Meneropong 2009: Ancaman Kredit Konsumen

Untuk artikel awal tahun ini, saya pikir saya ingin menulis tentang beberapa hal yang saya pikir mungkin akan bisa menjadi isu penting di tahun 2009. Artikel-artikel ini akan saya tuliskan dalam seri “Meneropong 2009”.

—–oOo—–

Dalam bagian pertama artikel seri ini, saya ingin membahas mengenai kredit konsumen di Indonesia. Kredit konsumen, yang kerap dikenal juga sebagai kredit konsumsi, adalah segala pinjaman yang diambil oleh konsumen untuk melakukan keperluan konsumsi. Yang termasuk ke dalam kategori ini misalnya adalah pinjaman kartu kredit, kredit motor, mobil dan lain-lain. Sederhananya? Pinjaman yang tidak dipakai untuk melakukan kegiatan usaha.

Mengapa saya tertarik untuk membahas masalah kredit konsumen? Jawabannya bisa ditemukan di Korea Selatan di tahun 2003.

Dalam krisis ekonomi asia di akhir dekade 1990an, sektor perbankan di Korea Selatan banyak mengalami kerugian akibat kredit macet ke dunia usaha. Pemerintah Korea Selatan pun lalu menekan sektor perbankan agar tidak memberikan kredit ke perusahaan yang tidak terlalu stabil ataupun meragukan. Kehilangan ‘ladang pencaharian‘ ini lalu membuat sektor perbankan Korea Selatan menoleh ke ‘ladang‘ yang lain, kredit konsumen, terutama kartu kredit.

Longgarnya regulasi di sektor ini membuat industri kartu kredit Korea Selatan lalu melaju pesat. Kartu kredit ditawarkan dengan mudahnya kepada berbagai orang, bahkan juga pelajar tanpa ada kontrol dan seleksi kredit yang ketat. Hasilnya? Di tahun 2003, jumlah kartu kredit yang beredar di Korea Selatan mencapai 148 juta lembar.Padahal, jumlah penduduknya hanyalah 49 juta orang. Ini artinya, setiap orang, dari bayi, anak kecil hingga manula, rata-rata mempunyai 3 kartu kredit (tentunya ini sekedar penyederhanaan, krn bayi tidak bisa memegang kartu kredit)

Tiadanya kontrol yang ketat dalam pengucuran kredit konsumen ini, membuat sektor perbankan Korea Selatan akhirnya kembali terjerat kredit macet. Kredit konsumen yang macet di Korea Selatan saat itu mencapai 28%, sehingga sektor perbankan pun kembali ambruk dan kembali menyeret perekonomian Korea Selatan ke dalam krisis.

—–oOo—–

Baru-baru ini, saya membaca artikel yang menulis tentang adanya kemungkinan cerita di atas terulang kembali di negara lain. Turki, misalnya. Nilai hutang kartu kredit di negara itu mencapai 18 Milyar Dollar, naik 600% dibandingkan 5 tahun lalu. Ini juga diakibatkan oleh mudahnya memperoleh kartu kredit di sana. Akibatnya? Kredit macet pun melambung sehingga akhirnya pemerintah Turki turun tangan memperketat aturan pemasaran kartu kredit.

Beberapa artikel yang saya baca juga menyinggung tentang potensi terjadinya hal yang sama di Cina. Di tahun 2008, jumlah kartu kredit yang beredar mencapai 105 juta lembar, bertambah hampir 100% dibandingkan tahun sebelumnya. Padahal pada pertengahan tahun 2003, jumlah kartu kredit di Cina diberitakan hanya sebanyak 3 (tiga) juta lembar.

Bagaimana dengan Indonesia? Seperti yang kita semua tahu, sekarang ini begitu mudah untuk memperoleh kartu kredit di Indonesia. Mungkin kita semua sudah tidak asing lagi dengan kalimat ‘kartu kreditnya pak/mas/om/kak/dik, cuma perlu KTP saja‘.

Akibat mudahnya memperoleh kartu kredit, diberitakan bahwa per bulan Oktober 2008, jumlah kartu kredit yang beredar di Indonesia mencapai 11,23 juta, dan pertumbuhannya mencapai 205.000 lembar setiap bulannya. Gampangnya memperoleh kartu kredit ini pun lalu menimbulkan efek yang bisa diduga. Kredit macet di kartu kredit saat ini  ‘kabarnya‘ berkisar di angka 10% (ini angka ‘resminya‘).

Kredit konsumen tentunya tidak terbatas kepada kartu kredit saja. Beberapa kredit konsumen lainnya yang kerap kita temukan dalam kehidupan sehari-hari (karena terus menerus ditawarkan) adalah kredit otomotif dan KTA (kredit tanpa agunan, yang sudah pernah saya bahas dalam artikel lama di blog ini). Gencarnya pemberian kredit konsumen juga terjadi dalam tipe kredit ini. Kredit otomotif misalnya, hanya dengan bermodalkan beberapa ratus ribu, seseorang sudah bisa membawa pulang sebuah motor tanpa adanya seleksi kredit yang ketat. Untuk KTA pun ceritanya tidak jauh berbeda.

Dengan kondisi ekonomi saat ini, dimana dunia usaha ‘lesu’ dan maraknya PHK, di tahun 2009 ini kemungkinan besar sektor perbankan akan mengalami lonjakan kredit macet, terutama dalam kredit konsumen. Selama ini, kredit macet tidak terlalu ‘ketara‘ karena pertumbuhan kredit juga besar. Tetapi dengan kondisi ekonomi saat ini, mungkin akan semakin banyak ‘borok‘ yang terkuak di sektor perbankan dan finansial seperti yang kita lihat  akhir-akhir ini.

—–oOo—–

Di akhir bagian pertama artikel seri ini, saya pikir ada baiknya saya mengingatkan sekali lagi kepada teman-teman pembaca tentang pentingnya mengontrol pemakaian kartu kredit. Ingatlah sekali lagi bahwa kartu kredit merupakan unsecured debt (tanpa agunan) sehingga bunganya sangat tinggi. Lunasi seluruh tagihan kartu kredit kita setiap bulannya dan hindari kebiasaan hanya membayar jumlah pembayaran minimum.

18 Comments

Filed under Saya suka cerita Ekonomi

18 responses to “Meneropong 2009: Ancaman Kredit Konsumen

  1. Oscar BU

    Tulisan pertama mas edi di 2009, selamat yach !
    Udah saya tggu sejak 1 januari 2009🙂

  2. aditya30k

    Wah saya ga tau harus seneng ato jadi sedih baca artikel ini.

    Saya baru saja mengajukan pembuatan kartu kredit pertama saya. Apa saya harus seneng menjadi bagian dari pengguna kartu kredit di Indonesia? Apa saya harus sedih karena dpat peringatan melalui artikel ini.

    Semoga saya bisa disiplin melunasi tagihan kartu kredit saya setiap bulan nanti (klo pengajuan disetujui pihak Bank)

  3. jangan sampai Indonesia seperti Korea. Memang sih mudahnya mendapat kartu kredit bisa membawa perbankan Indonesia ke arah yang lebih buruk. Jadi kita harus mengontrol diri kita sendiri. Say no to second and third credit card.

  4. suwandi

    Saya cenderung berpikir pola komsumtif masyarakat Indonesia saat ini sudah makin mengkhawatirkan. Melihat mudahnya pemberian kredit, plus bunga tinggi plus transfer balance kalau tidak mampu bayar, mendorong tiap orang punya lebih dari SATU kartu kredit. Saya teringat cerita teman saya, bahwa staf-nya yang gajinya hanya 2-3 juta bisa punya kartu kredit 5 BUAH. bisa terbayang sih krisis di depan mata. Saya prediksi akibat pola ini, dalam waktu dekat bisa terjadi.

  5. toto_lutu

    Selain mudahnya pengajuan aplikasi kartu kredit, jangan lupa juga dengan makin ‘digalakkannya’ penawaran produk-produk lain yg pembayarannya menggunakan kartu kredit. Dari produk asuransi, belanja yg bonus asuransi, kredit melalui kartu kredit dengan limit yg lebih tinggi dan lain-lain. Penawaran ini biasanya dilakukan melalui telemarketing.

    2 minggu yg lalu saja saya ditawari 3 kali dan lucunya ada penawaran untuk produk yg sama. Sudah masuk lubang hutang, dikasih pacul lagi untuk menggali lebih dalam..

  6. buat mas edison..slamat ya, saya juga udah nunggu tulisannya…
    dilihat dari pemberian kredit, bank kayknya emang lebih doyan menyalurkan kredit konsumsi dibandingkan kredit modal kerja apalagi kredit investasi..mungkin karena adanya faktor resiko kale yaa..
    mas edison tolong dijelasin ya..
    menurut mas edison ato tman-teman apa seh yang buat perbankan sulit menyalurkan kredit investasi..kita bisa masukkan faktor inflasi atau sbi g???thank bgt

  7. jebakan dalam kemudahan

  8. afaishalfahmy

    Masalah ancaman kredit macet ini telah diulas panjang lebar oleh Imam Semar melalui blog-nya ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com, menjelang akhir tahun 2008, sebelum banyak pengamat ekonomi mengulas topik tersebut.

  9. Bank-bank mustinya kan tahu resiko memberi kredit secara mudah. Tapi mengapa toh dikerjakan juga? Apakah perbandingan antara kerugian akibat resiko macet & total bunga yang diterima masih menguntungkan? Kalau perhitungan tersebut salah, dan bank-bank bangkrut, yang tertimpa susah kan se-Indonesia raya. Kalau perhitungan itu benar, yang untung bank-bank itu (saja).

  10. aditpulsa

    Bunga kredit konsumsi, terutama KPR dari bank-bank, bank konvensional maupun non konvensional, kalo dihitung2 cukup “mencekik”. Walaupun “dibungkus” dengan istilah “ongko sewa” untuk menghindari istilah bunga, tetap saja persentase interest cukup tinggi. Akibatnya? Kalo debitur tidak bisa bayar, tentu saja memicu NPL di KPR, baik bank konvensional maupun non konvensional . tinggi. Hanya saja, bank punya agunan, jadi mereka aman-aman saja.

    Sebenarnya sih, kite2 ini lagi menunggu tulisan Bro Edison tentang Sarijaya….sapa tau ade bocoran, ada ngga sekuritas lagi yg pengurusnya ngaco…

  11. san

    bung edison… kalo misalnya pengguna kartu kredit maupun kredit2 yang lain utamanya dinegara US sana, seperti yang anda sarankan…

    “Lunasi seluruh tagihan kartu kredit kita setiap bulannya dan hindari kebiasaan hanya membayar jumlah pembayaran minimum”

    akankah krisis ini terjadi?

    just a simple Q!

  12. putrie_kmps

    @ san

    Sayangnya hanya 10% pengguna kartu kredit yang membayar lunas tagihannya tiap bulan, itulah mengapa kartu kredit kian gencar mencari nasabah baru, agar bunga denda yang mereka peroleh semakin banyak.

  13. ini memang risiko bila sektor konsumsi menjadi lokomotif ekonomi sebuah negara. lambatnya sektor riil yang produktif, memicu berubahnya “arah angin” perekonomian.
    Mulailah dengan cerdas menggunakan fasilitas-fasilitas kredit konsumtif.
    Saya sudah menulis sebuah buku tentang hal itu
    “BERANI UTANG PASTI UNTUNG !”
    Ada strategi mengubah utang konsumtif menjadi utang produktif.
    Bukan promosi lho…
    i like this blog…
    salam sempurna ! Terimakasih !

  14. geisha

    saya malah ga punya 1 pun kartu kredit .. hiks .. cumen ada 1 kartu debit bca T___T’ ndeso banget ya … hikz …

  15. Dear all,

    Mau nimbrung aja. Saya kebetulan lagi bikin penelitian tentang problematika seputar kredit (konsumsi) macet, seperti kartukredit, KPR, mobil, motor, perangkat elektronik dll.
    Kalo ada temen-temen yang punya pengalaman seputar itu, pls email ke: mounir_1208@yahoo.com. Thanks for share ya.

    ttd
    mounir

  16. San

    Pembeberan stimulus plan Timothy Geithner lom dibahas bung Edi? Mumpung masih angetan. Mungkin sama angetnya dengan SR 001.

  17. didiek

    Gua punya kl. 9 kartu kredit, dan sebagian besar darinya sudah menunggak jalan 4 bulan, kalo ditotal nilainya hampir 100 juti. Asal mental baja saja untuk menghadapi perang urat syaraf dengan pihak bank dan agencynya, apalagi lagi krisis kayak gini. Emang dana KTA dan kartu kredit asal aslinya dari mana? memang punya negara? aah, nggal lah yao, negara kita masih banyak utang dan cukup miskin.
    Jadi, apa yg gua perbuat…? tidak akan gua bayar..! laaah…bayarnya darimana, usaha lagi sangat sepi. Biarin ajaa…deh!

  18. problematika kartu kredit sangat banyak sekali, bijaklah selalu untuk memakai/menggunakannya. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. Saya lebih setuju kalau kartu kredit digunakan sebagai alat pembayaran, bukan kartu hutang ataupun tambahan penghasilan. karena kemudahan yang ditawarkan banyak dan banyak fasilitas discount yang bisa dinikmati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s