Tag Archives: Ekonomi

E-mail Heboh Mengenai Krisis Ekonomi (part 3)

Melanjutkan pembahasan kemarin, hari ini kita akan kembali membedah e-mail Rina Sutarto mengenai Krisis Ekonomi dan juga opini Imam Semar terhadap e-mail tersebut. Sama seperti part 2, e-mail Rina akan saya tampilkan dalam warna biru, opini Imam Semar dalam warna merah, dan pendapat saya akan ditulis dalam warna hitam. Continue reading

9 Comments

Filed under Pembahasan kondisi Ekonomi Makro

E-mail Heboh Mengenai Krisis Ekonomi (part 2)

Hari ini saya akan melanjutkan pembahasan mengenai e-mail Rina Sutarto tentang krisis ekonomi. Yang menariknya, seorang pembaca blog menginformasikan kepada saya bahwa ternyata e-mail tersebut baru-baru ini sudah pernah dibahas di blog Imam Semar. Oleh karena itu, berbeda dengan rencana awal saya yang cuma sekedar akan membahas pandangan Rina Sutarto, saya pikir akan ada baiknya saya membandingkan juga pandangan saya dengan pandangan Imam Semar. 

Agar memudahkan pembaca mengikuti artikel ini, saya akan menggunakan warna untuk membedakan antara opini Rina, Imam Semar dan saya. Opini Rina akan dituliskan dalam warna biru, opini Imam Semar (jika ada) akan dituliskan dalam warna merah, dan opini saya akan dituliskan dalam warna hitam. Pembahasannya juga mungkin tidak akan berurut seperti di dalam e-mail dan ada beberapa bagian yang saya satukan karena tulisannya erat kaitannya. Continue reading

16 Comments

Filed under Pembahasan kondisi Ekonomi Makro

E-mail Heboh mengenai Krisis Ekonomi

Sebenarnya untuk posting hari ini, rencananya saya ingin melanjutkan cerita saya mengenai kisah GM, Ford dan Chrysler. Tetapi setelah memeriksa inbox e-mail saya, saya pikir mungkin ada baiknya topik tersebut saya tunda dulu dan membahas sebuah forward e-mail yang saya terima. Apa isi e-mail tersebut? Secara garis besar, e-mail tersebut berisikan pandangan mengenai Krisis Ekonomi. Selain itu, penulis asli e-mail tersebut, yang nampaknya bernama Rina Sutarto, juga memberikan beberapa saran pribadinya mengenai beberapa hal yang terkait dengan kondisi ekonomi saat ini.

Mengapa saya lalu tertarik untuk membahas e-mail ini?

Alasan pertama adalah tentu saja karena materi bahasannya yang bisa dikatakan erat kaitannya dengan topik yang sering saya bicarakan di blog ini. Selain itu,  tampaknya e-mail tersebut beredar cukup luas dan terus menerus ‘diedarkan’ kembali oleh orang yang menerimanya. Per hari ini, sudah lebih dari 10 kali saya menerima forward e-mail tersebut dari para pembaca blog yang lalu meminta pandangan saya mengenai e-mail tersebut. Continue reading

13 Comments

Filed under Pembahasan kondisi Ekonomi Makro

GM, Ford, Chrysler : Om, Kasihan Om… Belum Makan….. (Part 1)

Om… Kasihan Om… Belum Makan Om….

Saya rasa teman-teman yang tinggal di Jakarta mungkin sudah tidak asing lagi dengan kalimat di atas. Di restoran, lampu merah, ataupun ruang publik lainnya, kalimat ini (dan berbagai variasinya) menjadi ‘salam‘ dari kaum papa di negara kita.

‘Salam’ kaum papa ini sendiri terkadang bisa menimbulkan reaksi yang beragam. Bagi sebagian orang, ‘salam’ tersebut menimbulkan rasa simpati, tetapi bagi sebagian orang lannya, hal yang sama bisa menimbulkan rasa sebal, Biasanya rasa sebal ini akan muncul kalau kalimat tersebut keluar dari mulut seseorang yang kita rasakan tidak pantas meminta-minta, misalnya saja anak muda yang masih sehat dan masih mampu merokok pula.

2 hari terakhir ini, ‘salam’ yang kita bicarakan di atas juga ramai terdengar di Capitol Hill (semacam kompleks DPR USA). Yang menariknya, orang-orang yang mengucapkan ‘salam’ tersebut berbaju jas rapi, dan datang ‘mengemis‘ ke Capitol Hill dengan naik pesawat jet pribadi. Continue reading

7 Comments

Filed under Saya suka cerita Ekonomi

Apa itu Resesi?

Akhir-akhir ini ada kata yang mendadak populer…RESESI. Kata ini kini menjadi bahan pembicaraan berbagai orang, dari menteri hingga pedagang kaki lima. Dalam kondisi saat ini, memang bayangan resesi semakin nyata dan nampaknya sulit bagi perekonomian dunia untuk lari dari kenyataan ini.

Meskipun demikian, di tengah ‘populernya‘ kata Resesi ini, apakah anda tahu sebenarnya apa itu Resesi? Ketika seorang anak buah saya menyinggung soal resesi, saya lalu bertanya kepadanya Apakah kamu tahu resesi itu sebenarnya apa?‘, anak buah saya tersebut berpikir beberapa lama sebelum akhirnya menjawab ‘errr… pokoknya resesi itu artinya ekonomi jelek‘…

Mudah-mudahan setelah membaca artikel ini, anda akan bisa memberikan jawaban yang lebih baik daripada jawaban anak buah saya itu. Continue reading

13 Comments

Filed under Saya suka cerita Ekonomi

Apakah Badai Ekonomi Sudah Berlalu?

Pertanyaan di atas mungkin adalah salah satu pertanyaan yang paling populer ditanyakan akhir-akhir ini.

Sebagian orang menjawab pertanyaan tersebut dengan optimisme. Optimisme mereka umumnya didasarkan pada logika bahwa jika melihat situasi saat ini, di mana berita buruk bermunculan di berbagai belahan dunia, sulit rasanya untuk membayangkan bahwa kondisi bisa menjadi lebih jelek lagi. Bagi sebagian orang lainnya, pertanyaan di atas mengundang jawaban pesimis. Mereka belum melihat hal berarti yang bisa menimbulkan perbaikan di kondisi ekonomi dalam jangka waktu dekat ini.

Kira-kira kubu mana yang lebih ‘tepat’? Continue reading

16 Comments

Filed under Pembahasan kondisi Ekonomi Makro, Perencanaan Keuangan

B.B: Kenaikan Nilai Penjaminan Simpanan

Mungkin sebagian besar teman-teman telah tahu bahwa dana simpanan kita di bank (dalam bentuk tabungan & deposito) dijamin keamanannya oleh pemerintah melalui program penjaminan simpanan yang dikelola oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

Dengan adanya program ini, seandainya sebuah bank peserta program penjaminan simpanan bank ‘tumbang’, para nasabah bank tersebut tidak perlu khawatir karena simpanannya ‘digaransi’ oleh LPS, selama simpanan mereka memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Salah satu persyaratan tersebut adalah bahwa jumlah simpanan tersebut adalah maksimum Rp 100 juta. (Syarat utama lainnya adalah bunga simpanannya tidak boleh di atas bunga ‘wajar’ yang ditentukan oleh LPS, dan bisa dilihat di situs LPS)

Hari ini, pemerintah melakukan kenaikan nilai penjaminan simpanan LPS tersebut dari nilai Rp 100 juta menjadi Rp 2 Milyar. Saya melihat ada beberapa hal yang menarik untuk diperbincangkan seputar kenaikan nilai penjaminan simpanan tersebut. Continue reading

19 Comments

Filed under B.B (Berita Besar)

Krisis Kredit Amerika, Kisah Kegagalan Sektor Finansial (4)

(sambungan dari part 3)

Ketika saya menulis part 3 artikel seri ini, korban terakhir dari krisis Finansial adalah perusahaan finansial Bear Sterns. Waktu itu saya lalu berniat untuk menulis part 4 ini setelah ada perkembangan lebih lanjut yang sangat signifikan. Ternyata hanya dalam dua bulan sejak part 3 saya tulis, semakin banyak nama-nama besar di dunia finansial yang bertumbangan. Walaupun begitu, saya masih belum terlalu terpikir untuk melanjutkan artikel seri ini, karena beritanya masih relatif sama, yaitu perusahaan finansial tumbang.

Meskipun demikian, dalam satu minggu terakhir, saya membaca beberapa berita ‘seram‘ yang membuat saya berpikir ‘Mungkin sudah saatnya saya meneruskan cerita tentang krisis kredit‘. Meskipun demikian, mungkin kini judul yang tepat bukanlah ‘Krisis Kredit Amerika’ lagi, melainkan Krisis Kredit Global’.

—–oOo—–

Berita ‘seram’ pertama yang mungkin terlewatkan dari ‘radar’ kebanyakan orang adalah berita mengenai keadaan di 2 negara bagian Amerika, yaitu Massachusetts dan California. Pengaruh krisis kredit telah begitu meluas dan dampaknya pun terasa ke sektor pemerintahan. Kedua negara bagian tersebut kini mengalami kesulitan keuangan untuk membayar berbagai pengeluaran rutinnya (spt gaji guru, polisi, pemadam kebakaran, dll).

Gubernur California, Arnold Schwarzenegger, beberapa hari lalu menulis surat kepada Departemen Keuangan USA bahwa negara bagiannya mungkin membutuhkan pinjaman lunak darurat sebesar kira-kira US$7 Milyar. Tidak lama kemudian, Bendahara negara bagian Massachusetts pun menyatakan kemungkinan membutuhkan pinjaman lunak untuk menutupi defisit anggarannya.

Dalam kondisi normal, negara bagian USA yang membutuhkan dana bisa dengan mudah mendapatkan dana tersebut dengan menerbitkan obligasi sendiri, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tetapi dalam krisis kredit saat ini, ‘jalan’ ini bisa dikatakan tertutup. Mengapa demikian? Ini karena setelah tumbangnya berbagai lembaga finansial, berbagai perusahaan finansial yang tersisa mengalami ‘trauma’ untuk meminjamkan uang kepada pihak lain. Uang yang mereka miliki akan mereka ‘pegang erat-erat’ untuk berjaga-jaga.

Sebagai ilustrasi, kondisi ini mungkin bisa kita ibaratkan seandainya kita adalah pemilik toko sembako dan lalu terjadi kelaparan yang sangat parah yang entah kapan akan berakhir. Dalam kondisi ini, seandainya kita mengalami kesulitan mendapatkan pasokan sembako, kita mungkin akan enggan untuk menjual barang dagangan kita dan memilih menyimpannya utk konsumsi keluarga kita sendiri. Singkatnya, kondisi saat ini bisa dikatakan dalam bahasa gaul ‘Elu elu, Gue gue, jaga diri masing-masing‘.

Sulitnya mendapatkan dana dari sektor finansial memaksa para gubernur negara bagian tersebut kini berpaling kepada pemerintah pusat untuk meminta bantuan. Meskipun demikian, belum ada kabar bagaimana jawaban pemerintah pusat terhadap permohonan bantuan pinjaman ini.

Lalu apa yang akan terjadi seandainya bantuan pinjaman ini tidak diberikan ketika para negara bagian itu membutuhkannya? Tentunya negara-negara bagian tersebut tidak bisa membayar para pegawainya (polisi, guru, dll). Proyek-proyek pembangunan akan dikurangi sebagian. Ini semua akan berpengaruh negatif kepada ekonomi yang saat ini sudah ditimpa berbagai masalah lain.

Saya sendiri merasa bahwa perkembangan dari berita ini akan menarik untuk diikuti, terlebih setelah disetujuinya program Bailout terhadap sektor finansial. Jika sektor finansial bisa mendapatkan pertolongan bailout sedangkan negara bagian tidak, bisa diperkirakan akan timbul reaksi yang keras dari masyarakat Amerika. Tetapi jika satu negara bagian diberikan pertolongan, maka ada kemungkinan negara bagian lain juga akan ‘antri’ meminta bantuan dari Depkeu. Ini akan semakin menambah besar beban pemerintah pusat yang sudah harus mengeluarkan uang banyak untuk program Bailout.

—–oOo—–

Berita ‘seram‘ lainnya yang membuat saya merasa harus menulis artikel ini terkait dengan satu negara kecil di Eropa, yaitu Islandia. Perdana Menteri Islandia, dalam satu keterangan pers mengucapkan suatu kalimat yang menimbulkan kehebohan, ‘Islandia terancam bangkrut nasional‘.

Penyebab timbulnya komentar yang mengagetkan ini tidak lain lagi-lagi adalah krisis kredit.

Sama seperti negara lainnya, krisis kredit juga menimpa bank-bank di Islandia. Selama masa booming beberapa tahun terakhir, berbagai bank di Islandia melakukan ekspansi besar-besaran. Begitu hebatnya ekspansi ini, hingga kini hutang di sektor perbankan negara itu mencapai US$100 Milyar, jauh di atas Produk Domestik Bruto Nasionalnya yang cuma US$14 Milyar.

Ketika krisis kredit mulai menyebar, bank-bank tersebut pun mulai sulit mendapatkan pinjaman. Pemerintah Islandia pun mengalami kesulitan yang besar untuk menolong bank-bank tersebut karena ukurannya yang terlalu besar dibandingkan dengan negaranya. Bantuan dari luar negeri pun sulit diharapkan karena negara-negara lain juga sedang sibuk memerangi krisis kredit di negara masing-masing.

Kesulitan yang dialami oleh Islandia ini semakin menumpuk karena mata uangnya sudah melemah hingga 40% dalam tahun ini saja. Akibatnya beban hutang yang mereka tanggung semakin besar. Melemahnya mata uang Islandia ini juga mengancam kondisi perekonomian mereka yang sangat tergantung kepada import, karena menimbulkan inflasi tinggi akibat semakin mahalnya barang import. Berita terakhir menyatakan bahwa inflasi di negara ini telah mencapai 14%.

—–oOo—–

2 tahun yang lalu, saya beruntung menemukan sebuah artikel yang membuat saya tersadar akan bahaya bubble properti di Amerika. Tidak lama setelah itu, saya kembali beruntung menemukan sebuah artikel yang menulis tentang betapa berbahayanya bubble di pasar instrumen derivatif seperti CDO, CDS, dll. Oleh karena itu ketika bubble ini akhirnya pecah, saya tidak kaget sama sekali karena memang sudah saya antisipasi sejak lama.  Meskipun demikian, tidak pernah sekalipun saya terpikir bahwa krisis kredit saat ini akan sampai bisa menggoyang sebuah negara bagian ataupun negara (sekalipun negara kecil seperti Islandia).

Dengan perkembangan terakhir ini, saya pikir ada baiknya saya kembali mengulangi ‘wanti-wanti’ saya kepada para pembaca blog ini.

Seperti kita ketahui, saat ini mulai terjadi persaingan antar bank untuk memberikan ‘bunga’ yang tinggi untuk deposito, di atas bunga yang dijamin oleh program LPS bahkan di atas bunga dari Obligasi ORI. Tentunya kita perlu mempertanyakan alasan mengapa bank-bank tersebut melakukan hal seperti ini. Umumnya, penyebab utamanya adalah bank-bank tersebut mengalami kesulitan menghimpun dana dari masyarakat dan ada kemungkinan keadaan keuangannya agak ‘ketat’.

Jika bank-bank tersebut mengalami ‘masalah’, tentunya akan beresiko terhadap nasib uang yang kita tempatkan di bank itu, karena sudah tidak termasuk program penjaminan LPS. Pertimbangkan masak-masak sebelum teman-teman menempatkan uang di sana. Ingatlah bahwa tabungan dan deposito bukanlah tempat mencari hasil yang tinggi. Ingatlah bahwa fungsi utama dari instrumen tabungan dan deposito adalah keamanan dan likuiditas. Jangan sampai karena tergiur bunga lebih tinggi 1%-2% (per tahun),  akhirnya menyesal karena timbul masalah yang tidak diinginkan.

42 Comments

Filed under Saya suka cerita Ekonomi

Guest Blogger: US 2008 Bailout – The “Right Kind of Wrong”?

PREFACE: Rencana Bailout USA yang sedang marak dibicarakan akhir-akhir ini memang mengundang banyak pro-kontra dari berbagai pihak. Hampir setiap orang yang ‘hobi’ masalah ekonomi dan finansial akan mempunyai pandangannya sendiri mengenai rencana Bailout ini.

Minggu ini saya menerima satu e-mail dari seorang pembaca blog yang mengungkapkan keinginannya untuk mencoba menulis sebuah artikel pendek untuk blog saya ini. Saya pikir mungkin akan menarik juga bagi para pembaca blog untuk sekali-kali refreshing menikmati ‘suguhan’ buah pikiran orang lain. Di kemudian hari, jika memang ada teman-teman pembaca yang ingin berbagi buah pikirannya di blog ini, bisa diajukan ke email saya di edison@janganserakah.com

Continue reading

6 Comments

Filed under Guest Blogger

Celoteh: Bailout, Lebaran ala Dunia Finansial

WHAT THEY SAID…

Profits are private, but Losses are socialized

Luigi Zingales

—–oOo—–

Sebagai orang Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah umat muslim, mungkin kita semua tahu bahwa Lebaran adalah hari untuk memberi dan meminta maaf. Meskipun saya sendiri bukan seorang muslim, hari raya Lebaran merupakan salah satu hari yang saya tunggu-tunggu.

Mengapa? Continue reading

7 Comments

Filed under Celoteh