dari sisi pekerja untuk kondisi krisis seperti sekarang mungkin lebih baik upah rendah dari pada bergaji tinggi tapi rawan PHK. Paling pas memang kalau pengusaha maupun pekerja saling bertoleransi.

  8. Bro Edy, saya abru baca tadi pagi, rupanya kemungkinan kongres bakalan mengabulkan kucuran dana permintaan 3 CEO itu sebesar 34 miliar dolar AS, naik dari awalnya cuma 25 miliar Dollar AS.

    Klo masalah buruh saya jg agak bingung, paling baik itu gmna ya, SK 4 Menteri ada yg blang dpt mmbantu prushaan dan juga buruh dri pemecatan, tp dari buruh sndiri mrasa dgn SK 4 Menteri pmrintah sdah trlalu bnyak mmbntu prusahaan tp tdak trlalu mmbantu kaum buruh, jadi gmna cara yg paling baik?

  9. tcw

    Menurut saya……..
    Buruh harus melihat realita…….
    posisi buruh itu selalu lemah.kenapa???
    karena mereka hanya mengandalkan “OTOT” dan bukan otak………
    kalo buruh berfikir dengan “OTOT” saja mau dapat upah lebih besar maka tunggu saja Buruh akan kelindes jaman……….

    lihat saja sudah ada alat berat dan robot untuk menggantikan kerja otot buruh. Intinya kerja otot buruh akan tergantikan oleh mesin yang tidak butuh makan, tidak butuh pesangon, tidak mogok massal, tidak ada keluarga, tidak ada uang lembur dsb, tidak telat dll

    semakin buruh memaksa pengusaha , semakin kuatlah pengusaha untuk menggunakan mesin sebagai pengganti buruh.

    cara satu-satunya bagi buruh untuk menaikkan upahnya adalah dengan menaikkan tingkat skill dan knowledge mereka yang akan meningkatkan produktivitas perusahaan/ pendapatan perusahaan.

    tanpa ada usaha buruh untuk meningkatkan pendapatan perusahaannya, minta kenaikan gaji sama saja dengan buruh memilih untuk membolongi periuk nasinya(perusahaanya) sendiri. jika bolongnya sudah parah dan tidak bisa dipake lagi….moga-moga buruh bisa menemukan periuk nasi lain(perusahaan lain) yang mau dibolongi……..akibat lainnya jumlah periuk nasi makin sedikit………
    jika tidak periuk nasi yang menerima/perusahaan ada ya wassalam…….
    salah sendiri menuntut banyak tapi tidak mencek realitanya……

  10. San

    Sebuah pabrik sepatu membayar upah pekerja nya perhari 25rb plus makan siang. Gaji dibyr 2mgg sekali n digunakan utk sewa kos, kirim kekampung n konsumsi pribadi. Smtr target perusahaan per kelompok kerja yg tdd 5org adalah 12 pasang sepatu seharga 500rb per pasang. Lalu bgmana buruh bisa meningkatkan sdm nya,bung!
    Otot diganti robot? Silahkan saja! Periuk bolong, msh ada jalan mencari periuk lain. Sejak bbrp thn lalu, USA, Taiwan, Korea n Arab Saudi menjadi pelanggan memesan buruh pabrik dari indonesia karena alasan otot n penurut. Dpt gaji sama dgn standar buruh lokal serta fasilitas askes n tpt tinggal yg jauh lbh terjamin. Apalagi dgn penerapan sistem G2G, yg dpt mempermudah n mengurangi biaya proses. Saat ini blm tersosialisasikan dgn baik,namun dah byk buruh bermigrasi. Bgmana jika informasi tsb dah mudah diakses n prinsip makan ga makan kumpul serta ketakutan menjelajah tanah baru hilang? Mungkin byk buruh g lagi mengejar2 kenaikan UMR tapi lari keluar indonesia. Lalu bgmn dgn org2 yg tertinggal yg katanya ngandelin otak bukan otot n memilih robot? Perlu diketahui, telah byk buruh yg paham investasi n lebih memilih berinvestasi diluar pasar indonesia shg tahun lalu di Victoria Park Hongkong, bbrp bank dr indonesia mengingatkan rasa nasionalisme para investor ini . Balik pada permasalahan, sepertinya lbh baik smua phk duduk bsama mencari jalan n pemecahan masalah yg baik bagi smua pihak. Bukan silih tarik mana lbh kuat, mana lebih utama kepentingannya! Tetap semangat!😀

  11. wah, jadi ramai pro kontranya…🙂

    Saya pribadi cenderung mempunyai pandangan yg moderat. Sebagai contoh, dalam usaha saya ada karyawan yang berstatus tetap, tetapi juga ada karyawan yg berstatus kontrak.

    Mengapa demikian? Karyawan yg berstatus tetap umumnya adalah karyawan yang bagi saya mempunyai ‘nilai lebih’. Kontribusinya terhadap operasi perusahaan sulit utk digantikan. Misalnya saja, kepala teknisi, kepala produksi, supervisor marketing dll. Mereka ini mendapatkan status karyawan tetap karena mereka mempunyai ‘kelebihan’ baik berupa ilmu maupun ketrampilan.

    Bagaimana dengan buruh kontrak? Yang termasuk ke dalam golongan ini rata-rata adalah tenaga packer, cleaning service dll. Para buruh ini sulit mendapatkan status karyawan tetap karena memang kontribusi mereka relatif mudah digantikan (maaf jika ini terkesan ‘dingin’/’kejam’). Jika seorang packer berhenti misalnya, perusahaan tidak sulit untuk menggantikannya dengan orang baru.

    Bagaimana jika seandainya terjadi kenaikan tingkat upah yang terlalu tinggi? Pengusaha tentunya akan menganalisa alternatif mana yang lebih murah, apakah tetap padat karya (labor intensive) ataukah dia akan lebih baik beralih ke padat modal (capital intensive).

    Saya pernah berkunjung ke pabrik resin PMA Jepang. Sebuah pabrik yang ukurannya kira-kira 20 kali lipat ukuran pabrik saya, jumlah tenaga kerjanya hanya 1/2 dari pabrik saya..

    Jika industri di Indonesia semuanya dijalankan dengan model capital intensive spt di atas, jumlah lapangan kerja yang tercipta pun relatif kecil. Ini pun akan membawa pengaruh yg negatif bagi para pengusaha. Mesin tidak bisa berbelanja, tidak seperti buruh. Pada akhirnya, kedua-duanya (buruh dan pengusaha) rugi.

    Idealnya memang perlu dicari sebuah keseimbangan. Hanya saja menurut pandangan pribadi saya, keseimbangan ini lebih baik diserahkan kepada hukum supply dan demand, dengan intervensi yang minimal dari pemerintah.

    Sebagai bahan pemikiran, jika misalkan UMR adalah 3,2 juta, sehingga buruh yang tidak mempunyai ketrampilan pun bisa mendapatkan upah sebesar itu, maka tentunya karyawan dengan ilmu dan ketrampilan khusus akan menuntut kompensasi yg lebih tinggi.

    Seorang akuntan misalnya, akan berargumen bahwa ‘masak saya sekolah sampai kuliah, gajinya cuma beda sedikit dengan tukang sapu?’

    Akhirnya, terjadi kenaikan upah yang merata di berbagai posisi. Hasilnya? Wage Inflation. Nilai uang turun, harga barang-barang naik. Kenaikan upah UMR yg 3,2 juta pun menjadi tidak berarti, alias kita kembali ke titik awal.

    @san

    Pertanyaan San mengenai bagaimana cara buruh meningkatkan kompetensinya jika utk hidup saja sulit memang suatu pertanyaan yang valid….

    Ini memang bukan persoalan yang mudah untuk diatasi, butuh kerjasama dari berbagai belah pihak, serikat buruh, pengusaha dan juga pemerintah.

    Serikat buruh misalnya seharusnya aktif mengadakan program-program pengembangan ketrampilan bagi para anggotanya. (jangan cuma sekedar menggalang utk demo🙂 )

    Pemerintah harus lebih memperbaiki sistem pendidikan saat ini dan mengadakan pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan. Selain itu perlu intensifikasi program keluarga berencana yang sekarang terbengkalai. Ini agar tingkat pengangguran tidak semakin meningkat akibat pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali ( jadi ingat kembali dengan komentar mantan Wapres yg ‘melecehkan’ KB🙂 )

    Pengusaha, di lain pihak juga perlu ikut memberikan kontribusi dalam pengembangan karyawannya, misalnya dengan pelatihan di tempat, dll.

  12. buba

    enak kalo kerja di perusahaanya bung edison, objektif menilai karyawan berdasarkan kompetensi. kalau perusahaan besar banyak faktor, termasuk like/dislike, belum lagi kolusi nepotisme.

    saya kurang setuju kalau keseimbangan diserahkan penuh pada supply & demand, karena sifat alamiah pengusaha adalah mengurangi cost serendah2nya agar mendapat keuntungan sebesar2nya.

    Edison: Tentunya tidak bisa bergantung sepenuhnya kepada mekanisme supply dan demand. Pemerintah tetap harus ada peran, karena tidak ada sistem yg sempurna. Mekanisme Supply dan Demand terkadang akan ‘macet’. Tetapi idealnya, menurut pandangan pribadi saya, pemerintah seharusnya hanya turun tangan dengan aktif ketika mekanisme ini ‘macet’. Di luar itu, peran pemerintah sebaiknya minimal.

    Jika saya lihat, trend ‘buruh kontrak’ itu baru meluas setelah lahirnya UU ketenagakerjaan 2003 yg sekarang berlaku. UU ini oleh para pengusaha dirasakan terlalu memihak kepada pekerja, terutama pada masalah pesangon.

    Akibat UU yg tidak dimasak dengan baik ini, hasilnya adalah bukannya meningkatkan kesejahteraan pekerja, yang timbul malah meluasnya sistem buruh ‘kontrak’ yang justru sebelumnya jarang terdengar….

    Tetapi ini semua tentunya merupakan pandangan pribadi saya. Dalam diskusi seperti ini, tentunya setiap orang akan mempunyai pandangan yang berbeda-beda… Itu wajar-wajar saja dan justru merupakan hal yg sehat….

    Senang rasanya kalau artikel saya bisa jadi memancing diskusi seperti ini..

  13. wahyudi

    masalah pengangguran, upah minimum dan kesejahteraan pegawai, adalah masalah kompleks yang menyangkut banyak aspek.
    Program KB merupakan simpul untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Ketika awal zaman orde baru pertumbuhan penduuk Indonesia sekitar 3.5%. pertumbuhan penduduk terus ditekan dan ketika awal tahun 90-an pertumbuhan mencapai 1,7%. Setelah orde baru tumbang pertumbuhan penduduk meningkat menjadi 2.3-2,4% lagi.
    Pertumbuhan penduduk akan meningkatkan supay tenaga kerja dan meningkatkan biaya pemerintah dalam fasilitas maupun kesejahteraanya.
    China saat ini bisa menekan pertumbuhan penduduk hingga di bawah 1%. Dengan kondisi perekonomian China yang tumbuh 10% pertahun saja, kesejahteraan masyarakat/pekerja belum terasa.
    Dengan pertumbuhan ekonomi indonesia yang 6%/tahun maka tentunya tidak mencukupi untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk yang tumbuh 2,3-2,4%.
    Oleh karena itu marilah kita galakan kembali program KB sehingga dapat menekan pertumbuhan penduduk Indonesia di bawah 1%. Selain itu program KB bukan hanya mengurangi pertumbuhan penduduk tapi juga menjadi gerakan masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kesejahteraanya.

  14. AMOS MANGALLA'

    Dalam sebuah perusahaan,negara atau organisasi keseimbangan adalah hal yang sangat penting artinya apa, ketika semua yang berpearan mempunyai pemikiran yang lebih realistis terhadap kondisi atau keadaan, maka semuanya akan berjalan dengan baik. berfikir realistis maksudnya adalah bagaimana kita melihat pendapatan dan pengeluaran perusahaan itu berdampak pada eksistensi peruahaan baik itu jangaka pendek maupun jangka panjangnya.

  15. hogs

    Jadi inget, teman sy yg pembantu rumah tangganya (prt) “dibajak” oleh majikan yg sebelumnya. Sy melihat kalo pembantu itu rajin dan gak pilih-pilih kerjaan, yah kalo bisa sy jg pny pembantu seperti dia. gak kaya yg di rumah males. hehhehe…. yang sy perhatikan waktu itu dia mau kembali ke majikan yg lama krn ditawarkan gaji yang lebih besar. waktu itu teman sy jg lgs ingin menaikkan gaji. mengingat skrg cari prt jg sulit krn semua ingin jd buruh. pdhl kerja jd prt kan dapet gajinya bersih.makan sama tinggal udah ditanggung sama majikan. tapi teman sy terlambat jd ya pembantunya akhirnya memilih pindah. Kalo pembantu aja bisa diperebutkan begitu bagaimana kalo ada buruh yg pny keterampilan dan rajin. pasti perusahaan jg akan mepertahankan. malah mungkin diperebutkan dan otomatis gaji jg naik. krn perusahaan ingin menahan spy gak pindah ke perusahaan lain. Jd menurut sy setiap org pny nilai masing2. kl ingin pny penghasilan lebih jg harus pny kelebihan dr org lain.
    Sy setuju dengan Bung Edison untuk membiarkan ke supply and demand dgn sedikit intervensi pemerintah. krn menurut sy penentuan umr sdh cukup menguntungkan buruh. dengan TKI masih diekspor aja indonesia msh over supply tenaga kerja dan msh byk org yg mau dibayar di bawah umr dengan jam kerja lebih panjang. jd menurut sy intervensi pemerintah dgn menentukan UMR itu sdh cukup. dan kalo tiap tahun ribut masalah berapa UMR yahh… itu kan biar aja. toh kalo UMR ga diributin jg pasti malah cari masalah lain. namanya jg manusia. pasti ga pernah puas….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s