PELAJARAN DARI CERITA HOROR REKSADANA ‘BODONG’ BANK CENTURY

Di pekan ini, cerita bank Century memasuki bab baru yang lebih menakutkan dari cerita horor. Ternyata selama ini, Bank Century dalam operasinya juga melakukan penjualan reksadana padahal bank ini tidak mempunyai perizinan untuk menjual Reksadana. Ketika saya cek ke situs Bapepam, Bank Century tidak terdaftar sebagai APERD (Agen Penjual Efek Reksa Dana).

Kisah seram ini lalu ternyata berkembang menjadi lebih menyeramkan lagi. Salah satu reksadana yang dijual oleh Bank Century merupakan reksadana ‘bodong’, alias reksadana yang dibuat tanpa seizin Bapepam. Reksadana yang bermasalah ini dijual dengan nama Investasi Dana Tetap Terproteksi dan dikeluarkan oleh PT. Antaboga Delta Sekuritas. Hebatnya lagi, produk ini kabarnya sudah dijual sejak tahun 2001. Kini dikabarkan bahwa bahwa Rp 1 Triliun – Rp 1,5 Triliun milik nasabah bank Century terkena masalah seputar produk ini.

Jika teman-teman pembaca berpikir bahwa cerita ini berakhir di sini, maka anda salah besar, karena masih ada sisi menarik lainnya. Per 30 September 2008, PT. Antaboga Delta Sekuritas tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar Bank Century (dengan total kepemilikan 7,44%).

—–oOo—–

Cerita perkembangan terbaru Bank Century ini mengundang begitu banyak pertanyaan.

Yang pertama adalah bagaimana bisa sampai terjadi sebuah bank menjual reksadana tanpa mempunyai izin sebagai Agen Penjual Reksadana (APERD)? Bagaimana pertanggung-jawaban Bapepam sebagai badan PENGAWAS Pasar Modal dan Lembaga Keuangan dalam hal ini? Bagaimana juga dengan pertanggung-jawaban BI sebagai PENGATUR dan PENGAWAS Bank? (Adegan berikutnya kemungkinan besar adalah acara saling tuding menuding dan lempar tanggung jawab antara kedua badan ini).

Pertanyaan kedua yang amat mengganggu adalah mengapa suatu produk reksadana ‘bodong’ tanpa izin bisa lolos dari pengawasan Bapepam, padahal seperti yang dikabarkan, produk tersebut sudah dijual sejak lama (2001)?

Pertanyaan lainnya yang saya rasa timbul di kepala banyak orang adalah, apakah dalam hal ini posisi PT. Antaboga sebagai salah satu pemegang saham utama Bank Century mempunyai andil dalam timbulnya kasus ini? Mungkin tidak sedikit yang akan berpendapat IYA. Jika kasusnya adalah demikian, bagaimana dengan potensi terjadinya kasus yang sama di bank-bank lain?

Dalam krisis finansial di tahun 97, terkuak fakta bahwa bank-bank seringkali hanya dieksploitasi oleh pemiliknya untuk mendukung anak usahanya yang lain. Pada akhirnya, yang menanggung malpraktek ini adalah nasabah bank. Kasus Bank Century ini meskipun berbeda dalam prakteknya, tetapi mempunyai ‘aroma’ yang sama. Pertanyaan terbesarnya kini adalah apakah kasus Bank Century ini unik (cuma satu) ataukah justru merupakan cerminan kondisi sektor perbankan?

—–oOo—–

Dengan begitu banyaknya pertanyaan yang mengganggu, bagaimana harusnya seorang investor Reksadana di Indonesia bertindak?

Belajar dari kasus Bank Century ini, maka sebelum berinvestasi di suatu reksadana, ada baiknya kita:

I. Memeriksa apakah tempat kita membeli reksadana tersebut terdaftar sebagai APERD (Agen Penjual Efek Reksadana).

Dari situs Bapepam, daftar Agen Penjual Reksadana yang terdaftar (per saat artikel ini ditulis) adalah:

  1. PT Bank CommonWealth
  2. American Express Bank Ltd.
  3. PT Bank Niaga
  4. Deutsche Bank AG
  5. PT Bank DBS Indonesia
  6. PT Bank Internasional Indonesia (BII)
  7. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
  8. PT Citibank NA Cabang Indonesia
  9. Standard Chartered Bank Indonesia
  10. PT ABN AMRO Bank (yang sekarang tampil dengan nama baru RBS)
  11. PT BRI (Persero) Tbk
  12. PT Bank Buana Indonesia TBK (sekarang lebih dikenal dengan nama UOB Buana)
  13. Bank Permata Tbk
  14. PT HSBC Ltd
  15. PT Bank Lippo Tbk
  16. PT Bank Danamon Tbk
  17. PT Bank Bukopin Tbk
  18. Bank BCA Tbk
  19. Bank NISP Tbk
  20. PT Bank Mayapada Internasional Tbk
  21. PT Victoria Internasional Tbk
  22. PT Bank SinarMas
  23. PT Bank Pan Indonesia Tbk
  24. PT Bank Mega Tbk
  25. PT Bank Syariah Mandiri
  26. PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk
  27. PT BNI (Persero) Tbk

Jika selama ini anda membeli Reksadana tidak langsung dari Pengelola Reksadana tersebut, melainkan melalui agen penjual, periksalah apakah tempat anda membeli Reksadana masuk dalam daftar di atas. Jika tidak, ada baiknya diselidiki lebih lanjut.

PS: Sekali lagi saya ingatkan bahwa data di atas adalah data yang saya dapatkan di situs Bapepam pada saat artikel ini ditulis. Jika anda membaca artikel ini dalam kurun waktu yg lama setelah artikel ini ditulis, ada baiknya dikonfirmasikan kembali di situs Bapepam.

II. Memeriksa apakah reksadana yang kita beli telah terdaftar dan memiliki izin dari Bapepam LK

Ini bisa dilakukan melalui situs Bapepam. Link yang saya temukan ada dua:

  1. http://www.bapepamlk.depkeu.go.id/reksadana/
  2. http://www.bapepam.go.id/e-monitoring/Default.asp

Sayangnya, saat ini keduanya sedang down karena ada pengembangan sistem dan aplikasi baru. Sementara sistem online ini masih diperbaiki, mungkin pilihan yang tersisa adalah dengan konfirmasi langsung ke Bapepam (per telpon).

III. Ada baiknya juga mengkonfirmasi apakah orang yang menjual Reksadana kepada anda memiliki izin sebagai Wakil Perusahaan Efek ataupun Wakil Agen Penjual Efek Reksadana (WAPERD)

Berdasarkan Peraturan Nomor V.B.2 (2006) tentang Perizinan Wakil Agen Penjual Efek Reksa, ditetapkan bahwa:

Untuk mencegah terjadinya kekeliruan penyampaian informasi dalam memasarkan produk Reksa Dana, maka  penjualan Efek Reksa Dana hanya dapat dilakukan oleh orang perseorangan yang memiliki izin sebagai Wakil Perusahaan Efek ataupun Wakil Agen Penjual Efek Reksadana (WAPERD)

Ini ditekankan lagi dalam Peraturan Nomor V.B.3 (2006) tentang Pendaftaran Agen Penjual Efek Reksa Dana bahwa:

Pegawai Agen Penjual Efek Reksa Dana yang melakukan penjualan Efek Reksa Dana wajib memiliki izin orang perseorangan sebagai WAPERD

Tidak ada salahnya memastikan bahwa orang yang melayani pembelian reksadana anda selama ini memiliki izin WAPERD untuk menghindari adanya informasi yang tidak akurat karena kurangnya kualifikasi orang tersebut.

IV. Jangan lupa untuk : BACA, BACA dan BACA KEMBALI prospektus reksadana yang diterima.

Ingat, pada akhirnya, yang bertanggung jawab atas uang kita adalah kita sendiri. Membaca prospektus dengan teliti adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh setiap investor.

40 Comments

Filed under Pemikiran tentang Investasi

40 responses to “PELAJARAN DARI CERITA HOROR REKSADANA ‘BODONG’ BANK CENTURY

  1. geisha

    sip banget mas nikken infonya, comm bank no 1 ya di appred🙂

    btw kalo uda kejadian kaya kasus century ini, sebagai BAPEPAM dan BI, tinggal melimpahkan kesalahan ke customer (ga cari tau) dan ke pihak yg bersalah (century n the gangs), yg saya ketaui selalu begitu.

    cmiiw

  2. Apakah top up reksa dana yang melalui telepon bisa aman? sebelumnya kita disuruh mengisi formulir pembelian.untuk uangnya mengambil dari tabungan kita ,sejumlah yang kita mau ( untuk top up). amankah uang kita?

  3. kita sebagai investor reksadana memang harus teliti sebelum membeli, terkadang kita terlena dengan return yang dijanjikan.

  4. ada kemungkinan gak pemilik bank century bermain di reksadananya sendiri biar keliatan besar gitu nilai investasinya

  5. san

    @ yofa yola
    ikuti dulu saran dari postingan bung edison diatas. memang kadang untuk memudahkan investor top up ataupun redeem kadang kita bisa menitipkan form beli atau jual pada bank ataupun perusahaan sekuritasnya. jadi transaksi bisa per telepon atau email. tapi jangan lupa minta surat konfirmasi pembelian nya, salinan form pembelian atau penjualannya serta laporan akun per bulannya sehingga kita bisa cek keadaan investasi kita.
    @ bung edison
    kayaknya banyak istilah yang bisa dimasukin kekamus setelah baca artikel ini

    pendapat saya pribadi mengenai artikel ini….. boleh aja kita antisipasi dan waspada karena perlu banget… kan uang yang kita investasikan bertujuan untuk berkembang bukannya hilang… tapi jangan sampe membuat kita ketakutan sehingga kapok bahkan stop berinvestasi… investasi bukan hanya untuk kepentingan kita mengembangkan dana tapi juga memajukan perekonomian Indonesia, tapi….. waspada ya….! banyak serigala pake beludru diluar sana, hahaha…..🙂

  6. Blazy DK

    nice info bro🙂
    tanks alot

  7. buba

    Investasi di reksadana ternyata punya dua risiko.

    Pertama adalah risiko penurunan nilai portofolionya, kebangkrutan perusahaan (jika reksadana saham), gagal bayar saat jatuh tempo (jika reksadana obligasi), dll.

    Yang kedua risiko gagal bayar / kebangkrutan perusahaan sekuritasnya.

    Risiko kedua ini yang selama ini kurang disadari. mungkin ada yang bisa sedikit membantu mengulas kemungkinan2 penyebab risiko yang kedua??

    Setahu saya ada satu sebab, yaitu jika nilai kelolaan suatu reksadana dibawah batas tertentu, sehingga produk reksadana tsb ditutup/bankrut.
    Lalu bagaimana kalau yang bermasalah adalah bank kustodian? apakah investor juga bisa kena akibatnya? Apa sebab2 lainnya? Kasus antaboga delta sekuritas ini masuk kategori mana?

    Apakah ini berarti investasi di reksadana lebih berisiko dibanding investasi langsung (saham, obligasi, pasar uang, dll)

    Mohon petunjuk dari para pakarnya🙂
    Thanks.

  8. toto_lutu

    Ehm..apakah ini ada hubungannya dgn kasus email yg bilang ada bank yg sakit? Waktu itu sih BI bilang semua baik2 saja.. Kalo dah kayak gini BI mau bilang apa lagi ya?

  9. bocah

    Kata Bapepam-LK, produk tersebut bukan reksadana, melainkan kontrak pengelolaan dana.

    Memang apa bedanya?

    http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/12/08/278/171669/jumlah-bank-penjual-reksa-dana-perlu-dibatasi

    • Untuk sederhananya, mungkin bisa dikatakan bahwa KPD itu kontrak antara 2 pihak.. jadi tidak ada penawaran ke publik umum… Setahu saya di Indonesia, aturan mainnya belum jelas. Sepengetahuan saya juga, jumlah investornya dibatasi (tidak boleh lebih dari 50 kalau tidak salah)…

  10. toto_lutu

    “Sejak 2006, Bank Century sudah melarang produk-produk seperti ini. Tapi saya tidak tahu kenapa ada produk-produk seperti ini yang diindikasi melibatkan Bank Ceentury,” kata Dirut Bank Century Maryono dalam jumpa pers di kantor Bank Century, Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (9/12/2008).

    http://www.detikfinance.com/read/2008/12/09/190709/1050711/6/bank-century-sudah-larang-penjualan-produk-investasi-sejak-2006

    Lucu juga yah..
    Mosok yg punya warung gak tahu barang yg dijual di warungnya..

  11. antialias

    Menurut saya paling asyik investasi langsung ke Sekuritas daripada lewat Bank karena:

    1. Lewat Bank ada minimal penempatan dana yang bagi saya sangat besar (berkisar 50 juta). Sedangkan langsung ke Sekuritas minimal 250 ribu rupiah saja. Begitu juga dengan aturan top-up.

    2. Lewat Bank (biasanya) ada aturan harus menahan dana selama minimal satu tahun. Langsung ke Sekuritas = tidak ada pembatasan waktu, bisa ditarik kapan saja (ada yang kena penalti, ada yang tidak kena).

    3. Komisi penempatan dana, top-up, dan pencairan lewat Bank berbeda dengan Sekuritas (biasanya lebih mahal, coba Bank dapat untung dari mana?).

    4. CS Bank umumnya tidak terlalu paham dengan produk Reksadananya sendiri dibandingkan CS Sekuritas langsung.

    Sekuritas minta tolong ke Bank karena ingin memanfaatkan database nasabah Bank yang lebih besar.

    Sedangkan kekurangannya:
    1. Cabang Sekuritas hanya ada di kota-kota tertentu saja dan jumlahnya sangat terbatas dibandingkan Bank. Jadi relatif merepotkan untuk mengurus segala macam syarat-syarat, formulir, dan sebagainya. Saya mengalaminya sendiri karena tinggal di kota kecil (Yogyakarta) yang hanya ada cabang Danareksa di Kampus UGM dan BNI Securities dekat Kraton (sejauh yang saya tahu).

    2. Karena alasan nomor satu, banyak “buntutnya”. Salah satunya timing top-up atau penarikan RD seringkali molor, tidak tepat sasaran karena dokumen harus menempuh jarak untuk sampai ke kantor sekuritas terdekat.

    Tapi berhubung dana saya minim, jadi saya rela menempuh susah payah kirim dokumen ke kantor Sekuritas terdekat. Untungnya Bank Kustodian ada di dekat rumah saya, jadi untuk top-up atau withdrawal tidak ada masalah.

  12. toto_lutu

    Mosok minimal 50jt..?
    Saya cuma 500rb aja bisa kok..(lewat CW)

    Ada masa penahanan dana (lock period)?
    Gak ada tuh..

    Yg saya temui justru kalau lewat bank, fee2-nya lebih murah..karena bisa ditawar..

    Apalagi kalau banknya ada fasilitas internet banking.. jauh lebih mudah, no paper needed, tinggal klak-klik saja.

  13. djoe_1_da

    Untuk memperbaiki tingkat kepercayaan dan mencegah modus penipuan terus berulang hanya dengan ganti baju label, seharusnya daftar orang tercela dibangkrutkan hingga kolor-kolornya dan tidak boleh masuk ke keuangan lagi selamanya, minimal seratus tahun lah.

    Seharusnya publik berhak tahu dan berhak melindungi dirinya untuk tidak berhubungan dengan orang-orang yang berniat tidak baik; pre-emptive juga.
    Ada yang punya daftar orang tercela yang dimaksud?

  14. antialias

    @toto lutu?
    emang di bank mana?
    soalnya selama ini dapat tawaran dari Bank selalu paketnya kaya gitu. Kalo tau ada yang mudah sih udah dulu-dulu lewat Bank … PM aja yee hehe …
    tapi nti sekuritasnya ga cocok dengan pilihan hati lagi😦

  15. toto_lutu

    @antialias

    Gimana PMnya?
    Coba main aja ke Jl. Brigjen. Katamso No.262
    Phone: (0274) 414 841, 414850, 414892

  16. kita mesti hati-hati dech bila di tawarin produk investasi yang sekiranya masih belum kita kenal, jangan cepat percaya dech ama penjelasan dari petugas bank. Bahkan Bank sekelas Citybank juga ngejual produk investasi bodong dari Lehman Brother yang bangkrut itu. Di Indonesia juga ada yang sudah jadi korban seperti terjadi di Citybank PI dan ketika manager Citybank Pondok Indah di minta pertanggungjawaban, mereka saling lempartanggung jawab.

    Beginilah iklim investasi di Indonesia selalu nunggu korban dulu baru pemerintah bergerak. Gimana kalo Bung Niken bukan konsultasi lewat sms, ketik (spasi) Investasi kirim ke 00007.

  17. Waspada

    Sampai bosan telinga ini mendengar korban penipuan tiada henti-hentinya. Tapi kenapa ? Kenapa selalu terjadi walau sejak dulu berbagai media informasi tanpa kenal lelah ramai-ramai memberitakan kasus-kasus tersebut.
    Kelihatannya nafsu ingin cepat kaya atau lebih kaya lagi dengan jalan mudah tanpa kerja sudah begitu merasuk dalam pada jiwa-jiwa mereka yang punya uang lebih. Sungguh sangat-sangat amat disayangkan kalau maksud hati mereka ingin memeluk gunung apa daya ternyata gunungnya meletus. Jadilah mereka ini korban-korban penipuan dari setan-setan kerah putih yang memasang perangkap dengan janji-janji, iming-iming dan fasilitas-fasilitas yang keren.
    Jadi belajarlah dari pengalaman wahai Saudaraku yang punya uang lebih untuk tidak mudah terpengaruh oleh janji-janji manis yang akan memberi keuntungan besar tapi terpaksa harus mengorbankan prinsip kehati-hatian demi keselamatan diri. Ingatlah selalu kata hati dan perhitungan resiko yang cermat, jika memang lebih aman berinvestasi di tempat yang keuntungannya biasa-biasa saja alias tidak bikin kita cepat kaya tapi memberikan keamanan dan keselamatan uang yang jauh lebih terjamin. Why not !

  18. Waspada

    Menyambung masalah di atas.

    Belajar dari pengalaman, tidak ada yang lebih aman dalam menyimpan uang atau berinvestasi selain dalam bentuk emas murni di bank pemerintah atau tanah yang jelas statusnya.

    Selain aman dari resiko hilang, nilainya yang tidak pernah kenal turun, juga tidak tergantung dari berbagai kebijakan pemerintah atau perbankan.

  19. toto_lutu

    @Edison

    Itu memang sudah jadi ‘pakem’ orang banyak bro.. Dan jika kita memberitahu logika sederhana disertai fakta yg sebenarnya..akan ada banyak ‘tapi’..:-)

    “Sesuatu yg memiliki harga, jika suatu saat ia naik maka akan ada saatnya ia turun.”

    Tapi yg ini kalah pamor sama kata-katanya Mark Twain..;-)

  20. ina

    @ waspada…

    daerah rumah saya harga tanah dah 3 juta per m2 (kira2…) tau2 di perempatan jalan jadi tempat nge-pool-nya gerobak sampah… yang punya rumah langsung gak bisa jual tanahnya tuh…

    hehehe, simple case bahwa tak selamanya harga tanah naik terus…

  21. Waspada

    Iya, iya terserah anda-anda sajalah, tapi yang saya alami begitu.
    Maaf sedikit buka-bukaan nih yee.

    Dari sisa rejeki yang saya makan hingga tahun 2001 sebesar Rp 80 juta, saya pergunakan untuk 3 hal, yakni :
    1. 200 gram emas Rp 20 juta
    2. Tanah 100 Rp 50 juta
    3. Saving Rp 10 juta

    Di akhir tahun 2008 ini nilainya menjadi sbb :
    1. Emas +/- Rp 40 juta
    2. Tanah Rp 150 juta
    3. Saving Rp 11,5 juta

    Kesimpulan dalam lima tahun :
    1. Emas naik 100 %
    2. Tanah naik 150 % (sudah terjual)
    3. Saving naik kurang dari 15 %

    Sekarang saya belikan lagi tanah di pinggiran Jakarta yang berpotensi menjadi daerah yang berkembang seharga Rp 300 ribu/m sehingga mendapat 500 m2. Rencananya akan saya diamkan lagi hingga 5 tahun ke depan mudah-2an nilainya menjadi Rp 500 ribu/m atau Rp 300 juta atau naik 100% lagi.

    • @Waspada

      Jika memang anda untung dari membeli emas dan tanah, saya turut mengucapkan selamat. (saya juga salah satu yg turut menikmati kenaikan harga emas ini).

      Yang ingin saya tekankan dalam hal ini hanyalah bahwa tidak ada yang namanya investasi yg pasti untung, termasuk juga emas dan tanah. Jika kita lihat misalnya, di Amerika saat ini, krisisnya justru timbul akibat bubble di sektor properti. Nah, yang membeli properti 2-3 tahun lalu, malahan menelan kerugian. Banyak sekali contoh tentang investasi properti yg rugi🙂

      Investasi emas juga sama. Jika misalkan anda membeli emas di tahun 78-79, maka dalam 30 tahun ini, investasi anda tidak tumbuh banyak… karena di tahun 78, harga emas sekitar 800 dollar. Ini artinya selama 30 tahun, investasi anda cuma bertambah sekitar 12%, alias sekitar 0,4% pertahun saja. Lagi-lagi jika selama 30 tahun tersebut uang anda ditabung saja, hasilnya akan lebih besar daripada itu…..

      Jadi mengapa banyak yg mengatakan ‘beli tanah/emas tidak mungkin rugi’?

      Saya amati banyak orang yg agak rancu dalam menyatakan ‘tidak mungkin rugi’. Misalkan saja seseorang membeli tanah 2 tahun lalu dengan harga 100 juta, dan kini harganya tetap 100 juta. Maka mereka mengatakan tidak rugi. Padahal jika 2 tahun lalu uang itu dimasukkan tabungan saja, nilainya kini sudah menjadi lebih dari 100 juta, alias orang tersebut telah rugi.

      Tetapi saya yakin mas Waspada tidak terjebak kerancuan ini. Oh ya, thanks atas ‘buka-bukaan’-nya.

  22. San

    @waspada
    invest emas: liat angka pergerakan harga emas harian kayaknya ga slalu naik kayaknya bro! Ini artinya invest diemas ada bearnya juga. Anda bisa cuan skrg karena emang lg demam emas buat hedging, buat invest, buat cadangan atau apapun. Tapi suatu saat ada titik jenuh juga kok!
    Invest tanah:
    makin mahal krn makin tbatas. Terbatas karena pertumbuhan penduduk, pkembangan industri dll. Kalo KB,transmigran dan desentralisasi ekonomi makin berkembang baik, kayaknya juragan2 tanah bisa alih profesi deh!
    Invest disavings anda:
    Kalo anda yakin invest diemas dan tanah bagus cuannya, kenapa ada yg disavings? Biar saya bantu jawab, untuk menutupi kekurangan investasi emas dan tanah, yaitu kurang likuid.
    Jadi kayaknya investasi dimanapun oke2 aja, satu sama lain ada plus minusnya. Tinggal gimana memporsikan sehingga plus yg satu bisa menutupi minus yg lain dan tentunya sesuai dgn kemampuan tingkat seseorg menerima resikonya.
    Happy investing!

  23. Waspada

    Anda semua yang menanggapi sedikit pengalaman yang saya ceritakan pada prinsipnya betul sekali alias saling melengkapi prinsip seseorang untuk berinvestasi.
    Jadi oleh karena disamping ada keuntungan semua bentuk investasi juga ada kekurangannya (maaf saya katakan bukan kerugian), misalnya untuk kondisi urgen tanah dianggap kurang likuid, emas dalam jangka pendek (harian/mingguan/bulanan) ada turun naiknya dsb sesuai kenyataannya itu tidak salah.
    Cuma bagi yang ingin bisa sedikit tidur nyenyak dalam jangka panjang jika terjadi berbagai krisis berat di bidang moneter karena inflasi, deflasi, rontoknya harga saham, kriminal keuangan skala besar atau krisis politik karena ketidakpercayaan terhadap penguasa, anomali pergantian kekuasaan dan bahkan peperangan sekalipun, maka kedua bentuk investasi di atas sejujurnya tetap handal baik nilainya maupun keberadaannya. Tapi sekali lagi berinvestasi adalah salah satu hak azasi kita sebagai warga negara di bidang ekonomi yang dilindungi oleh peraturan dan etika hidup. Jadi anda bebas berinvestasi di mana saja dan dalam bentuk apapun. Yang jelas setiap bentuk investasi memiliki tingkat resiko dan keuntungan yang berbeda-beda baik jangka pendek maupun jangka panjang. Ada yang jangka pendeknya beresiko besar tapi jangka panjangnya kecil dan sebaliknya. Yang jelas kayaknya hampir tidak ada yang tidak beresiko. Soal mana yang lebih menguntungkan jelas sangat tergantung dari standar investasi yang anda terapkan, karena bisa saja ada yang mengatakan peningkatan nilai investasi sebesar 100% masih tetap dianggap kecil dan sebaliknya, bukan. Trims buat semua kritikan membangunnya.

  24. Waspada

    Ngomong-ngomong saya juga mau nanya nih pendapat anda sekalian, dalam konteks kerugian reksadana bodong di atas, yang berada di posisi salah sebenarnya siapa ya, bank yang menjual, atau nasabah yang beli reksadana ?

    • @Waspada

      Kalau saya pribadi, menilai, pemerintah salah, bank juga salah, nasabah juga ada ‘salah’🙂 Porsinya beda-beda tentunya. Tetapi pada akhirnya, jika kejadian spt ini sudah terjadi, saling tuding menuding siapa yang lebih salah tentunya tidak berguna… Yang lebih baik adalah kita semua belajar dari kejadian spt ini…

  25. toto_lutu

    Agak diurai dikit aja..
    Banknya salah karena gak punya izin tapi kok jualan. Di sini ada unsur penipuan terlebih bila mereka mengaku punya izin dan tidak memberikan informasi yg benar dan lengkap.
    Pemerintah (dan perangkat regulatornya) salah karena tidak ketat dalam pengawasan dan pengontrolan serta lamban dalam bertindak. Bahkan ‘katanya’ BI dan BAPEPAM & LK sudah tahu sejak setahun yg lalu.
    Masyarakat (yg tertipu) salah karena menyerahkan akal sehatnya dikalahkan keserakahan dan malas mencari informasi.

  26. Waspada

    Terlepas dari siapa yang salah, apa bank yang menjual, apa pemerintah sebagai pengawas moneter, apa nasabah yang beli ReBo = Reksadana Bodong… menurut anda dengan sistem dan kondisi perbankan yang ada sekarang saat kejadian, berapa besar peluang uang nasabah bisa kembali ?

    Kasihan ya, ada yang kerugiannya sampai puluhan milyar.

    Saya aja nih kayaknya ampe pensiun belum tentu ketemu uang segede gajah gitu.

  27. Waspada

    Berita baru nih, kenaikan harga emas per 31 Januari 2009 telah memberi kan keuntungan lagi buat saya Rp 70.000,- per gram. Wah !!! Rejeki nomplok nih ! Invest terus !!!

  28. slams

    teman-teman, ada yg bisa njelasin awal mula kasus bank century ni??
    q da tugas ni presentasi mengenai masalah bank century. padahal ni mata kuliah manajemen keuangan tp kq malah dsuruh membahas gituan. q bingung banget nih… ada yang bisa bantuin gk y???
    kirimin artikel lewat email aja y…
    slams_pbb_stan@plasa.com
    thanx bwt yg mw bantuin…

  29. wong_deso

    Saya Mempunyai uang 100 Jt. menurut anda investasi apa yg cocok atau aman menurut saudara. yg Bisa membawa keutungan di hari tua saya? Reksa dana,saham,obligasikah. apa investasi bebertuk barang bergerak atau tidak bergerak. terima kasih”

  30. Namanya juga sumbang saran kepake syukur enggak juga gak apa-2 lho ya.

    Berdasarkan pengalaman saya, maka :

    Jika Wong pilih yang aman, berkembang pesat serta dimaksudkan untuk disimpan dalam waktu yang lama ya beli tanah yang jelas suratnya di tempat strategis atau bakal berkembang (tanya perencanaan tata kota di kecamatan)

    Jika Wong pilih yang cepat berkembang, gampang dicairkan ya beli emas murni batangan (24 karat)

    Jika Wong pilih yang gampang naik dan turun keuntungannya ya beli saham perusahaan yang bonafid.

    Jika Wong pilih yang aman dan stabil harganya ya beli obligasi.

    Jika wong berani pilih untung besar walau beresiko tinggi ya reksadana bodong.

  31. Yang terbaik adalah kombinasi poin-2 saran di atas dengan perbandingan yang untung biasa tapi aman lebih besar jumlahnya daripada yang untung kecil atau besar tapi beresiko.

  32. Pingback: White Collar Crime & Banking Crime Bank Century; Mengulang Kisah Sukses Kasus BLBI « Kalimasada Perjalanan Pulang

  33. Pingback: Public Blog Kompasiana» Blog Archive » White Collar Crime & Banking Crime Bank Century; Mengulang Kisah Sukses Kasus BLBI

  34. Some hyips are great paying program. I can’t say anything bad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s