Proforma Earning: Sebuah Cerita Cinderella

Siapa yang tidak kenal Cinderella? Boleh dikatakan tidak ada orang yang belum pernah mendengar cerita tentang gadis yang satu ini. Ketika kecil, kita dibuai oleh cerita tentang Cinderella yang penampilannya lusuh dan kumal, dengan satu kibasan tongkat sihir Ibu Peri berubah menjadi seorang putri yang cantik, siap untuk pergi menemui Pangeran di pesta dansa.

Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui bahwa di dunia investasi kita juga bisa menemukan cerita Cinderella. Meskipun demikian, cerita Cinderella di dunia Investasi tidaklah sama seperti yang dipopulerkan oleh Walt Disney. Jika cerita Cinderella versi Walt Disney berakhir dengan bahagia, maka cerita Cinderella versi dunia Investasi ini biasanya justru berakhir dengan tangisan sedih para Investor. Cerita Cinderella versi dunia Investasi ini biasanya dikenal dengan nama Proforma Earning (Laba Proforma)

—–oOo—–

Apa itu Proforma Earning? Secara sederhana, Proforma Earning adalah “Pendapatan perusahaan SEANDAINYA SAJA sesuatu tidak terjadi”. Sebagai contoh, misalnya saja perusahaan X dalam operasi tahun ini mendapat keuntungan Rp 60 Milyar, tetapi salah satu pabrik perusahaan X mengalami masalah sehingga menimbulkan kerugian Rp 100 Milyar. Maka dalam Proforma Earning, bukannya melaporkan bahwa perusahaan rugi  Rp 40 Milyar, perusahaan X malah menyatakan bahwa “Pendapatan kami adalah sebesar  Rp 60 Milyar  SEANDAINYA SAJA tahun ini pabrik kita tidak terkena masalah”.

Praktek penggunaan proforma earning tidaklah berbeda jauh dengan cerita Cinderella. Hanya dengan satu kibasan dari “tongkat sihir”, kondisi perusahaan yang “lusuh dan kumal” menjadi “cantik berkilau”, sehingga perusahaan siap utk pergi untuk “berdansa” dengan calon investor.

Proforma earning pada awalnya digunakan hanya untuk memberikan gambaran kepada investor tentang kondisi perusahaan seandainya jika tidak terjadi hal-hal yang bersifat luar biasa, seperti misalnya ada bencana alam ataupun perusahaan melakukan merger. Seiring dengan berlalunya waktu,  beberapa perusahaan lalu mulai memakai “kreatifitas”-nya dan menyelewengkan penggunaan proforma earning. Sebagai contoh praktek tidak sehat ini, ada perusahaan yang melaporkan proforma earning dengan mengandaikan mereka tidak membayar pajak, atau ada juga yang mengandaikan mereka tidak mengalami kerugian di dalam investasinya. Dalam berbagai profesi, kreatifitas biasanya merupakan suatu kualitas yang baik. Tetapi dalam kaitannya dengan proforma earning, kreatifitas ini justru merupakan suatu momok bagi para investor.

Penggunaan “seandainya” dalam proforma earning kemudian diperparah dengan praktek menyembunyikan  apa yang “diandaikan” itu. Dalam contoh di atas, saya menulis dengan jelas apa yang “diandaikan”, yaitu “seandainya pabrik X tidak bermasalah”. Dalam prakteknya, penjelasan tentang apa yang “diandaikan” itu ditaruh di beberapa catatan kaki yang kebanyakan justru jarang dibaca oleh orang.

—–oOo—–

Penggunaan proforma earning oleh perusahaan mempunyai dampak yang besar bagi seorang investor, misalnya saja dampak pada analisa Price/Earning Ratio (P/E ratio). Bagi pembaca yang belum akrab dengan saham, Price/Earning Ratio adalah rasio yang membandingkan antara harga saham suatu perusahaan dengan labanya. Misalnya harga saham suatu perusahaan adalah 100 dan laba tahun kemarin adalah 5. Maka P/E Ratio perusahaan itu= 100/5= 20. Bagaimana jika laba perusahaan itu adalah 10? Maka P/E Rationya= 100/10= 10. Kita bisa lihat dari ilustrasi di atas bahwa secara umum, semakin kecil P/E Ratio suatu perusahaan semakin atraktif pula sahamnya (dengan harga yang sama, laba sebesar 10 tentu lebih menarik dari laba sebesar 5).

Sekarang kita lihat dampak penggunaan proforma earning pada perusahaan nyata. JUNIPER NETWORKS (NASDAQ:JNPR) pada kwartal pertama thn 2008 melaporkan proforma earning sebesar $0,27, atau jika dianualisasi= $0,27×4= $1,08. Harga saham Juniper pada hari Jum’at kemarin ditutup pada $22,64. Pada tingkat harga ini, maka Price/Earning Ratio dari saham perusahaan ini (berdasarkan proforma earning) adalah 20,96 kali.

Tetapi bagaimana jika kita lihat earning aslinya? Pada kwartal pertama thn 2008 itu, earning sebenarnya dari JUNIPER NETWORKS adalah sebesar $0,20, atau jika kita anualisasi adalah hanya sebesar $0,8. Dengan nilai earning ini, maka P/E Ratio dari saham perusahaan menjadi 28,3. Ini tentunya suatu gambaran yang sangat berbeda dari P/E Ratio berdasarkan proforma earning yang hanya 20,96.

Sebagai Investor dan calon investor, dalam membaca berbagai berita ataupun analisa yang terkait dengan Earning, kita hendaknya selalu memperhatikan apakah Earning yang dibicarakan adalah earning sebenarnya atau proforma earning, terlebih mengingat  seringkali earning yang dibicarakan dalam berita adalah proforma earning.

7 Comments

Filed under Instrumen Investasi

7 responses to “Proforma Earning: Sebuah Cerita Cinderella

  1. Kira2 apalagi yang sudah menjadi trend sebuah creative accounting sejauh ini ya..? kalau kurang jeli bisa2 nyebur nih… Bro.. bagaimana dengan pola pelaporan kalau di indo sendiri apakah sudah menjadi trend..?

  2. Rachmat

    I agree with you that we should ignore the proforma earning, but does that mean as well, we should ignore quarterly report ?

  3. @Aji
    Proforma earning sendiri bukan trend baru. Di buku Intelligent Investor yg ditulis pada tahun 1970 saja sudah ada contoh kasus proforma earning. Sepertinya investor dan calon investor tetap akan selalu ‘dihantui’ proforma earnings di kemudian hari🙂

    @Rachmat
    Well, the one thing that comes to my mind is Graham’s 2 piece of advice: “Don’t take a single year’s earnings seriously” followed by “If you do pay attention to short-term earnings, look out for booby traps in the (per-share) figures”.

    If we’re not supposed to take a single year’s earnings seriously, then it’s probably safe to assume that the same advice applies for a single quarterly report.

  4. reksa

    bung edison,
    dimana kita bisa mendapatkan data EPS untuk saham-saham di BEI?

  5. San

    Bung edison, bisa kasih artikel2 seperti ini yang misalnya bahas ROI dll. maklum masih awam pengen tau lebih banyak aja. thanx

    • hahaha…ini hutang tiada habisnya… rencananya artikel rasio-rasio finansial spt itu baru ditulis setelah artikel seri laporan keuangan selesai🙂

      kalau indonesia banyak hutang luar negeri, saya banyak ‘hutang’ artikel….

      ada yg mau bantu saya melunasi ‘hutang’?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s