Margin Trading: Bermain dengan OPM (Other People’s Money) Part 2

Terkadang karena terlalu banyak hal yang menarik untuk dibahas, saya lupa membuat lanjutan dari suatu artikel. Artikel part 2 ini merupakan salah satu dari artikel yang ‘terlupakan’ ini. Terimakasih kepada ghie yang telah mengingatkan saya tentang artikel ini.

Karena artikel awalnya sudah lama, utk ‘menyegarkan‘ ingatan pembaca, saya buatkan link part 1 artikel ini.

—–oOo—–

Dalam setiap transaksi margin trading, ada dua jenis margin yang harus kita ketahui:

  • Initial Margin (Margin Awal)
  • Maintenance Margin (Margin Pemeliharaan/Perawatan)

Dalam artikel part 1, saya telah memberikan sebuah ilustrasi tentang penggunaan Margin. Contoh yang saya berikan dalam artikel tersebut merupakan adalah ilustrasi untuk Initial Margin (Margin Awal).

Lalu apa yang dimaksudkan dengan Maintenance Margin?

Maintenance Margin adalah suatu rasio yang harus senantiasa kita jaga dalam portofolio kita selama kita menggunakan fasilitas margin dari broker (alias kita membeli sebagian portofolio kita dengan cara berhutang kepada broker). Bagaimana cara perhitungan rasio ini? Untuk menghitung rasio ini, pertama-tama kita harus tahu lebih dahulu nilai ekuitas, yaitu nilai sekuritas (dalam contoh berikut ini adalah saham) dikurangi dengan pinjaman dari broker. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat ilustrasi berikut:

Misalkan A tertarik utk membeli saham PT. JanganSerakah dimana harga per lembar sahamnya adalah Rp 5000. Modal yang dimiliki oleh A adalah Rp 5000 (hanya cukup untuk membeli saham). Tetapi oleh broker saham, A diberikan fasilitas Initial Margin 50%, sehingga A bisa membeli 2 lembar saham PT JanganSerakah (50% memakai modalnya, sedangkan 50% dipinjamkan oleh broker).

Berapa nilai ekuitas A pada saat ini? Jawabannya adalah Rp 5000, yaitu Rp 10.000 (nilai saham milik A) minus Rp 5.000 (hutang A kepada Broker)

Setelah 1 minggu, harga saham PT. JanganSerakah turun menjadi Rp 4000/lbr. Nilai saham yg dimiliki oleh A pun turun dari Rp 10 ribu (Rp 5000×2) menjadi tinggal Rp 8000 (Rp 4000 x 2). Akibatnya nilai ekuitas dalam rekening A pun akan mengalami penurunan. Akibat turunnya harga saham tersebut, nilai ekuitas portofolio A tinggal sebesar Rp 3000, yaitu Rp 8000 (nilai saham milik A) minus Rp 5000 (hutang A kepada broker).

Sekarang mari kita masuk ke konsep ‘Maintenance Margin’. Misalkan saja A diwajibkan oleh brokernya memelihara Maintenance Margin sebesar 20%. Ini artinya, A diwajibkan untuk selalu memiliki nilai ekuitas sebesar 20% dari keseluruhan portofolionya.

Ini artinya nilai ekuitas A saat ini minimal harus sebesar 20% x Rp8000 (nilai saham dalam rekening A) = Rp 1600. Kita lihat di atas, nilai ekuitas A adalah sebesar Rp 3000, alias A masih ‘aman’.

Tetapi bagaimana jika seandainya Maintenance Margin yang ditetapkan oleh broker adalah 40%? Ini artinya A harus selalu menjaga agar nilai ekuitasnya minimal sebesar 40% x Rp8000, alias Rp 3200. Padahal saat ini nilai ekuitasnya hanya tinggal Rp 3000 (alias ada kekurangan Rp 200).

Dalam kondisi ini, A akan terkena “Margin Call”, yaitu suatu perintah utk membayar kekurangan ekuitas dalam rekeningnya. Dalam hal ini A harus menyetorkan uang Rp 200 ke rekeningnya.

“Margin Call” ini diterapkan oleh Broker untuk menjaga keamanan pinjamannya kepada A. Jika misalnya pada saat ini A gagal/tidak mampu membayar “margin call” ini, maka broker bisa menjual saham dalam rekening A senilai Rp 8000. Pinjamannya sebesar Rp 5000 akan ditarik, dan sisa Rp 3000 dikembalikan kepada A.

9 Comments

Filed under Spekulasi

9 responses to “Margin Trading: Bermain dengan OPM (Other People’s Money) Part 2

  1. ekanata

    Ada salah ketik bro🙂
    Setelah 1 minggu, … menjadi Rp 3500/lbr. Nilai saham … menjadi tinggal Rp 8000 (Rp 4000 x 2)

  2. thanks, sudah dibetulkan… ini gara-gara sewaktu menulis artikel ini, angkanya beberapa kali saya ganti-ganti….akibatnya ada yg kelupaan diganti…

  3. djoe_1_da

    Mengapa ada Sekuritas yang memberikan fasilitas margin adalah untuk meningkatkan pendapatannya secara aman, yaitu dari bunga; sedangkan resiko pergerakan underlying dialihkan ke nasabah.
    Hal ini serupa kerja dengan short selling (pinjam jual) dan konsep CFD/Forex.

    djoe_1_da@yahoo.com
    Private Investment Management

  4. saya jadi ngerti arti “margin call” soalnya suka denger tapi gak tau artinya.thanks atas pelajarannya.

  5. hati-hati menggunakan margin, tidak enak rasanya terkena margin call.

  6. Spidy

    @ Investasi

    Yup tidak enak klo kena margin call (pengalaman pribadi)

    Tapi klo untung enak lho, bisa untung banyak dengan modal sedikit (pengalaman orang lain)

  7. @Spidy

    kalau saya agak berbeda…tidak punya pengalaman pribadi kena margin call (krn tidak pernah mau menggunakan margin), tetapi justru lumayan banyak orang lain yg saya kenal yang shock kena ‘margin call’…

  8. manis

    margin call, short sale are just some of the self destructor characteristics…
    people said this activity as :
    i got it !!!
    i got it !!!
    i got it !!!
    i didnt got it😦 (get broken and get burn)
    … :))

  9. Menggunakan fasilitas margin jangan lama-lama, malah kalo bisa beli pagi jual sore jadi tidak dianggap hutang. Tapi ini niatnya jadi spekulan bukan investor, yg menurut saya merupakan parasit di pasar modal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s