Ada Apa dengan Saham Perbankan?

Senin lalu, di kafetaria Kantor Redaksi Harian Jangan Serakah, saya dan Mister Ben sedang makan siang bersama. Sambil menunggu makanan kami diantarkan, kami berdua pun ngobrol-ngobrol sebentar.

Mister Ben: Bagaimana dengan investasi kamu di Indonesia, son? Ada hal yang menarik akhir-akhir ini?
Edison: Kalau investasi sih tidak ada yang menarik, mister. Kan cuma sekedar menjalankan Dollar Cost Averaging. Tapi kalau di bagian spekulasi sih ada.
Mister Ben: Oh ya? Memangnya ada apa dengan Spekulasi kamu?
Edison: Dua bulan lalu saya membeli saham bank X. Tetapi minggu lalu saya ‘terpaksa’ jual saham tersebut minggu lalu.
Mister Ben: Loh? Memangnya kamu dipaksa siapa?
Edison: Dipaksa Mister Market…
Mister Ben:
Loh kok begitu?
Edison: Ceritanya begini nih, mister…………

—–oOo—–

Dua bulan lalu, saya melakukan transaksi dengan uang spekulasi saya yang kebetulan sedang ‘nganggur’. Setelah melirik kiri-kanan, saya pun akhirnya memutuskan untuk membeli saham Bank XYZ (salah satu bank utama di Indonesia). Mengapa demikian? Di satu sisi, saya menganggap bahwa bank XYZ tersebut mempunyai ‘economic moat’ yang baik. Di lain sisi, saya merasa bahwa prospek perbankan Indonesia untuk 1-2 tahun ke depan agak suram…

Lho? Suram kok malah dibeli?

Ini karena salah satu metode spekulasi favorit saya adalah dengan pelan-pelan mengkoleksi saham-saham bluechip di saat saham-saham tersebut sedang ‘suram’. Harapan saya adalah untuk ‘menimbun’ saham Bank XYZ tersebut, dalam 1-2 tahun ini dimana sektor perbankan Indonesia sepertinya akan menghadapi masa-masa yang sulit.

Beberapa teman pembaca mungkin masih ingat dengan artikel ‘Meneropong 2009: Ancaman Kredit Konsumen’ yang saya tulis. Dalam artikel tersebut saya mengatakan bahwa saya agak mengkhawatirkan kalau akan terjadi lonjakan kredit macet karena selama beberapa tahun terakhir, bank-bank dan berbagai institusi keuangan begitu gencar memberikan kredit konsumsi ke masyarakat. Resiko ini semakin besar karena berdasarkan pengamatan saya, pemberian kredit konsumsi tersebut pun umumnya tanpa melalui seleksi yang ketat.

Kekhawatiran saya di atas, sedikit banyak mulai terbukti. Baru-baru ini saya membaca kalau  dari data di lapangan, mulai terjadi lonjakan hutang macet di berbagai tipe kredit konsumsi, mulai dari kartu kredit hingga ke KPR. Ini tentunya akan menjadi beban bagi sektor perbankan.

Kondisi ini diperparah dengan pertumbuhan kredit yang melambat. Dengan kondisi sekarang ini, Bank-bank sangat berhati-hati dalam memberikan pinjaman. Pertumbuhan kredit di 3 bulan pertama tahun ini, merosot jauh dibandingkan dengan di tahun 2008. Padahal seperti kita tahu, sumber pendapatan utama Bank justru adalah dari pemberian kredit/pinjaman. Pertumbuhan kredit yang merosot tentu akan mempengaruhi pertumbuhan pendapatan Bank.

Dengan melihat berbagai faktor di atas, berdasarkan perkiraan saya seharusnya performa perbankan dalam 1-2 tahun ke depan tidak akan terlalu ‘mengkilap’. Tetapi anehnya, justru dengan kondisi seperti ini, saham-saham perbankan secara umum akhir-akhir ini mengalami kenaikan yang lumayan.

Saham XYZ yang saya beli 2 bulan lalu, bukannya bergerak turun, malah naik hampir 30%. Rencana saya untuk pelan-pelan ‘menimbun’ saham tersebut pun batal. Karena saya tidak memahami apa alasan penyebab kenaikannya, dan saya merasa ‘tidak nyaman’ dengan situasi ini, saya pun kehilangan ‘minat’ untuk menimbun saham XYZ tersebut dan ‘terpaksa’ keluar…..

—–oOo—–

Edison: Jadi begitu ceritanya mister… Saya dipaksa keluar oleh mister Market (alias pasar). Soalnya saya nggak tahu apa yang ada di pikiran si mister Market.
Mister Ben: Rupanya begitu toh.. Lalu? Kamu apa tidak takut kalau ternyata sahamnya semakin naik setelah kamu jual? Nanti kamu menyesal, karena  untung kamu bisa lebih besar lagi…
Edison: Tidak kok, mister. Namanya juga spekulasi.. Untung 30% dalam 2 bulan sudah cukup utk saya. Toh jika sektor perbankan terus  naik, saya juga bisa menikmati dari porsi Investasi saya yang memakai metode Dollar Cost Averaging…. Tapi bagaimana pendapat mister Ben tentang sektor perbankan ini? Saya benar atau salah ya?

Sayangnya, belum sempat mister Ben menjawab, obrolan kami  terputus di sana karena Soto Betawi yang kami pesan sudah datang. Tetapi dalam hati, saya tetap penasaran… apa ya kira-kira pendapat mister Ben?

…..

Ada orang lain yang juga bingung dengan mister Market seperti saya?

21 Comments

Filed under Spekulasi

21 responses to “Ada Apa dengan Saham Perbankan?

  1. Jadi mikir.. ada nggak ya yg bisa menebak bank XYZ itu bank apa….. hahaha

    Alina, Konobe dan Adit (putrie_kmps) tidak masuk hitungan, karena sudah saya ceritain🙂

  2. alinaprimasari

    Pengalaman spekulasinya diceritakan di sini.
    Tapi bagus juga bung, sahamnya kan sekarang jadi turun. Sepertinya kemarin hanya kenaikan sesaat ikut imbas kenaikan saham lain akibat hasil pemilu yang sudah terjadi. Jadi tidak mencerminkan kinerja real perbankan tersebut.

    *disclaimer : ini hanya analisa saya jangan jadi acuan bagi yang berinvestasi di saham ya

  3. konobe

    Saya binguungg… dari kemaren terkaget-kaget waktu liat saham Group Bakr**. Wih, ga reasonable banget naeknya. Pernah dalam satu hari naik 20% lebih. OMG!!! Siapa yang ga ngeri coba ya… Sampe akhirnya kasak-kusuk cari info. Berhubung emang niatan jangka panjang, dan ga minat buat jual-beli (males ngurusinnya :P) akhirnya coba bertekad baja deh.. tutup mata sama kondisi market sambil berkata: “cuma satu, cuma satu” ^^;
    Tapi kayanya skarang dah mulai balik normal lagi tu.. mau top up DCA ah…

  4. kalau saya akan merasa senang, karena bisa untung lebih cepat dari yang diharapkan.

  5. Edison: Jadi begitu ceritanya mister… Saya dipaksa keluar oleh mister Market (alias pasar). Soalnya saya nggak tahu apa yang ada di pikiran si mister Market.

    oh jadi kita bisa sesekali nebak ya pikiran Mr. Market ya bro?

    • Baru sadar kalau yg saya tuliskan itu bisa diartikan spt itu🙂 Padahal sebenarnya inti tulisan saya hanyalah bahwa saya nggak mengerti alasan perbankan rally akhir-akhir ini🙂

  6. ibo0y

    setubuh eh setuju mas edison,
    saya jg kdg bingung sama berita2 di media dan analisa2 prshaan sekuritas yg ky ‘manas-manasin’ mr.market gtu..

    kmrn jg smpet spekulasi di saham bank WXY, bru 2minggu dpt profit 100jt, tp sygnya cuma di idx virtual trading, 🙂

  7. Kan katanya mister market itu macam orang gila yang suka2 dia mau pergi kemana (atas atau bawah). Kadang2 ketok pintu rumah bilang.. besok naik dan besoknya lagi bilang turun..

    Asik juga tuh caranya.. berharap harga turun untuk dikolek eh.. malah naik trus kabur deh.. gondol 30%.

    masih untung ga diteriakin rampok hehehehe..

  8. Blazy DK

    sy tau loh,xixixix
    kan udah diceritain dcafe batavia🙂

  9. made dwi

    mau tanya pada bung edison niy.. metode dollar cost average maksudnya apa ya??

    • Dollar Cost Averaging adalah metode investasi dimana kita melakukan investasi secara rutin (bisa sebulan sekali, dua bulan sekali atau tiga bulan sekali), di mana nilai uang yg kita investasikan itu tidak berubah, misalnya Rp 500 ribu setiap bulan.

      Dengan metode ini, di waktu harga saham sedang tinggi (mahal), otomatis kita hanya akan membeli sedikit saham (karena uang kita hanya cukup untuk membeli sedikit saham). Sebaliknya ketika harga saham sedang rendah (murah), otomatis kita akan membeli banyak saham.

      Dengan cara ini, dalam jangka panjang, kita akan terhindar dari kesalahan terbesar dalam investasi: “Membeli di waktu puncak”

  10. adit

    Saham Perbankan

    Tidak logis ditengah naiknya persentase Non Performing Loan, tiba-tiba saham perbankan melejit. Hanya ada 2 alasan :
    1. Saham bank memang terlalu murah sehingga investor memburu saham-saham tersebut
    2. Spekulasi biasa, krn asumsi bank-bank akan mempersolek laporan keuangan triwulan I, sehingga indikator kinerja bank akan dipercantik.

    Lihat saja nanti bulan Mei 2009, saham bank akan mulai tertekan.

  11. postingan kayak gini yang bikin saya pengen kembali ke dunia bisnis non-real… kayaknya saya tahu bank XYZ itu apa, tapi motif nya no comment deh… maklum masih noobie😀

  12. antialias

    Kenapa nggak disebut Bank ABC aja om Edison …. hehehe?

    • putrie_kmps

      Terlalu kentara bung.

      Btw, kinerja perbankan Indonesia di Q1 2009 ini terbilang bagus, dilihat dari laba Q1 2009 yang naik dibandingkan laba Q1 2008. Hal ini membuat saham-saham perbankan melanjutkan kenaikan setelah sempat beberapa hari koreksi. Perbankan Indonesia terbukti lebih tahan krisis dibandingkan perbankan US nih. Apakah efek dari NPL baru akan ‘terasa’ di Q2 2009 ya? Mudah-mudahan pihak perbankan bisa menemukan solusi yang pas untuk permasalahan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s